About Me

Malikhah; seorang ibu rumah tangga yang juga ASN dan aktif mengajar di SMPN 1 Singorojo. Lahir pada tanggal 28 Oktober 1991, dengan semangat sumpah pemuda semangat menulis untuk meninggalkan jejak digital yang bisa bermanfaat untuk semua.

WBL, Mengguncang PAI 5 C



Liburan akhir semester ini diisi dengan agenda wisata bersama anak-anak PAI 5 C. Acara yang dilaksanakan pada 27 Januari 2013 ini diikuti oleh 31 personil. Liburan yang telah lama ditunggu PAI C selama satu tahun ini berlangsung sangat meriah. Wisata ini memilih WBL atau yang lebih sering dikenal dengan nama Wisata Bahari Lamongan menjadi tujuan utama pada special moment ini.
Pemberangkatan yang dilaksanakan pada Minggu malam, 27/1/13 ini berlangsung dramatis. Pasalnya, bus yang dipesan oleh bendahara utama dalam pelaksanaan ini ini tak kunjung datang. Alih-alih, anak-anak PAI 5 C semakin manyun. “Kami sudah memesan bus dari Pati jauh-jauh hari, malahan yang punya bus lupa dengan jadwal wisata kita”, ungkap Iin Setyani selaku bendahara utama.
Bus yang harusnya dijadwalkan berangkat pukul 18.30 ini berangkat dari Pati menuju Semarang. Memang yang dipilih adalah bus langganan dari Pati, selain sopir dan kernetnya ramah, harganya pun sangat sesuai dengan kantong kelas PAI 5 C. Iin begitu sapaan akrabnya kembali mengatakan bahwa meskipun busnya kita pesan dari pati, namun masalah harga bus tidak berpengaruh secara signifikan. “Sehingga kami memilih bus yang benar-benar nyaman untuk PAI 5 C”, tandasnya.
Paska penantian selama dua jam lamanya, akhirnya bus yang ditunggu-tunggu datang juga. Wajah sumringah atau gembira ditampakkan oleh wajah-wajah anak-anak PAI C. Meski perjalanan ditunda selama dua jam, namun tak menyurutkan langkah anak-anak untuk tetap menyapa negeri sebrang. Mahfud Sebastyan Taat Beribadah selaku komting pun menjelaskan, “saya sangat lega dengan kedatangan bus, saya kira bus nya tidak jadi datang karena kami telah lama menunggu”.
Kunjungan pertama dilaksanakan di makam Kadilangu, yang kemudian perjalanan dilanjut menuju kediaman Ophie MGFC. Memang rencana dari awal penginapan dialokasikan di rumah Ophie yang bertempat tinggal di Tambakboyo Tuban Jawa Timur. Perjalanan yang memakan waktu selama 5 jam ini akhirnya tiba di rumah Ophie pada pukul 01.00.
Senin pagi, perjalanan dilanjut menuju makam sunan Bonang di Tuban. Setelah itu, tujuan utama PAI 5 C yakni WBL. Aneka permainan yang di WBL semua dijelajahi oleh PAI 5 C. Sampai-sampai banyak anak PAI 5 C yang mabok karena terlalu banyak menikmati wahana ekstrim yang ada di WBL. Huda, Fahry, Mahfud menjadi aktor-aktor utama yang “hoek-hoek” dalam agenda tersebut.
Akhirnya, setelah melalang buana selama satu hari penuh di WBL, PAI 5 C akhirnya kembali menuju Semarang untuk melanjutkan aktifitas dan kehidupan di Ngaliyan city.

‘Meneguhkan Kembali Peran Serta Mahasiswa dalam Menjaga Ideologi Pancasila’


Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) IAIN Walisongo Semarang menggelar acara pelantikan pada Rabu, 23 Januari 2013. Dalam acara ini juga digelar dengan acara sarasehan yang mengangkat tema ‘Meneguhkan Kembali Peran Serta Mahasiswa dalam Menjaga Ideologi Pancasila’. Pemahaman serta pengaplikasian nilai-nilai Pancasila semakin terkikis oleh pesatnya arus globalisasi. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat Indonesia.
Acara ini mendatangkan tiga pembicara, yakni Nasrul Umam selaku ketua Komisariat PMII Walisongo, Zuyyinal Laily selaku ketua koordinator cabang PMII Jawa Tengah, serta budayawan Sukirno. Ketiga pembicara ini berbicara tentang ideologi Pancasila dari berbagai perspektif.
Mengawali sarasehan siang itu, Nasrul Umam diberikan kesempatan untuk memaparkan gagasannya tentang tema yang telah diusung oleh DEMA. Menurutnya, gerakan pemuda memiliki pengaruh yang signifikan dalam mengawal ideologi Pancasila. Ideologi suatu negara memberikan dua paradigma yang dapat dimiliki oleh warga negaranya, yakni National State dan Religious State. Saat ini tengah terjadi disorientasi tentang pemahaman ideologi Pancasila. Hal ini terbukti adanya beragam krisis multidimensi yang terjadi di Indonesia, sehingga menimbulkan keresahan bagi warga Indonesia. Konflik antar agama, suku, antar pelajar dan sebagainya memberikan gambaran nyata bahwa ideologi Pancasila sudah tidak lagi dijadikan kerangka dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ideologi Pancasila mengalami semakin mengalami disorientasi paska adanya reformasi. Reformasi ini memberikan dampak yang sangat berpengaruh, antara lain adanya tarik ulur kekuasaan untuk kepentingan golongan dan juga pecahnya ideologi bangsa. Hal ini menjadi sebuah keprihatinan kita, tat kala bangsa kita tengah mengalami krisis yang sangat komprehensif.
Banyak tantangan yang harus dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini, begitu ungkapan yang disampaikan pembicara ke dua, Zuyyinal Laili. Namun, hal itu justru berbanding terbalik dengan geliat para pemuda, khususnya para mahasiswa. Geliat respon mahasiswa dalam membincang gerakan ataupun isu-isu nasional seperti isu tentang tergerusnya nilai-nilai Pancasila sudah semakin jarang diperbincangkan. Asik dengan perbincangan beraroma hedonis menjadi pilihan menu utama yang sangat menarik bagi kaum pemuda.
Disamping itu, disadari atau tidak, sebenarnya kita banyak mengambil ilmu dari Barat. Bangsa Barat seakan menjadi dewanya ilmu pengetahuan, padahal tidak demikian. Jika kita flashback tentang sejarah di Indonesia justru sangat membanggakan. Kita bayangkan jaman dahulu belum ada arsitektur yang merancang adanya pembuatan candi, namun pada kenyataannya banyak candi-candi bersejarah dengan bangunan yang kokoh dan corak yang sangat menarik dibuat. Ini menunjukkan bahwasanya ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh bangsa kita tidak kalah dengan yang ada di luar negeri. Karya-karya fenomenal yang dimiliki bangsa Indonesia inilah yang patut untuk kita jaga dan kita pelihara. Jangan sampai kita terhipnotis dengan bangsa lain, sedang bangsa kita sendiri terlupakan begitu saja.
