About Me

Malikhah; seorang ibu rumah tangga yang juga ASN dan aktif mengajar di SMPN 1 Singorojo. Lahir pada tanggal 28 Oktober 1991, dengan semangat sumpah pemuda semangat menulis untuk meninggalkan jejak digital yang bisa bermanfaat untuk semua.

Wanita Dua Ribu Malam



 Oleh, Cha

Inilah wanita dari dua ribu malam
Wanita yang terlahir dari seperempat kandungan ibu
Wanita yang hidup dalam dua puluh tiga malam
Hingga lima belas hari ia tinggalkan
Sekedar tuk memunguti sisa-sisa waktu nya ...
Dua ribu malam ...
        Usai beranjak dari tangga kehidupannya ..
        Wanita itu pun masih saja sibuk dengan angka-angka yang ia hitung
        Entah menghabiskan berapa jari ..
        Tak ada yang mengetahui ..
Dua ribu malam yang sesaat lagi harus berganti...
Berhenti pada bait pertama nada ke dua
Itulah tangga nada yang ia jadikan pijakan selanjutnya
        Dan malam itu pun habis
        Tergerus oleh mentari yang tengah menampakkan sinarnya
Dua ribu malam pun terlewati
Dengan sisa-sisa onggokan sampah ..
Sampah angka yang tertulis pada sebuah nama
“Dirimu”

*Dhuha*


#Cha
Sujud ku berada diantara kepingan terik matahari
Kemudian, berjalan enam puluh empat bujur timur
Meninggalkan singgasana pagi
Sekedar tuk memperkuat sujud ku
            Sujud ku dikemiringan enam puluh empat derajat
            Tat kala orang-orang sibuk menghitung kemiringannya
Sujud ku yang tak pernah melewati sebuah nama “tunda”
Menjadikan mentari enggan berpamitan kepada rembulan
Menjadikan mentari berkomentar pada langit
Tuk terus menjaga waktu itu ...
*DHUHA*

Bintang


oleh, Icha
Bintang, kau tau semua tentangku. Kau tau alur dan naskah cerita hidupku. Bahkan kau lebih tau akan perjalanan hidupku. Kini kau hanya diam melihatku suram, melihat cakrawala yang semakin enggan tuk digenggam.
Bulan, memang kau tak pernah tau tentangku, tentang langkahku bersamanya. Tentang cerita indahnya dunia, saat bersamanya. Bahkan kau tak pernah tau tentang semua duka lara ini. Kini kau pun hanya tersenyum melihat seluruh raga ini berlumur dosa..
Tak pedulikah engkau akan hari kelak? Hari yang akan menghantui, menghantui bagi orang-orang yang tak pernah peduli. Inikah akhir sebuah hikayat penembus batas? Tak menyesalkah kalian jika hanya terdiam? Tak urungkah kalian membabi buta dengan segala lara? Mungkinkah ini pertanda perpisahan kita?
Perpisahan tentang sebuah cerita yang tak tertata, perpisahan dengan orang yang dicinta? Benarkah demikian?
Akupun menyadari, semua kan abadi, meski hanya mimpi, namun hati ini selalu mengamini, cintaku selalu abadi untuk-Mu, Tuhan-ku ...

