About Me

Malikhah; seorang ibu rumah tangga yang juga ASN dan aktif mengajar di SMPN 1 Singorojo. Lahir pada tanggal 28 Oktober 1991, dengan semangat sumpah pemuda semangat menulis untuk meninggalkan jejak digital yang bisa bermanfaat untuk semua.

Kopi Tanpa Henti


Aku yang mengenalmu dengan seteguk kopi hangat di pelataran gubuk yang kau buat dengan sepotong senja dan mega-mega merah. Mulai mencoba menyusun baris demi baris hingga tertata rapi. Pagi itu, setelah menghabiskan malam bersamamu, aku pun mulai merasa damai dengan segelas kopi yang kita teguk bersama.
Kopi !!!
Satu menu yang selalu menyatukan kita akan indahnya hari-hari yang selalu ku nikmati. Secangkir kopi, yang selalu memberi arti akan hidup ini.
Malam itu seperti dua atau tiga hari lalu yang sama-sama kita habiskan untuk menyelami samudra Hindia. Namaku Rini, aku gadis fajar yang selalu gigih untuk menyelami setiap kehidupan. Bersama Dwi, kita habiskan waktu kita di dalamnya laut nan indah.
Namun, kali ini hanya bisa ku selami dalamnya lautan kopi mendidih yang tak sembarang orang berani berdiri. Hampir enam bulan sudah kami bersama, menata tiap butir permata. Satu dua dan tiga, sudah semakin renta, kala ku buka jendela..
Ku temukan satu bait kata indahmu, dalam indahnya mentari. Meski malamku kala itu tak dapat meraihmu. Ada jarak antara kita, meski bukan kita yang membuat. Kita satu karna niatan kita mampu menyatu,  tapi coba kau lihat bintang diatas sana.. mereka tak mau berbagi canda tawa bersama kita. Bulanpun seolah redup menatap kita.
Mimpiku denganmu tak pernah usai, terlalu sumbang tuk dibincang ...
Pertanda apa kah ini? Aku tak pernah mengerti ...

Bintang


Bintang, kau tau semua tentangku. Kau tau alur dan naskah cerita hidupku. Bahkan kau lebih tau akan perjalanan hidupku. Kini kau hanya diam melihatku suram, melihat cakrawala yang semakin enggan tuk digenggam.
Bulan, memang kau tak pernah tau tentangku, tentang langkahku bersamanya. Tentang cerita indahnya dunia, saat bersamanya. Bahkan kau tak pernah tau tentang semua duka lara ini. Kini kau pun hanya tersenyum melihat seluruh raga ini berlumur dosa..
Tak pedulikah engkau akan hari kelak? Hari yang akan menghantui, menghantui bagi orang-orang yang tak pernah peduli. Inikah akhir sebuah hikayat penembus batas? Tak menyesalkah kalian jika hanya terdiam? Tak urungkah kalian membabi buta dengan segala lara? Mungkinkah ini pertanda perpisahan kita?
Perpisahan tentang sebuah cerita yang tak tertata, perpisahan dengan orang yang dicinta? Benarkah demikian?
Akupun menyadari, semua kan abadi, meski hanya mimpi, namun hati ini selalu mengamini, cintaku selalu abadi untuk-Mu, Tuhan-ku ...

Malamku, Bersamamu


Ini malamku bersamamu, ::Sahabat::
Tak seperti  malam kemaren, ini begitu ranum
Untuk sekedar mengeja semesta, alam jagad raya
Sahabat, elok nya mentari kan menjadi saksi suci
Saksi kisah hidup kita yang begitu berarti
            Jalan penuh halang,
            Tak jua menyurutkan raga ini
            Tak jua menyurutkan semangat ini
            Tuk sekedar meraih asa
Raga ini tak pernah letih
Semangat ini tak kan pernah padam
Kita adalah panorama yan tak henti-hentinya pudar tuk sekedar dipandang
Yah, kalkulasi tahun bersamamu tak kan pernah usai termakan waktu
            Kita yang selalu dendangkan alunan puisi malam
            Kita jua yang senantiasa merajut mimpi
            Meski malam semakin sunyi nan sepi
           

                                                                                    By:: Cha-Cha

Waspada, Undang-Undang PT!!!