Memulai dengan pembahasan sejarah, Sukirno seorang budayawan ini menggambarkan mengapa Indonesia dijajah oleh Belanda dalam tempo yang sangat lama. 350 tahun Indonesia dijajah Belanda, hal ini terjadi bukan karena Belanda yang terlalu kuat menjajah bangsa Indonesia, namun begitu rapuhnya bangsa Indonesia. Warga Indonesia sangat kurang dalam menjunjung nilai-nilai persatuan, sehingga dengan mudahnya negara asing menjajah Indonesia yang sebenarnya memiliki potensi yang sangat luar biasa.
Dari sisi lain, kita ingat Sutomo, seorang pendiri Budi Utomo. Dia mendirikan Budi Utomo setelah bertemu dengan Wahidin Sudiro Husodo yang memberikan beasiswa kepada para mahasiswa kedokteran yang kurang mampu. Dari pertemuan inilah kemudian berdiri organisasi Budi Utomo yang kemudian diikuti dengan berdirinya organisasi-organisasi lainnya.
Peran pemuda tidak hanya itu, dalam mencapai kemerdekaan pun mereka memiliki peran yang sangat penting. Prediksi Soekarno pada saat itu untuk memerdekakan bangsa Indonesia ternyata tepat. Kontrak-kontrak jangka panjang perkebunan oleh Belanda habis pada tahun 1945. Meskipun didesak, namun Soekarno belum mau memerdekakan Indonesia tanggal 15 Agustus 1945, pasalnya dia ingin memastikan apakah Belanda sudah menyerah ataukah belum.
Daru paparan sejarah diatas, pemuda memiliki peranan yang penting, namun tidak terlepas dari adanya golongan tua atau generasi pendahulunya untuk mempersatukan bangsa Indonesia.
Dalam hal ini, paska kemerdekaan bangsa Indonesia, Pancasila menjadi satu ideologi bangsa yang wajib dijunjung tinggi oleh masyarakat Indonesia. Dalam lima butir pasalnya, memiliki makna yang sangat mendalam. Pasal pertama, Pancasila tidak menyebut nama Tuhan dari salah satu agama, namun diksi yang dipilih adalah ‘Ke-Tuhan-an’ Yang Maha Esa. Karena memang Indonesia ini bukanlah negara yang dimiliki oleh satu agama saja.
Ke dua, sebagai warga negara Indonesia, perlu adanya intropeksi diri. Saling menghormati, toleransi, dan saling menghargai menjadi sikap yang dijunjung tinggi oleh bangsa Indonesia. Ke tiga, Indonesia merupakan negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan Indonesia. Indonesia bukanlah negara Caufinisme, yakni negara yang selalu ingin menjajah negara lain. Ke empat, Indonesia mengenal adanya sistem demokrasi, namun yang dianut bukanlah sistem demokrasi ala barat. Hal ini terbukti adanya dipilihnya Pancasila tidak melalui voting, namun melalui kesepakatan bersama. Ke lima, Indonesia terdiri dari beragam suku, ras, dan agama, namun tetap menghargai kearifan lokal, saling menghargai kaum minoritas maupun mayoritas.
Oleh karena itu, kita sebagai warga Indonesia wajib bagi kita untuk mengenali jati diri bangsa. Pancasila sebagai jati diri bangsa patut kita jaga dan kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sosialisasi ideologi bangsa merupakan kewajiban bagi pemerintah dan masyarakat Indonesia yang jika tidak dilakukan merupakan kesalahan bersama. Nasionalis berawal dari adanya sifat individualis, kemudian beralih pada kelompok sejenis, dan barulah timbul sikap nasionalis. Mari kita tumbuhkan sikap Nasionalisme dalam diri kita.