Pendidikan Agama Islam Untuk Moral Bangsa



Pendidikan menjadi salah satu tonggak kemajuan suatu bangsa. Patut diamini pendapat Socrates yang menyatakan bahwa tujuan paling mendasar dari pendidikan adalah untuk membuat seseorang menjadi good and smart. Dalam sejarah Islam, Rasulullah Muhammad SAW, Sang Nabi terakhir dalam ajaran Islam juga menegaskan bahwa misi utamanya dalam mendidik manusia adalah untuk mengupayakan pembentukan karakter yang baik (good caracter).[1]
Peran pendidikan tentu menjadi sangat urgen, sehingga patut dikembangkan dengan baik. Dalam upayanya membentuk seseorang menjadi good and smart, pendidikan juga tidak terlepas dari adanya suatu keyakinan. Keyakinan ini, tentu saja sebuah agama. Yak, pendidikan dan agama menjadi satu pasangan yang tentu saling melengkapi. Pendidikan yang dilakukan, tidak hanya transfer of knowledge, namun juga transfer of value. Transfer of value atau transfer nilai ini sangat erat kaitannya dengan agama seseorang. Pendidikan dalam hal ini, patut melihat aspek nilai-nilai yang menjadi pijakan seseorang. Sehingga, pendidikan yang dilaksanakan tent tidak akan menyalahi aturan agama masing-masing. Lebih khusus lagi, pendidikan agama Islam menjadi frame sebagai tonggak yang mampu merubah moral bangsa menjadi lebih baik.
Di pagi yang tengah ranum, awak media selalu memberitakan beragam persoalan bangsa entah korupsi atau tindak kriminal lainnya. Seperti yang diberitakan oleh Kompas TV, 2 Juni 2013 tentang kasus pembobolan kartu kredit. Oknum-oknum yang melakukan pembobolan kartu kredit ini ternyata sudah berjejaring dengan sindikat pembobol ATM di luar negeri. Ini menjadi sebuah keprihatinan bersama, anak bangsa yang harusnya menggunakan cara-cara santun dalam mencari nafkah, justru menggunakan cara yang tentu dilarang oleh agama dan negara. Belum lagi kasus korupsi yang melilit elit politik. Misalnya salah satu kasus korupsi yang dilakukan oleh petinggi PKS (Partai Keadilan Sosial) Lutvi Hasan dan Ahmad Fatonah. Barangkali berjuta-juta pejabat lain yang melakukan hal serupa, hanya saja belum disorot dan dibobol kasusnya oleh KPK. Kasus diatas menunjukkan bahwa orang dengan pendidikan tinggi pun masih melakukan hal-hal yang menyimpang, tentu ini mengindikasikan bahwa pendidikan di Indonesia ini sedang sakit kronis.
Petinggi negara yang harusnya menjadi cerminan bagi masyarakat Indonesia, justru menunjukkan tindakan yang sangat merugikan bangsa Indonesia. Angka kemiskinan yang saat ini belum tuntas, ini tentu akibat ulah elit politik yang hanya memperkaya diri sendiri dengan korupsi, imbasnya permasalahan kemiskinan tidak terselesaikan. 

                                                                                  Oleh, Malikhah


[1] Abdul Majid, Pendidikan Karakter Perspektif Islam, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2012), hlm. 30

Pendidikan Prenatal, Kendali Ledakan Penduduk



Oleh, Malikhah*
Menjadi keluarga bahagia dan sejahtera tentu menjadi dambaan setiap keluarga Indonesia. Bahagia dan sejahtera akan memberikan dampak bagi kualitas sebuah keluarga. Salah satu faktor yang menjadi penting untuk dilakukan dalam menciptakan keluarga berkualitas tentu adanya perencanaan dalam berkeluarga. Pendidikan prenatal menjadi salah satu strategi yang penting untuk disosialisasikan untuk masyarakat.
Tiga konsep besar dalam pendidikan prenatal perlu dipahami dan dilakukan. Konsep pendidikan prenatal meliputi pra pernikahan, menikah, kehamilan. Lebih spesifikasi lagi, pendidikan prenatal menekankan dalam pemilihan jodoh, menikah, perencanaan kehamilan, serta paska melahirkan. Esensinya, sebuah pernikahan tidak hanya berbicara tentang seks atau perubahan status sosial saja. Lebih dari itu, penciptaan keluarga kecil bahagia sejahtera sangat penting untuk diperhatikan.
Pemilihan jodoh menjadi gerbang awal dalam pendidikan prenatal. Dalam pemilihan jodoh, orang Jawa sering mempertimbangkan unsur “Bibit, Bobot, Bebet”. Meski ketiga point tersebut patut diperhitungkan, namun bukan berarti semua harus mutlak. Keputusan untuk menentukan pasangan tentu ada dalam diri kita. Bibit, bebet, bobot hanya sebagai bahan pertimbangan dan gerbang awal untuk merencanakan keluarga berkualitas.
Paska pemilihan jodoh, tentu saja pernikahan menjadi satu ritual sakral untuk meresmikan pasangan pengantin. Pada hakekatnya dalam pernikahan menginginkan keturunan yang berkualitas pula. Nah, kehamilan menjadi satu langkah awal untuk mendidik seorang anak dalam kandungan. Seorang ibu hamil membutuhkan asupan gizi yang cukup, agar janin yang dikandungnya tumbuh sehat. Semakin suburnya angka kematian ibu (AKI), menunjukkan bahwa kesehatan ibu hamil sangat minim diperhatikan. Perlu sosialisasi tentang pentingnya kesehatan ibu hamil untuk mengurangi AKI. Selain itu, perencanaan kehamilan juga patut disosialisasikan untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk. Selama ini, banyak masyarakat yang tidak paham tentang perencanaan kehamilan, imbasnya mereka jarak antara hamil pertama dan kedua hanya berselang dalam beberapa bulan saja. Jika ini dibiarkan, tentu akan menyuburkan pertumbuhan penduduk.
Lebih dari itu, pendidikan prenatal semestinya bukan hanya menjadi kebutuhan ibu hamil semata, sebab meliputi pemilihan jodoh pra nikah pula. Pelajar maupun mahasiswa patut mendapatkan pemahaman tentang pendidikan prenatal. Pendidikan prenatal mampu menjadi alat pengendali adanya ledakan penduduk. Sehingga dengan pemahaman sejak dini, seorang remaja dapat merencanakan masa depan untuk keluarganya kelak.