Oleh, Malikhah*
Otonomi perguruan merupakan wewenang yang dimiliki PT untuk mengatur segala urusan rumah tangganya sendiri dalam perguruan tinggi sesuai dengan undang-undang yang berlaku.  Dalam undang-undang PT, terdapat beberapa otonomi yang diberikan pemerintah kepada masing-masing PT. Otonomi yang diberikan antara lain Otonomi kebebasan akademik, kebebasan mimbar akademik, dan kebebasan ilmiah. Meskipun telah diberikan wewenang untuk mengatur PT, campur tangan pemerintah masih terasa sangat kental. Hal ini terlihat dalam pasal 62 yang mana otonomi yang diberikan kepada perguruan tinggi masih harus diatur dengan peraturan mentri. Hal ini menjadi sebuah otonomi bersyarat bagi masing-masing PT.
Perguruan tinggi merupakan salah satu ladang ilmu yang patut dikembangkan, karena dari perguruan tinggi inilah akan terlahir aset bangsa yang berkualitas. Oleh karena itu, PT yang menggawangi pendidikan di Indonesia haruslah mengcover beberapa aspek. Diantaranya adalah main, spirit, and Body. Artinya, dalam pendidikan harus adanya pengembangan pola pikir seseorang. Pada hakekatnya, manusia merupakan hewan yang berakal. Oleh sebab itu, mengutip kata Descartes “Cogito Ergosum”. Jadi pendidikan haruslah menjadi sebuah gerbang awal untuk menanamkan cinta terhadap ilmu pengetahuan.
Spirit. Dalam pendidikan juga harus memperhatikan aspek kejiwaan seseorang. Sehingga, seseorang tidak hanya sehat secara jasmani saja, namun juga rohaninya. Prof. Eko juga bercerita tentang pengadaan lembaga pendidikan yang begitu mudah didirikan di Indonesia tanpa memperhatikan berbagai aspek. Salah satunya aspek spirit ini. Banyak perguruan tinggi yang didirikan di rumah toko atau sering kita sebut ruko. Hal ini tentunya menjadi pertanyaan bersama, lantas bagaimana pengembangan spirit mereka, ssedang mereka tak memiliki tempat dan fasilitas yang memadai. Salah satu implementasi yang dapat dilakukan untuk membangun mahasiswa adalah adanya tempat untuk beribadah, seperti masjid. Dengan adanya masjid, dapat digunakan untuk beribadah sekaligus membangun semangat spiritual dalam diri mahasiswa.
Body. Penting kiranya memberikan fasilitas kepada anak didik untuk mengembangkan dan menjaga kebugaran fisik seseorang. Dengan adanya gedung olah raga misalnya, akan sangat bermanfaat bagi mahasiswa untuk memanfaatkannya sebagai sarana pengembangan jasmaninya.
Melihat tiga aspek tersebut, tentunya jika kita komperkan dengan undang-undang PT aka sangat penting. Adanya pendirian sebuah perguruan tinggi haruslah melalui pengujian yang benar-benar matang. Sehingga perguruan tinggi di Indonesia tidak akan kalah dengan PT asing. Pasalnya, dalam UU PT pasal 90 dijelaskan bahwasanya PT asing dapat mendirikan PT di Indonesia. Hal ini menjadi ancaman tersendiri bagi PT Indonesia, terutama perguruan tinggi swasta. Jika PT asing dapat mengibarkan bendera dengan bebas, maka banyak peserta didik yang akan memilih PT asing yang lebih bagus. Terutama para kaum elit, tentunya jika hanya memilih PT dalam negeri, akan merasa gengsi atau merasa prestisnya turun. Jelas terlihat bahwa UU PT ini menjadi ancaman bagi PT di Indonesia. Praktek kapitalisme juga akan semakin tumbuh subur di Indonesia, dan seharusnya pemerintah mengambil langkah tegas, bukannya mendukung dan memberikan ruang strategis untuk mengembangbiakkan kapitalisme.
Sesuai dengan pasal 10 dalam UU PT menyebutkan adanya beberapa rumpun ilmu yang disebutkan, antara lain rumpun ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Menurut pendapat Prof. Eko, kedua rumpun tersebut masih kurang mampu mengakomodir seluruh kebutuhan masa kini. Dilihat dari sudut pandang moral, adat istiadat, seni dan sebagainya belum tercover dalam pasal tersebut. Problem lain, pembedaan rumpun ilmu juga dapat menimbulkan kesenjangan sosial terutama bagi mahasiswa. Meskipun kebutuhannya berbeda, harusnya semua fakultas dengan rumpun ilmu yang dipelajari memberikan beban biaya utama yang sama. Meskipun nantinya ada tambahan jumlah uang yang harus dibayar dalam proses perkuliahan. Sehingga semisal, antara mahasiswa fakultas kedokteran dan ekonomi, tidak akan terjadi kesenjangan sosial akibat biaya perkuliahan yang berbeda.
Lanjut tentang persoalan pengelolaan keuangan. Tata kelola keuangan di perguruan tinggi yang menerapkan sistem satuan kerja dan Badan Layanan Umum (BLU) juga masih menuai persoalan. Prof. Eko juga menjelaskan, saat dia menjabat sebagai Rektor Undip, dia menerapkan tata kelola keuangan dengan pola konvensional. Namun, dengan pola konvensional ini dia merasakan jika untuk menerima uang sangat mudah, namun untuk mengeluarkan uang yang telah didapat sangatlah sulit. Oleh sebab itu, dia juga berharap dengan adanya pola satuan kerja dan BLU mampu menjunjung tinggi nilai-nilai akuntabilitas, transparansi dalam pengelolaanya.
            Undang-undang yang dibuat pemerintah tentunya masih jauh dari kata “sempurna”, karena tidak ada yang sempurna. Oleh karena itu sebagai insan pendidik, setidaknya kita perlu mencermati setiap kebijakan yang digulirkan pemerintah. Beri pengawalan terhadap realisasi undang-undang yang telah diketok palu 13 Juli 2012 lalu. 


