About Me

Malikhah; seorang ibu rumah tangga yang juga ASN dan aktif mengajar di SMPN 1 Singorojo. Lahir pada tanggal 28 Oktober 1991, dengan semangat sumpah pemuda semangat menulis untuk meninggalkan jejak digital yang bisa bermanfaat untuk semua.

Berani Mepertegas Persoalan

Berani Mepertegas Persoalan
Permasalahan yang membelit Anas Urbaningrum dengan Nazaruddin hampir setiap hari mengisi acara berita televisi. Pencemaran nama baik yang dilakukan oleh Nazaruddin kepada Anas semakin menjadi-jadi. Tuduhan yang menyatakan bahwa Anas terlibat proyek Wisma Atlet SEA Games dan diduga menerima uang 70 milliar dari proyek ini, dibantah mentah-mentah oleh Anas.
Setelah kasus yang dituduhkan kepada Anas tersebut, Demokrat menjadi semakin gusar. Kasus ini menambah daftar panjang permasalahan yang terjadi di partai Demokrat. Anas Urbaningrum harusnya mampu memberikan penjelasan dan keterangan secara benar dan transparan terkait tuduhan yang dilontarkan Nazaruddin. Sehingga akan mempertegas siapa yang sebenarnya salah dan benar. Tidak hanya saling tuduh menuduh dibelakang layar, tapi mereka juga harus berani menyelesaikan persoalan ini di depan publik.
Krisis kepercayaan yang dialami oleh Demokrat saat ini, tentunya akan berdampak negatif terhadap perkembangan partai ini ke depan. Seharusnya Demokrat harus mampu memebenahi persoalan internal mereka. Dapat kita refleksikan kembali bahwa Indonesia menjadi tidak akan maju dan berkembang, salah satu penyebabnya yaitu para elit politik terlalu sibuk untuk membahas persoalan internal yang terjadi. Ketidakharmonisan dalam internal partai Demokrat saat ini benar-benar tampak jelas di media massa. Inilah yang menjadi garapan utama partai Demokrat. Demokrat harus mampu mengembalikan citra baik terutama dimata masyarakat.

Polisi Pun Tak Mau Ketinggalan

Polisi Pun Tak Mau Ketinggalan
Perjudian memang memiliki daya tarik yang luar biasa. Hadiah yang menarik menjadi umpan, sehingga pelaku perjudian akan ketagihan untuk terus ikut judi. Daya tarik ini tidak hanya menjadi simpatisan masyarakat, namun pihak-pihak pemberantas judi kadang justru ikut tergiur dalam perjudian.
Togel menjadi salah satu trend perjudian yang saat ini banyak diminati. Jelas togel ini sangat merisaukan masyarakat. Sayangnya pengaduan masyarakat terkait judi sering kali tidak segera ditindaklanjuti oleh pihak kepolisian. Hal ini menjadi indikasi bahwa pihak kepolisian tidak mampu menyelesaikan persoalan judi dengan tegas. Tindakan polisi ini sepertinya hanya menjadi tembok tempat persembunyian mereka.
Pasalnya banyaknya kasus perjudian yang juga melibatkan pihak kepolisian. Meskipun ada indikasi oknum penegak hukum juga terlibat sebagai beking judi, tentunya tidak menjadi alasan untuk memperlambat proses pemberantasan togel.
Tetap saja hukum harus ditegakkan secara adil. Siapa pun yang terlibat dalam perjudian harus dihukum sesuai undang-undang yang berlaku. Tidak ada ampun untuk pelaku judi termasuk pihak kepolisian yang ikut terlibat. Polisi harus berani bersikap tegas terhadap pelaku judi. Dengan ketegasan pihak kepolisian terhadap kasus perjudian, maka kepercayaan yang diberikan masyarakat kepada polisi untuk menegakkan hukum akan terbangun kembali. Jika memang ada pihak kepolisian yang terlibat judi, maka harus dihukum dan segera didelete dari jabatannya.

Mempertegas Jati Diri Mahasiswa

Pertegas Jati Diri Mahasiswa
Oleh: Malikhah*
Jika Aku Menjadi menjadi sebuah tayangan yang menampilkan kondisi masyarakat Indonesia saat ini. Secara substansi tayangan itu memang bagus, terutama dalam menyoroti potret buram perekonomian rakyat Indonesia. Tayangan yang memprioritaskan mahasiswa sebagai aktor dalam tayangan tersebut, akan memberi kesan terhadap dua latar belakang kehidupan yang berbeda.
Kehidupan mahasiswa yang cenderung glamor, diharuskan tinggal di pedesaan dengan melakukan aktivitas salah satu warga desa. Namun, sering kali mahasiswa memberi kesan yang negatif kepada publik. Mereka terlihat manja, gengsi, dan risi jika melakukan kegiatan yang tidak pernah dilakukan oleh mereka. Misalnya, menanam padi, membersihkan kandang, mencari kayu bakar, dan sebagainya.
Sikap itu justru akan menurunkan jati diri mahasiswa sebagai Agen Sosial of Change. Tidak seharusnya mahasiswa bersikap manja, gengsi, ataupun risi dengan kegiatan di pedesaan. Mahasiswa harusnya lebih progres, tanggap dengan keadaan, mandiri, dan sebagainya.
Pada dasarnya gengsi ataupun manja hanya melekat kepada beberapa mahasiswa saja. Masih banyak mahasiwa yang tidak hanya bermanja-manja dalam melakukan kegiatan. Kita tidak bisa mengklaim bahwa sosok mahasiswa hanyalah sosok yang manja dan kurang mampu bermasyarakat. Mahasiswa juga mampu untuk membantu mengerjakan pekerjaan yang dilakukan oleh masyarakat pedesaan. Dapat ditegaskan bahwa sosok mahasiswa bukanlah sosok manja, gengsi, dan tidak mampu bermasyarakat.

*Penulis adalah pengurus
Lembaga Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas

 
MALIKHAH SAN © 2012 | Edited Designed by Kurungan Celotehan