                                                                                                         *Pimpinan Umum LPM Edukasi

Pendidikan Prenatal, Ciptakan Keluarga Berkualitas


Oleh, Malikhah
Menjadi keluarga bahagia dan sejahtera tentu menjadi dambaan setiap keluarga Indonesia. Bahagia dan sejahtera akan memberikan dampak bagi kualitas sebuah keluarga. Salah satu faktor penting untuk dilakukan dalam menciptakan keluarga berkualitas tentu adanya perencanaan dalam berkeluarga. Pendidikan prenatal menjadi salah satu strategi yang penting untuk disosialisasikan untuk masyarakat.
Ada tiga konsep besar dalam pendidikan prenatal. Konsep pendidikan prenatal meliputi pra pernikahan, menikah, kehamilan. Lebih spesifikasi, pendidikan prenatal menekankan dalam pemilihan jodoh, menikah, perencanaan kehamilan, serta paska melahirkan. Esensinya, sebuah pernikahan tidak hanya berkutat tentang seks atau perubahan status sosial saja. Lebih dari itu, hubungan antar dua keluarga juga menjadi sangat penting untuk diperhatikan.
Pemilihan jodoh menjadi gerbang awal dalam pendidikan prenatal. Dalam pemilihan jodoh, orang Jawa sering menyebut “Bibit, Bobot, Bebet” dalam pemilihan jodoh. Pertama, Bibit merupakan berkaitan dengan pemilihan pasangan dengan memperhatikan latar belakang keluarganya. Tentu, memilih pasangan dari keluarga baik-baik menjadi penting untuk dipertimbangkan. Kedua, bobot dalam hal ini dipahami sebagai kualitas pendidikan seseorang. Pasalnya, pendidikan seseorang sangat berpengaruh terhadap kepribadian seseorang. Sehingga, dengan kualitas pendidikan seseorang juga akan berimbas dengan kualitas keluarga seseorang. Ketiga, bebet berkaitan dengan human relation. Kita juga perlu tahu tentang keadaan pasangan dalam hubungannya dengan masyarakat. Pasangan yang baik, tentu saja memiliki citra yang baik pula di masyarakat. Meski ketiga point tersebut patut diperhitungkan, namun bukan berarti semua harus mutlak. Keputusan tentu dalam diri kita, bibit, bebet, bobot hanya sebagai bahan pertimbangan untuk merencanakan keluarga berkualitas.
Paska pemilihan jodoh, tentu saja pernikahan menjadi satu ritual sakral untuk meresmikan pasangan pengantin. Sebuah pernikahan pastinya menginginkan keturunan yang berkualitas pula. Nah, kehamilan menjadi satu langkah awal untuk memdidik seorang anak dalam kandungan. Seorang ibu hamil membutuhkan asupan gizi yang cukup, agar janin yang dikandungnya tumbuh sehat. Perlunya sosialisasi tentang pentingnya kesehatan ibu hamil menjadikan satu kebutuhan tersendiri. Pasalnya, melihat semakin suburnya angka kematian ibu (AKI), menunjukkan bahwa kesehatan ibu hamil sangat minim diperhatikan. Perencanaan kehamilan juga patut disosialisasikan untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk. Selama ini, banyak masyarakat yang tidak paham tentang perencanaan kehamilan, imbasnya mereka jarak antara hamil pertama dan kedua hanya berselang dalam beberapa bulan saja. Jika ini dibiarkan, tentu akan menyuburkan pertumbuhan penduduk. Lebih dari itu, pendidikan prenatal semestinya bukan hanya menjadi kebutuhan ibu hamil semata, sebab meliputi pemilihan jodoh pra nikah.Pelajar maupun mahasiswa patut mendapatkan pemahaman tentang pendidikan preatal. Sehingga dengan pemahaman sejak dini, seorang remaja dapat merencanakan masa depan untuk keluarganya kelak.