;;;MERDEKA;;;

Pejabat DEMA, Resmi Dilantik


             Rabu, 23 Januari 2013 Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) IAIN Walisongo Semarang secara resmi dilantik oleh Rektor Walisongo. Mukhammad Busro Asmuni terpilih sebagai presiden DEMA masa bakti 2013-2014. Pelantikan yang dihadiri beberapa pejabat birokrasi dan mahasiswa IAIN serta tamu undangan ini berlangsung dengan khidmat.
            Busro Asmuni dalam sambutannya mengatakan, “Jabatan ini merupakan satu amanah suci yang membutuhkan komitmen, penanaman semangat bagi pengurus DEMA.” Oleh sebab itu, perlu adanya komitmen yang harus dimiliki masing-masing pengurus DEMA. Rektor IAIN Walisongo Prof. Dr. H. Muhibbin M. Ag juga memberikan petuah kepada pengurus DEMA, khususnya. Dalam sambutannya, dia mengatakan bahwasanya IAIN telah berada dalam zona bebas korupsi. Jadi, menjadi sebuah keharusan sebagai pengurus DEMA untuk tidak melakukan tindakan korupsi. “Dengan menjauhi korupsi, berarti mahasiswa sudah berusaha untuk menjaga amanah yang diberikan oleh seluruh elemen kampus”, ungkapnya. Busro juga menegaskan bahwa orientasi mahasiswa sekarang harus mulai dirubah mulai dari profit oriented menjadi productive oriented.
Dalam acara pelantikan ini, juga diselenggarakan sarasehan dengan tema “Meneguhkan Kembali Peran Serta Mahasiswa dalam Menjaga Ideologi Pancasila”. Masih menurut Busro, “Banyak fenomena yang terjadi di Indonesia yang masih menggambarkan satu bentuk penderitaan rakyat”. Di Indonesia semakin banyak terjadi krisis multidimensi, yang akan berimbas pada krisis nasionalisme, krisis patriotism, dan sebagainya. Tentunya hal ini menjadi tanggung jawab bersama, baik pemerintah, masyarakat, mahasiswa. Pemahaman akan pentingnya menjunjung nilai-nilai Pancasila juga semakin tergerus oleh perkembangan jaman. Oleh karena itu, DEMA mengangkat tema tentang pentingnya pemahaman ideologi Pancasila.
            “Bhineka Tunggal Ika harus dijunjung tinggi untuk membangun persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia”, uangkap Busro paska pelantikan. Semboyan yang mampu merekatkan bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku, ras, dan agama ini mampu menjadi alat pemersatu yang sangat ampuh. Saling menghormati dan menghargai antar sesama manusia, akan menjadi satu kekuatan penting demi terciptanya perdamaian di bumi pertiwi ini.
            De Charles Pany dari Kesbangpol Jateng yang juga memberikan sambutan menuturkan, “Kegiatan yang dilakukan mahasiswa ini merupakan satu langkah tepat sebagai bentuk kepedulian mahasiswa”.  Dia menjelaskan bahwa Negara Indonesia merupakan Negara yang sangat berbeda dengan negara lain. Negara Indonesia senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal, nilai-nilai kebangsaan dalam kerangka ideologi Pancasila. Menurutnya, warga negara yang baik adalah warga negara yang mau terlibat dalam pembangunan persatuan dan kesatuan bangsa, selain itu mampu memasyarakatkan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan kebersamaan. “Hal ini dapat dilakukan dengan menyegarkan kembali wawasan kebangsaan, sehingga tidak terbelenggu dalam konflik suku, ras, dan agama”, pungkasnya.