*Direktur Srikandi
“Wawancara bersama Prof. Eko Budiharjo”

JINGGA



Surat itu bertuliskan “....”
          Sudahlah, aku tengah melupakan 3 tahun bersamamu, ::Sahabat::
Sepucuk surat yang kau kirimkan lewat mega-mega nan indah kala itu, tak membuat rasa ku luruh denganmu. Kau antar surat itu kala senja tengah berpamitan dengan sang fajar yang tengah ranum ...
          Ku buka tiap helai tulisan yang kau tulis kala tujuh purnama tak sempurna tiba. Kau ceritakan semua tentang kita, tentang sebuah arti persahabatan yang kala itu masih terasa begitu sempurna .. sempurna karna kita yang masih tak mengerti arti “kuasa” diantara kita .. kau selipkan dua tanduk rusa diatas pundakku, dan kau nyanyikan alunan senja dipersemaian menuju panjangnya malam ...
***
Di meja itu, kuletakkan sehelai kain jingga yang sedikit kusam. Ku bentuk layaknya sarang merpati diatas awan biru .... meja itu merupakan peninggalan eyang kakung :sebutan kakek:, sebelum akhirnya beliau menghembuskan nafas terakhir .. usianya yang sudah cukup renta, membuatnya harus terbaring tak berdaya dalam keindahan senja kala itu ..
Ibu yang selalu menghitung lembar demi lembar kertas yang bertuliskan “....”
Waktu masih menunjukkan pukul O2.OO .. suara gemrincing sepeda yang biasanya ku dengar kala subuh telah tiba .. dan ku bertanya dalam hati, mengapa begitu pagi suara itu ku dengar?”
“Merpati jingga tengah menantimu dalam dinginnya pagi”
Begitulah penggalan sapaan dalam surat tersebut. Akupun masih menyimpan sejuta tanya siapa orang yang tengah asik menorehkan tinta berlian itu untukku. Hari kian menampakkan wajah eloknya, terasa berbeda pagi ini.. semangat itu muncul kala ku trima surat yang datang terlalu pagi ..
          Ini memasuki hari ke empat puluh, dan empat puluh surat telah ku terima dan ku bingkai dalam sangkar sutra. Ku bingkai surat ke empat puluh ini, dengan balutan mawar merah .. hingga merangah kala melihatnya..
***
Tiga tahun lalu ku mengenalmu dalam secangkir kopi jingga. Pagi itu ku racik kopi jingga spesial untukmu. Bak keluarga cemara, kamipun saling bercengkrama di depan layar kaca. Sarapan pagi itu, kami menikmati sajian berita ibu kota ..
Isu-isu korupsi yang kala itu tengah menjadi bahasan “hot” membuat kami semakin dalam mendiskusikannya. Sebagai insan pendidikan kami menyadari, saat ini tengah terjadi degradasi moral, imbasnya krisis kepercayaan semakin menggerogoti tubuh pemerintah.
Sela waktu perbincangan hangat kita, tiba-tiba dia sebut saja Andra berbagi cerita, yang aku sendiri tak tau apa maksudnya. “Din, sekalipun aku punya mawar, tak kan ku berikan mawar ini ke sembarang cewek, aku ingin menjaga mawar ini hingga ujung waktu”, katanya.
“Buat apa kau ambil mawar sekarang? Sedang kau biarkan terdiam begitu lama?”, jawabku dengan tegukan kopi jingga ...
“Menjadi sebuah keharusan aku harus mengenal mawar itu, akupun ingin mengetahui setiap jejak langkahnya.. hingga ku tau semua tentang mawar itu”, tutur Andra meyakinkan.
Sementara aku mengkalkulasikan kebutuhan satu bula ini, aku hanya bisa berkata, “carilah mawar sesukamu”.