Pemuda Indonesia, Pemersatu Bangsa



Oleh, Malikhah*
28 Oktober 2014 kelak, bangsa Indonesia memperingati 86 tahun peringatan hari Sumpah Pemuda. Semangat pemuda menjadi aspek penting dalam peringatan hari bersejarah ini. Sumpah Pemuda merupakan hasil rumusan pemuda Indonesia pada Kongres Pemuda II yang dilaksanakan pada 27-28 Oktober 1928 oleh Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia di gedung Oost Java Bioscoop. Pastinya momentum ini memiliki harapan besar bagi pemuda saat itu.
Dalam kongres Pemuda yang kedua inilah dilantangkan sumpah oleh pemuda saat itu sekaligus diperdengarkannya lagu Indonesia Raya untuk pertama kalinya. Hingga dilantangkan pula Sumpah oleh para pemuda. “Pertama, Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. Kedua, Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Ketiga, Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.” Sumpah pemuda yang terdiri dari tiga butir tersebut memiliki makna yang mampu membakar semangat pemuda. Semangat persatuan yang termaktub dalam satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. 
Sejarah yang terukir dalam momentum Sumpah Pemuda, harusnya melekat hingga hari ini. Tentu saja, sejarah yang telah terukir tidak semata-mata diadakan lantas dihilangkan. Pemuda Indonesia memiliki tugas mengemban amanat yang telah terlantangkan dalam sumpah pemuda tersebut.
Satu tanah air, dengan beraneka ragam suku, budaya, agama menjadikan Indonesia kaya akan keberagaman. Bukankan kekayaan inilah yang patut untuk kita banggakan, tidak hanya itu, dengan adanya kekayaan bangsa Indonesia mampu menjadikan Indonesia menjadi bangsa yang besar. Memang idealnya yang demikian, keberagaman menjadi kekayaan alamiah yang masih jarang ditemukan. Sayangnya, keberagaman inilah yang terkadang menjadi cambuk bagi bangsa Indonesia sendiri. Masih terekam jelas dibenak kita, konflik Syiah dan Sunni yang terjadi di Sampang Madura. Meskipun dalam satu tubuh “Indonesia”, namun kejadian tersebut tidak mencerminkan sikap saling menghargai, toleransi, dan menjaga kerukunan.
Selain masalah perselisihan, kasus korupsi yang tengah melilit pejabat negeri ini juga menunjukkan pencideraan terhadap bangsa Indonesia. Mereka yang korupsi adalah mereka yang dahulunya seorang pemuda yang tentu saja paham akan sumpah yang dilatangkannya. Sayangnya, mereka lupa akan jiwa kepemudaannya, imbasnya sumpah pemuda yang dahulu mereka lantangkan hanya angin lalu semata.
Jika ditelisik, pemuda Indonesia saat ini tengah mengalami degradasi dalam hal perilaku. Betapa tidak, tawuran antar pelajar menjadi pemberitaan yang ramai dibicarakkan. Selain itu, banyak kasus penyalahgunaan narkoba yang melibatkan para pemuda, seperti yang dilaporkan oleh pihak Badan Narkotika Nasional bahwa terdapat 50 orang dari 4,7 juta pecandu narkoba di negeri ini meninggal setiap hari (Merdeka.com, 05/09). Ini mengindikasikan bahwa ketergantungan terhadap narkoba masih sangat tinggi di masyarakat Indonesia. Didalam elemen masyarakat Indonesia inilah terdapat elemen pemuda yang harusnya memiliki peranan penting dalam membumihanguskan obat terlarang ini. Namun, yang terjadi justru berbanding terbalik dengan yang diharapkan.
Pada point ketiga mempertegas tentang bahasa yakni bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu. Memang patut kita apresiasi dengan adanya bahasa pemersatu yakni bahasa Indonesia, namun sangat disayangkan jika bahasa pemersatu kita terkikis oleh perkembangan zaman. Kata-kata alay, menjadi sahabat dekat ditelinga kita. Jika dibiarkan, kata-kata yang demikian, mampu menggerus makna penting dari adanya bahasa pemersatu ini.
Sumpah Pemuda bukan kutipan teks yang hanya menghiasi kertas dan terpampang hanya untuk dibaca. Sumpah pemuda memiliki nilai sakral sebagai alat pemersatu bangsa, dan patut untuk dijunjung tinggi keberadaanya sekaligus diimplementasikan. Peringatan sumpah pemuda nantinya sebagai satu moment untuk merefleksikan kembali makna Sumpah Pemuda. Menjaga persatuan, kerukunan, dan keharmonisan bangsa ini merupakan salah satu langkah kecil bagi pemuda untuk menjaga sekaligus menghargai sejarah bangsa Indonesia.