Openmind, Menyikapi Perubahan Kebijakan



Himpunan Mahasiswa Tadris Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang melaksanakan Sarasehan pendidikan dengan tema “Kurikulum 2013, Sudah Idealkah?”. Acara yang dilaksanakan Selasa sore, 22 Januari 2013 ini dilaksanakan di aula gedung Q fakultas Tarbiyah diramaikan oleh mahasiswa IAIN Walisongo Semarang. Sarasehan ini mengangkat tema pendidikan, terutama masalah kurikulum yang masih menjadi perbincangan hangat diberbagai kalangan.
Dalam sarasehan ini, dihadiri oleh beberapa pembicara, diantaranya Dr. Fatah Syukur, Drs. Listyono, dan Mukhammad Busro Asmuni. Dalam kesempatan ini, Dr. Fatah Syukur menyampaikan, “Kurikulum ini digunakan sebagai alat untuk mencapai sebuah tujuan pendidikan”. Dia juga menambahkan bahwa kurikulum di Indonesia, perlu adanya perbaikan untuk menuju kesempurnaan, karena masih banyak hal yang perlu diperbaiki dalam sistem pendidikan di Indonesia. Senada dengan Drs. Listyono M. Pd bahwa banyak konsep yang harus diperbaiki dalam pendidikan di Indonesia. Lis, sapaan akrabnya menggambarkan, “Banyak orang salah kaprah dalam menyebut buah nanas. Yang kebanyakan orang makan adalah batang nanas, bukan buah nanas. Namun, banyak guru yang mengajarkan bahwa itu merupakan buah nanas. Bisa-bisa kesalahan diturunkan sampai tujuh turunan.”
Seperti yang dikatakan oleh Listiyono bahwa harusnya dalam pendidikan di Indonesia yang perlu disempurnakan adalah kualitas guru  dan calon guru tentang bagaimana memberikan pelajaran kepada siswa. “Guru harus mampu memberikan inovasi dalam belajar untuk siswa, sehingga siswa tertarik dan mampu menyerap pelajaran dengan baik”, tuturnya. Menurutnya, dalam kurikulum 2013 ini, beban mengajar guru menjadi berkurang. Namun, ada jam tambahan bagi guru untuk mendampingi siswanya dalam mengerjakan tugas-tugas rumah.
Kualitas sumber daya manusia (SDM) di Indonesia sangat penting. Listiyono kembali menjelaskan, ada beberapa ciri SDM yang diperlukan yakni good character, exellent competence, spiritual discrement. Dengan SDM yang mumpuni, maka akan menunjang kemajuan dunia pendidikan. Disinilah peran kurikulum 2013, tentunya harus mampu menciptakan individu dengan kualitas yang bagus.
Kurikulum 2013 ini memang masih menuai berbagai kontroversi, baik pro maupun kontra. Meskipun sudah melewati uji publik, bahkan baru kali ini ada kurikulum melalui uji publik, bukan berarti kurikulum ini sempurna. Seperti yang diungkapkan oleh Mukhammad Busro Asmuni selaku Presiden Dewan Eksekutif Mahasiswa IAIN Walisongo Semarang, “perubahan kurikulum ini masih harus dipertanyakan, apakah perubahan ini hanya sebagai usaha menutupi kegagalan pemerintah dalam mengelola pendidikan, atau hanya digunakan untuk melancarkan kepentingan golongan dan kekuasaan.” Sebenarnya perubahan kurikulum ini sangat diperlukan untuk menuju kesempurnaan kurikulum. Namun dalam kurikulum 2013 ini, perencanaan dan penyusunan silabus serta pengadaan buku paket justru dilakukan oleh pemerintah pusat. “Kebijakan tersebut justru tidak memberikan peluang dalam menyusun silabus, padahal kebutuhan dan kondisi sekolah berbeda-beda, namun kebijakan yang diambil justru sifatnya sentralisasi.”
“Integrasi mata pelajaran yang diharapkan mengurangi beban belajar siswa, namun muatannya justru berlipat ganda karena harus mengikuti alur pikiran kompetensi inti dan jumlah jam pelajaran per minggu ditambah. Dampaknya beban belajar siswa justru semakin bertambah,” jelas Busro. Dia menjelaskan bahwa harusnya penyusunan kurikulum 2013 ini berdasarkan kajian mendalam dan transparan terhadap situasi yang menjadi alasan kuat perlunya perubahan kurikulum di Indonesia.
Fatah Syukur menuturkan bahwa kurikulum 2013 ini tentunya masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki. “Yang penting, kita harus openmind dalam menyikapi setiap perubahan kebijakan”, pungkasnya.