***
Pagi itu memang ku tak ingin luruh dalam balutan mesra kala fajar tlah tiba. Akupun mengakhiri pertemuan pagi itu. Kulanjutkan aktifitasku, begitupun dengannya.
Senja mulai tiba, dan akupun kembali bertemu dengannya. Kita memang dipertemukan setiap senja, dibalut dengan kopi jingga, hingga fajar tiba. Ini hari ke dua kita bersama. Tak seperti hari sebelumnya, malam ini kantuk seberat sejuta ton menghinggap diwajah kita. Aku mencoba bertahan kala matanya semakin tak mampu menahan rasa lelah. Aku mencoba bertahan dengan melontarkan beberapa bait pertanyaan. Aku mencoba bertahan dengan membuatkan kopi jingga kesukaannya. Aku mencoba meramaikan suasana kala itu dengan berbagai obrolan. Tapi tak juga bertahan lama, akhirnya kau pun terlelap.
“Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda”. Pepatah itu membuatkan tergelitik kala meresapi setiap butir kata.
::Aku mengenalnya tak cukup lama, namun begitu besar pelajaran yang aku terima:: Penggalan lagu itulah yang mampu mewakili seluruh isi hati ini.
Hari demi hari berlalu begitu saja, dan ini tiga tahun sudah ku tak melihatnya. Balutan hangat keluarga cemara yang kurasa, tak lagi menghiasi hariku. Kopi jingga yang biasa aku seduh bersama senyum manismu, kini tak lagi ku rasa.

Memasuki hari ke empat puluh ini, terkumpul sudah empat puluh butiran mawar disela kain sutra yang kau beri. Tak seindah seperti biasanya, surat kali ini begitu berbeda. Kau tak banyak bercerita seperti sebelum-sebelumnya. Kau hanya tulis “titip salam buat bapak ibu, dan tunggu satu mawar ke empat puluh satu” .
          Ku tunggu surat ke empat puluh satu, hingga hari ku telah habis karna mu. Tak kunjung jua mawar yang kau janjikan, akupun tak tau siapa yang tengah menggoda isi hatiku. Namun, semuanya terasa beku, lantas akupun mengharu biru menerima mawar ke empat puluh satu.
Bertuliskan nama dan indah senyum mu, dalam sebuah balutan mesra bersama mawar pilihanmu.
::Tak Apa::
         

 oleh, Dhek Cha

 
MALIKHAH SAN © 2012 | Edited Designed by Kurungan Celotehan