                                                                        *Pimpinan Umum LPM EDUKASI

Sepak Terjang Kurikulum di Indonesia



 Kurikulum 2013 atau sering dikenal dengan nama kurikulum pendidikan karakter ini sebenarnya masih menuai banyak kontroversi. Problem yang terjadi antara lain adanya mata pelajaran (mapel) yang dipangkas dan diintegrasikan kedalam mapel tertentu. Hal ini tentu menjadi problem tersendiri terutama bagi guru sebagai pendidik. Banyak pihak yang pro terhadap perubahan kurikulum ini, namun hal ini berbanding lurus dengan pihak yang kontra terhadap kurikulum 2013.
Salah satu perbincangan menarik yakni tentang adanya pengintegrasian mata pelajaran IPA dan IPS dalam mata pelajaran bahasa Indonesia. Padahal, orientasi dan aspek-aspek yang dipelajari kedua mata pelajaran tersebut jelas berbeda. Jika harus dipaksa untuk dipadukan, pemahaman siswa terhadap mapel tersebut akan samar-samar.
Cukup Penyempurnaan Kurikulum
Ketika kita melihat sejarah perubahan kurikulum di Indonesia, sering identik dengan label ‘ganti mentri, ganti kurikulum’. Disadari atau tidak, memang pendidikan di Indonesia sangat dipengaruhi oleh kekuatan penguasa. Dalam hal ini Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menjadi salah satu pionir penting adanya perubahan kurikulum. Diakhir pemerintahan M. Nuh, Kemendikbud mewacanakan untuk mengganti kurikulum KTSP dengan kurikulum 2013. Kurikulum ini memang sudah menjadi bahasan pejabat senayan sejak lama. Hal itu ditunjukkan dengan adanya tindakan uji publik terhadap kurikulum yang akan dilaksanakan ini. Diantara kurikulum-kurikulum yang sudah ada, baru kali ini pemerintah melakukan uji publik kurikulum.
Sejarah perubahan kurikulum di Indonesia sangat panjang. Kurikulum di Indonesia telah berganti sejak jaman kemerdekaan. Kurikulum pertama bernama Rencana Pelajaran 1947, namun karena adanya gejolak perpolitikan dan juga perang revolusi saat itu, maka kurikulum ini diterapkan sejak tahun 1950. Jadi sering disebut dengan kurikulum 1950. Kemudian diakhir masa bhakti Soekarno sebagai presiden, munculah kurikulum baru, yakni kurikulum 1964.  Di tahun 1975 kurikulum berubah lagi menjadi kurikulum 1975, dan pada tahun 1984 kurikulum berubah menjadi kurikulum 1984. Pada tahun 1994 kurikulum baru digagas kembali oleh pemerintah dengan tujuan untuk memadukan kurikulum sebelum-sebelumnya. Setelah itu, kurikulum selanjutnya yakni kurikulum 1999. Pada tahun 2004, kurikulum dirubah kembali menjadi Kurikulum Berbasis Kompetensi atau yang sering dikenal dengan KBK. Hingga di tahun 2006 kurikulum dirubah lagi menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Sejarah perubahan kurikulum yang begitu banyaknya pada dasarnya menuju satu titik tujuan pendidikan, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Melalui pendidikan inilah sebuah bangsa mampu meningkatkan kualitas dari penduduk Indonesia. Dan kurikulum menjadi salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan pendidikan. Kurikulum menjadi alat yang dapat digunakan untuk mencapai sebuah tujuan pendidikan.
KTSP, kurikulum yang tengah dijalankan ini pada dasarnya belum mencapai sebuah kemapanan dalam mencapai tujuan pendidikan di Indonesia. Jelas, dalam UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 pasal 3 dijelaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar manusia menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Ketika alat yang digunakan untuk mencapai sebuah tujuan belumlah matang dan mapan sudah harus diganti dengan alat yang lain, maka tujuan yang akan dicapai akan kurang maksimal. Untuk mendapatkan manusia yang berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan sebagainya tidaklah mudah. Membutuhkan konsistensi dalam mencapainya, sehingga pendidikan yang ada haruslah pendidikan yang saling berkesinambungan. KTSP sebagai kurikulum yang dicanangkan sejak tahun 2006, perlu adanya evaluasi untuk memperbaiki pendidikan yang ada di Indonesia. Ketika KTSP harus diganti, tentunya konsep yang diberikan harus dimulai dari awal. Padahal, masih banyak kalangan yang belum paham akan konsep KTSP yang sebenarnya. Alangkah bijaknya ketika KTSP dikupas tuntas dan diperbaiki segala kekurangannya, maka kurikulum KTSP tidak perlu diganti, cukup penyempurnaan kurikulm KTSP.