Dua Tahun SRIKANDI


Di usianya yang kini menapaki tahun ke dua, keinginan kuat untuk terus mengeja semesta semakin membara. Meskipun dengan kecenderungan yang berbeda, tetapi kita tetap dalam satu nama, “Srikandi”.
            Minggu malam 13 Januari 2013, tepatnya pukul 20.00, Srikandi kecil menggelar harlah yang ke-2. Acara harlah perdana yang dilaksanakan oleh komunitas Srikandi ini mampu menghadirkan tamu lebih dari seratus orang, hal ini terbukti dengan adanya aqua yang menghabiskan tiga kardus lebih. Meskipun diawal acara hujan mengguyur sangat deras, namun tidak menyurutkan tamu undangan untuk menghadiri acara tersebut. Beberapa undangan dari berbagai kelompok diskusi, lintas rayon, keluarga besar  PMII, keluarga besar HMI, dan juga tamu dari beberapa unversitas, dan juga tamu dari Srikandi Surabaya pun turut meramaikan acara ini.
            Acara harlah ini dibuka dengan penampilan grup rebana BITA yang sangat memukau. Kemudian dilanjut dengan acara sambutan panitia yang diwakili oleh Dewi Haryani. Paska sambutan, acara dilanjut dengan sarasehan yang diisi oleh beberapa pembicara. Diantaranya, Syamsul Ma’arif dosen fakultas Tarbiyah, Muhammad Nurul Ikhwan ketua HMI korkom, Khoirul Umam ketua PMII komisariat Walisongo Semarang, dan Malikhah direktur Srikandi.
            Dalam diskusinya, Srikandi mengangkat tema tentang ‘Menakar Kurikulum 2013 dalam Perspektif Intelektual Organik’. Kurikulum yang akan menggantikan kurikulum KTSP ini masih menuai kontroversi. Pasalnya, beberapa mata pelajaran akan dipangkas, dan kemudian akan diintegrasikan kedalam mata pelajaran lain. Semisal, IPA dan IPS akan diintegrasikan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia. Kemudian, bahasa Jawa, akan diintegrasikan ke dalam mata pelajaran seni budaya, dan mata pelajaran TIK akan dihapuskan.
            Selain itu, kurikulum ini juga tidak memberikan otonomi kepada para pendidik untuk membuat acuan dalam pembelajaran, semisal silabus. Silabus ini akan diberikan oleh pemerintah pusat, dan buku paket atau buku panduan yang diberikan pun juga dari pemerintah pusat. Inilah yang akan membunuh karakter siswa Indonesia karena mereka hanya akan dituntun oleh sistem yang dibuat pemerintah. Ketika harus dituntun dengan sistem yang demikian, potensi yang dimiliki akan sulit untuk di eksplore oleh siswa. Padahal kita ketahui sendiri, jika kebutuhan dari masing-masing daerah dalam hal pendidikan tetunya berbeda, tidak bisa disama ratakan.
            Satu jam berdiskusi tentang kurikulum baru ini, kemudian acara dilanjutkan dengan penampilan dari Srikandi dan tamu undangan. Puisi yang dibawakan oleh Khotijah dan juga mas Fauzy dari Samarra Collage begitu memukau para tamu undangan. Setelah tamu undangan dibius dengan adanya penampilan puisi, mereka dibuat terkaget-kaget dengan munculnya Srikandi mungil dengan baju kebayanya. Inayah, dialah yang tampil membawakan sebuah tarian, yang saya sendiri juga tak tahu tari apa itu, hehehe. Para hadirin semakin terbius dengan gerakan tari yang Inayah tampilkan dengan kebaya hitam.
            Acara puncak diisi dengan potong tumpeng oleh direktur Srikandi yang kemudian diberikan kepada ketua PMII komisariat Walisongo. Dilanjut dengan makan-makan yang merupakan hasil masakan dari Srikandi. Akhirnya, di usia yang ke dua ini kita berharap Srikandi semakin matang dalam segala hal. Semakin mantap melangkah dalam mencapai tujuan Srikandi ke depan. Semoga, semua yang telah kita lakukan dapat memberi manfaat bagi semua kalangan.
Akhirnya, terima kasih untuk semua tamu undangan yang berkenan hadir dalam acara Harlah Srikandi yang ke-2. Terima kasih pula untuk semua doa yang diberikan oleh sahabat/i untuk Srikandi. Semoga tahun depan kita kembali dipertemukan di harlah selanjutnya dengan perubahan yang semakin baik.
Salam Hangat dari SRIKANDI  ‘-‘ Mengisi Usia, Mengeja Semesta ’-‘ 