Mengukir Kasih Sayang Ayah



Ayah .. ingin ku sandarkan bahu ini padamu
Ayah .. ingin ku caritakan keluh kesah ku padamu
Ayah .. tak ada yang mampu menggantikanmu sebagai sosok yang ku kagumi
Ayah .. perjuanganmmu .. amat berarti untukku
Ayah .. semangatmu untuk kami begitu berharga
Tak kan pernah ada kata “ terganti “ buat mu
Kasih sayangmu... jauh lebih bernilai dari apa yang telah kami berikan padamu
Ingin ku sapa wajahmu yang elok tiap pagi...
Meskipun jauh.. tapi tetap kurasakan aroma kasih sayangmu pada kami...
Kami menyayangimu Ayah...


                                                                   By_Eri3@cha_cha 

Pilpres Ala Jayabaya

Menjelang pemilihan umum memang suasana semakin hari nampak semakin memanas. Para calon saling berebut mengambil hati masyarakat dengan pencitraan ala masing-masing. Ditengah-tengah memanasnya pemilu, kelompok pekerja teater (KPT) BETA menggelar pementasan bertajuk "Pilpres Ala Jayabaya".

Disutradarai oleh Sugiyanto, cerita dipoles dengan gaya renyah dan kocak. Pementasan ini mampu membius penonton dengan alur cerita yang disajikan. Menceritakan tentang ambisi ketiga bersaudara yakni Bagong, Petruk, dan Gareng yang menjadi putra dari Semar.

Petruk, Gareng, dan Bagong ini diberi pusaka oleh ayahandanya Semar. Semar pun berbagi cerita tentang ramalan Jayabaya yang meramalkan akan pemimpin negeri ini. "Noto Nagara", begitulah ucap Semar pada anak-anaknya. Na adalah Sukarno sebagai presiden RI, Ta adalah Soeharto, dan Na adalah Susilo Bambang Yudhayana. "Saiki jatahe pemimpin sek ndueni jengeng Ga seng bakal mimpin", ungkap Semar.

Mendengar celotehan Semar itu, Gareng dan Bagong merasa diri merekalah yang pantas untuk menjadi presiden. Sebab nama mereka mengandung kata ga. Bagong pun dengan semangat mendatangi dukun untuk meminta pertolongan demi suksesnya pencalonannya.

Antara Bagong dan Gareng saling berebut kekuatan karena merasa dirinya yang paling pantas menjadi presiden. Pertarungan saudara pun tak dapat dihindari, dengan segala kekuatan masing-masing mereka bertarung karena telah dibutakan dengan setan yang bernama "Kekuasaan".

Banyak hikmah yang dapat diambil dari cerita ini. Pertama, kekuasaan bukanlah harga mati, jangan sampai kita dibutakan oleh kekuasaan, apalagi hingga mengorbankan saudara sendiri. Kedua, berhati-hati dengan pencitraan para calon, sebab baik di luar belum tentu baik didalam. Ketiga, memanasnya prosesi jelang pemilu jangan sampai membuat perpecahan akibat adanya provokasi yang tidak penting.

Caleg atau Hantu Penunggu Pohon?

Hantu penunggu pohon sudah tidak asing di telinga kita. Kesan mistis dan horor nampak di pepohonan yang berdiri kokoh, baik di pinggir jalan maupun di hutan.

Akhir-akhir ini, kesan horor semakin bertambah horor. Betapa tidak, menjelang pemilihan umum legislatif (pileg) banyak para calon legislatif (caleg) yang nampang di berbagai pohon. Termasuk pohon-pohon berukuran besar, menjadi lahan empuk untuk memajang wajah para calon.

Imbasnya, banyak pepohonan yang rusak, mengganggu keindahan. Menggunakan media untuk berkampanye dengan baik dan benar harus dilakukan para calon wakil rakyat. Ada media cetak, media online yang bisa dimanfaatkan sebagai ajang kampanye, sehingga tidak merusak lingkungan. Jangan sampai hantu penunggu pohon berganti menjadi caleg Penunggu Pohon.

Oleh:: Malikhah/ Pimpinan Umum LPM Edukasi IAIN Walisongo Semarang

Jeli Identifikasi Calon Pemimpin

Keputusan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dalam mengusung Joko Widodo alias Jokowi sebagai calon presiden (capres) menjadi salah satu gebrakan ampuh dalam dunia perpolitikan. Momentum lima tahunan ini memang dimanfaatkan betul oleh seluruh partai politik (parpol) untuk mendapatkan kursi kekuasaan. Disinilah terlihat geliat partai PDIP yang tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Betapa tidak, Jokowi yang merupakan salah satu tokoh yang memiliki elektabilitas tinggi diusung menjadi capres meski tengah menjabat gubernur DKI Jakarta. Masyarakat tidak akan asing dengan sosok calon presiden gemar blusukan ini. Dekatnya Jokowi dengan masyarakat, membuat pamornya melejit dengan sangat cepat.

Lembaga survey Indikator Politik pimpinan Burhanuddin Muhtadi seputar elektabilitas calon presiden (capres) pada Februari 2014, telah menunjukkan bahwa Jokowi masih menjadi capres paling potensial saat ini. Pada saat dilakukan simulasi 6 capres, elektabilitas Jokowi menembus angka 41,5%. Angka ini jelas telah menggeser nama-nama capres yang diusung oleh partai lain.

Pencalonan Jokowi untuk menjadi calon presiden, juga membuat banyak calon dari berbagai partai berlomba-lomba meminang Jokowi untuk berduet dalam pencapresan ini. Elektabilitas Jokowi yang melejit, tentu saja menjadi senjata ampuh untuk memenangkan pilpres ke depan. Partai lain memang harus siap untuk pasang kekuatan yang ampuh melawan pencalonan Jokowi. Ada tiga pilihan bagi partai-partai lain melihat geliat pencapresan Jokowi, yakni merapat kepada Jokowi atau melawan pencalonan Jokowi, atau bahkan tidak maju sama sekali dalam pencapresan. Karena sudah jelas, Jokowi memiliki potensi besar memenangkan pilpres ini, terlepas dari segala kritik dan kekurangan dalam kepemimpinan Jokowi. Meskipun demikian, bukan berarti partai lain akan mundur begitu saja, meski elektabilitas Jokowi sangat tinggi. Pasti, masih banyak partai yang memiliki keberanian untuk tetap mengusung calon presiden dari partai masing-masing.

Pemimpin Primadona

Saat ini masyarakat tengah terbius oleh kharisma seorang Jokowi. Jokowi menjadi salah satu tokoh pemimpin yang menjadi primadona masyarakat. Pencitraan yang dilakukan Jokowi diberbagai media mampu membuat masyarakat jatuh hati pada sosok gubernur DKI Jakarta ini. Gaya blusukan yang khas, cara berkomunikasi yang dekat dengan masyarakat membuat masyarakat mendambakan sosok pemimpin yang demikian.

Boleh saja masyarakat sangat mengelu-elukan sosok pemimpin seperti Jokowi. Padahal, jika kita telisik lebih dalam, Jokowi tak ubahnya pemimpin yang gila jabatan. Betapa tidak, jabatan walikota yang harusnya diemban hingga usai, dia tanggalkan untuk beranjak mencalonkan diri menjadi gubernur DKI Jakarta. Pasca menjadi orang nomor satu di Jakarta, Jokowi kembali berhasrat untuk maju menjadi pemimpin Republik Indonesia. Belum kelar menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta, Jokowi kembali lagi akan bertarung dalam pencapresan 2014 ini.

David Easton, dalam buku “April Carter” Otoritas dan Demokrasi merumuskan konsep diffuse support untuk menunjukkan dukungan yang didasarkan atas kepercayaan terhadap penguasa. Dukungan seperti ini memainkan peranan penting karena merupakan modal bagi penguasa untuk memperkuat kedudukannya pada saat timbulnya banyak kritik dan penentangan terhadap penguasa. Meskipun banyak menuai kritik tajam terhadap kepemimpinan Jokowi tetap mampu menjadi calon unggulan yang diidolakan masyarakat.

Kenyataannya, memang sulit untuk mengidentifikasi calon pemimpin lancung dan pemimpin yang benar-benar baik. Dalam pertarungan Pemilu 2014 ini, calon pemimpin berlomba-lomba meraih kursi kekuasaan dengan pencitraan yang serba baik. Sehingga, masyarakat akan kesulitan membedakan calon pemimpin-pemimpin lancung, busuk dan baik. Mereka mengumbar janji yang tidak pasti, menebar pesona yang membius setiap manusia yang melihatnya.

Masyarakat harus lebih jeli dalam mengidentifikasi calon-calon pemimpin. Jokowi sebagai figur pemimpin yang menjadi primadona saat ini, juga memiliki sisi kekurangan yang patut dipertimbangkan untuk dipilih menjadi pemimpin.

Oleh, Malikhah (Pimpinan Umum LPM Edukasi) IAIN Walisongo Semarang

Kedukaan Dunia Pendidikan


Dunia pendidikan kembali berduka. Meninggalnya Ade Sara pada Rabu (05/03) menyisakan duka mendalam. Korban yang notabene mahasiswi ini harus meregang nyawa
di tangan kawannya sendiri. Gambaran peristiwa pembunuhan sadis ini menjadi tamparan tajam bagi dunia pendidikan.