“Si Gula Jawa untuk Habibi”


Barudin  Jusuf  Habibi. Rudi, begitulah Ainun kecil memanggilnya. “Dasar anak jelek, gendut, hitam kayak gula Jawa”, guyonan lucu dalam percakapan awal dalam film Habibi dan Ainun. Kisah ini diambil dari kisah nyata dari seorang yang teramat cerdas, dan tentunya masyarakat sudah tidak asing lagi. Yah, mantan presiden Indonesia yang ke tiga ini sangat akrab dikenal masyarakat dengan nama pak Habibi.
Film yang  dibuka dengan kisah romantis dua insan ini sangat menyentuh hati bagi siapa saja yang menontonnya. Rudi yang selama sembilan tahun menuntut ilmu di Jerman, akhirnya pulang ke Indonesia. Kepulangannya ke Indonesia inilah yang kemudian mempertemukan Rudi dengan Ainun. Berpuluh-puluh mata lelaki melirik Ainun, namun kala melihat sosok Rudi yang pernah mengejeknya itu, hatinya luluh lantah. Rudi yang notabene seorang yang sangat sederhana inilah yang menjadi pilihan Ainun. Padahal, laki-laki yang berusaha melamar Ainun banyak dari konglongmerat, ataupun keluarga kelas atas. Namun, kesedarhanaan nya lah yang membuat Ainun semakin memantapkan tekadnya untuk berhubungan serius dengan Rudi.
Setelah menjalin hubungan beberapa bulan, akhirnya Rudi berusaha untuk melamar Ainun dan diterima. Setelah mereka menikah, keduanya sepakat untuk tinggal di Jerman. Menjalani kehidupan tahun-tahun pertama di Jerman membuat Ainun hampir putus asa karena merasa kehidupannya tidak menjadi semakin baik. Setelah beberapa tahun disana akhirnya dengan semangat perjuangan dan doa, akhirnya mereka mendapatkan kehidupan yang menyenangkan dengan dikaruniai dua orang putra.
Dalam film tersebut, digambarkan betapa sosok wanita atau pasangan hidup memberikan peran yang begitu luar biasa untuk suaminya. Wanita menjadi konco wingking bagi seorang pria. ‘Konco wingking’ disini, bukan berarti wanita dipandang sebelah mata oleh seorang laki-laki. Konco wingking disini, mengisyaratkan bahwa peran seorang wanita untuk seorang laki-laki sangat besar. Wanita menjadi seorang pendorong semangat dan pemberi kekuatan bagi seorang laki-laki. Wanita menjadi sosok besar yang selalu membuat laki-laki menjadi sukses. “Dibalik kesuksesan seorang pria, selalu ada wanita yang selalu mendukungnya” begitulah gambaran seorang wanita. Hal ini terlihat tat kala Ainun selalu ada untuk Rudi, dia selalu mendampingi suaminya dikala suka maupun duka. Terlihat pula ketika Ainun lah yang selalu menjadi dokter pribadi untuk Rudi, dia selalu menyiapkan resep obat untuk selalu diminum Rudi yang diawal cerita dikatakan Rudi terjangkit TBC.
Kiprah Rudi menjadi seorang perakit pesawat semakin melejit. Bahkan dia dipanggil oleh kedutaan Indonesia untuk pulang ke tanah air. Dia diminta untuk membuat pesawat terbang. Akhirnya, Rudi pun memutuskan untuk pulang ke tanah air, sedangkan Ainun tetap di Jerman, karena dia telah berkarir sebagai seorang dokter anak di Jerman. Meskipun keduanya berada ditempat yang terpisah, namun keharmonisan keluarga Rudi tetap terjaga. Mereka selalu memberi kabar tentang kondisi mereka, komunikasi yang terjalin dengan baik diantara keduanya, menjadikan hubungan mereka tetap hangat meski terpisah ruang dn waktu.
Karir Rudi, atau yang sering kita panggil pak Habibi semakin melejit. Setelah sukses dengan pembuatan pesawat terbang nya, karir beliau berubah. Beliau diamanaho menjadi seorang mentri. Hingga pada akhirnya Rudi menjadi seorang wakil presiden. Pergolakan yang terjadi tahun 1998, membuat runtuhnya pemerintahan Soeharto. Dan akhirnya, Soeharto pun lengser dari jabatannya. Dalam keadaan kekosongan kursi ke presidenan ini, BJ Habibi inilah yang menggantikannya, hingga dia dilantik menjadi seorang presiden. Meski dengan perasaan khawatir, karena nantinya waktu Rudi dan anak-anak semakin berkurang, Ainun pun terlihat cemas. Keinginannya untuk kembali berkumpul bersama keluarga setiap waktu harus ditunda, karena Rudi pun semakin sibuk untuk memimpin negara ini. Dalam kisahnya, Rudi terlihat tidak mementingkan kesehatan tubuhnya, namun Ainun lah yang selalu memperingatkan dan selalu mengontro istinya itu. “Jika kamu tidak bisa memimpin tubuhmu sendiri, bagaimana kamu akan memimpin berjuta-juta tubuh rakyat Indonesia”, merupakan penggalan dialog di subuh, tat kala Rudi memaksa tubuhnya untuk membuat analisis kasus yang kemiskinan yang tengah terjadi di Indonesia.
Dalam karirnya, Rudi mengalami pasang surut. Beberapa kali tat kala ia menjadi seorang perakit truk terbang, dia hampir di bodohi rekan bisnisnya. Karena Rudi sangat cerdas, akhirnya diapun tidak sampai dibodohi. Tat kala menjadi seorang presiden pun, dia juga dituduh korupsi. Rumah yang sudah didirikannya sejak 1972 pun dituduh sebagai hasil korupsi, padahal tidak. Dalam kondisi surut tersebut, selalu ada Ainun yang mendampinginya.
Paska rampung dari jabatannya, Rudi kembali bersama-sama dengan keluarganya. Dia sempatkan pula menikmati liburan bersama sang istri di Jerman. Mereka berdua menikmati liburan tanpa beban sedikitpun. Kehangatan keluarga mereka semakin terasa.
Hingga pada akhirnya Ainun mulai sakit-sakitan. Penyakit yang diderita Ainun semenjak dia melahirkan anak pertama tidak pernah dikeluhkan olenya. Hingga pada akhirnya penyakit kangker ovarium stadium 3 semakin ganas menyerang tubuhnya. Ainun pun dilarikan ke rumah sakit Jerman, hingga tubuhnya harus dioperasi sebanyak  sembilan kali.
Detik-detik kepergiannya pun Rudi mendampingi Ainun dengan penuh kesetiaan. Hingga setelah menunaikan sholat berjamaah, Ainun pun akhirnya menutup mata untuk selama-lamanya. Saat-saat kepergian Ainun, Rudi tampak begitu tabah menghadapinya, begitu pula dengan anak-anaknya.