Betapa tidak, pelaku pembunuhan merupakan mahasiswa yang masih mengenyam dunia pendidikan. Moral dan juga akhlak sebagai seorang peserta didik telah ditanggalkan oleh para tersangka. Imbasnya, tanpa rasa belas kasih mereka menganiaya Ade hingga meninggal.

Turut Berduka

Degradasi moral saat ini memang menjadi keprihatinan bangsa Indonesia. Ditengah-tengah menjamurnya kasus korupsi oleh para pejabat negara, mencuat ulah remaja dalam kasus pembunuhan sadis terhadap Ade Sara ini. Pelakunya sama-sama dari orang-orang yang terdidik. Kedukaan dunia pendidikan semakin bertambah dengan banyaknya penyalahgunaan narkoba oleh remaja. Nasib bangsa semakin suram dengan kondisi remaja yang sering melakukan tindakan menyimpang. Banyak faktor yang melatarbelakangi perilaku negatif ini.

Pertama, lingkungan keluarga sebagai tempat proses pendidikan pertama sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak. Oleh sebab itu, sudah selayaknya anak diberikan kasih sayang oleh orang tua masing-masing. Anak yang terbiasa mendapatkan kekerasan dari orang tua, ia akan menjadi pribadi yang keras.

Selain itu, lingkungan pergaulan juga juga akan membentuk pribadi seorang anak. Anak yang terbiasa bergaul dengan anak-anak nakal, ia akan turut mengikuti kebiasaan teman-temannya tersebut.

Kedua, perkembangan globalisasi semakin pesat juga dapat menjadi faktor penyebab penyimpangan remaja. Ilmu pengetahuan dan tekhnologi telah mengalami perkembangan. Meskipun globalisasi menimbulkan dampak positif dan negatif, namun jika tidak dihadapi dengan kekuatan iman dan taqwa yang teguh, maka kita akan larut dalam pengaruh negatif globalisasi.

Pendidikan tinggi menjadi salah satu jenjang pendidikan yang memiliki prestice lebih tinggi dibandingkan pendidikan jenjang SD, SMP, dan SMA. Tindakan kejam yang telah dilakukan oleh tersangka dalam menghabisi Ade Sara ini tidak mencerminkan sosok seorang mahasiswa.

Dalam proses pendidikan, tentu seorang anak senantiasa diarahkan menuju perilaku yang positif. Perilaku menyimpang yang dilakukan oleh seorang peserta didik memang tidak serta merta kesalahan proses pendidikan mereka di sekolah. Faktor lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, dan juga tempat pergaulan anak menjadi serangkaian proses yang membentuk karakter anak.

Perilaku dzalim dalam kehidupan beragama pada dasarnya disebabkan oleh ketidaksehatan mental seseorang. Dimana aspek intelektual dan emosionalnya tidak berjalan lancar secara normal karena kondisi tertentu yang mengitarinya.

Samsul Munir Amin dalam bukunya Bimbingan dan Konseling Islam mengatakan bahwa orang yang memiliki mental sehat adalah orang yang memperlihatkan kematangan emosionalnya. Selain itu, memiliki kemampuan menerima realitas, kesenangan hidup bersama orang lain, dan memiliki filsafat atau pandangan hidup pada saat ia mengalami komplikasi kehidupan sehari-hari sebagai kehidupan.

Keseimbangan antara hati dan otak menjadi sangat penting, sehingga kesehatan mental dapat terjaga dengan baik. Lingkungan pergaulan seorang anak merupakan tempat yang sangat berpengaruh bagi tumbuh kembang anak. Peranan keluarga sangat penting dalam mengawal tumbuh kembang anak. Orang tua harus paham benar dengan kondisi anak yang terutama remaja yang rentan akan kenakalan remaja.

Tindakan preventif patut dilakukan oleh keluarga untuk mengantisipasi tindakan menyimpang anak. Hal ini dapat diimplementasikan dengan adanya sharing antar anggota keluarga. Bimbingan harus senantiasa diberikan orang tua kepada anak-anaknya. Dengan pengarahan dari orang tua, potensi anak akan berkembang menjadi lebih baik dan perilaku menyimpang anak bisa segera teratasi.

Oleh:
Malikhah (Pimpinan Umum LPM Edukasi IAIN Walisongo Semarang)

 
MALIKHAH SAN © 2012 | Edited Designed by Kurungan Celotehan