                                                                                By:: Cha-Cha 

Part 2, “Menakar kurikulum 2013 dalam Perspektif Intelektual organik”



Intelektual menjadi sebuah label yang mampu mengukuhkan dirinya menjadi sebuah kelompok. Kelompok intelektual ini terlahir karena adanya kelompok-kelompok marjin yang ada karena diciptakan oleh kelompok yang anti. Artinya, kelompok intelektual ini mampu terlahir karena adanya lawan dari kelompok lain yang contra dengannya.
Menurut Paul Ricouer, identitas diri kita dibangun karena orang lain atau merupakan bentukan dari orang lain. Misalnya saja yakni kaum intelektual. Ini mengindikasikan bahwa identitas diri kita sangat terpengaruh oleh aspek diluar diri kita. Seorang intelektual memiliki dua titik poin,
Yang pertama, karakteristik personal intelektual. Kaum intelektual tidak pernah merasa puas dengan segala yang ada. Mereka akan selalu menggali keingintahuannya dalam mendapatkan suatu kebenaran ataupun suatu pengetahuan.
Yang kedua, intelektual yang dikaitkan dengan fungsi sosial yakni menjalankan kebudayaan. Artinya bahwa kaum intelektual selalu menjadi garda depan dalam menjalankan suatu tindakan dalam masyarakat, semisal kebudayaan yang dimiliki masyarakat.
Intelektual yang berkaitan dengan fungsi sosial mengakar pada dua pemikir, yakni tokoh Mark dan Weber. Intelektual organik inilah yang tumbuh dari adanya pemikiran Gramsci, yang tidak terlepas dari pemikirannya Mark.
Intelektual dilihat dari fungsinya dibagi menjadi dua, yakni intelektual organik dan intelektual tradisisonal. Intelektual organik ini sangat ditentukanoleh hubungan atau relasi antar individu dan ekonomi. Intelektual ini lahir karena adanya perjuangan kelas, yang dipengaruhi oleh struktur, kekuasaan, dan ekonomi. Intelektual organik, sebagai perumus adanya perubahan, akan ada dalam struktur kelas, pasalnya mereka turut berperan dalam perjuangan kelas.
Lawan dari adanya intelektual organik adalah intelektual tradisional. Intelektual ini cenderung pro terhadap status quo, dan membiarkan adanya norma yang memungkinkan status quo bertahan. Status qua artinya keadaan tetap sebgaimana keadaan sekarang tau sebagaimana keadaan sebelumnya. Jadi mempertahankan status quo berarti mempertahankan keadaan sekarang atau sebagaimana keadaan sebelumnya. Contoh: seseorang mengajukan pandangan baru, tetapi tidak mengubah status quo.
Perspektif berbeda ditunjukkan oleh intelektual liberal, yang berpandangan bahwa intelektual akan menjadi kritis jika mampu menjaga jarak dengan masyarakat. Posisi intelektual berada diluar masyarakat. Kelompok ini mendedikasikan intelektual sebagai kelompok elit.
            Refleksi Kritis
            Intelektual merupakan kelompok yang berkumpul karena adanya solidaritas antar individu. Selain itu, intelektual organik akan terarah untuk memenuhi kepentingan sendiri atau kelompok. Implikasinya, ia hanya akan lahir dari kelompok itu sendiri. Misalnya, seorang buruh hanya akan lahir dari kelompok buruh saja. Sehingga, konsepsi intelektual organik ala Gramsci cenderung dilematis karena struktur kelasnya tidak solid.



                                                     By: Malikhah "Hasil diskusi Srikandi, Rabu 09 Januari 2013

“Menakar Kurikulum 2013 dalam Perspektif Intelektual Organik”


Seorang intelektual tentunya mampu memberikan hegemoni terhadap orang lain. Hegemoni dalam kamus bahasa Indonesia berarti pengaruh. Menurut sejarah, penemu teori hegemoni ini yakni Lenin. Vladimir Ilyich Ulyanov Lenin merupakan seorang pemimpin politik yang paling bertanggungjawab terhadap berdirinya Komunisme di Rusia. Gagasannya tentang teori hegemoni ini sangat memberikan dampak yang signifikan. Hegemoni akan semakin mudah dilakukan kala agama-agama masih bersifat konservatif dan cenderung ortodoks. Selain itu kondisi ekonomi yang lemah dan juga akses pendidikan yang sangat minim dan cenderung terbelakang akan semakin mempermudah adanya hegemoni, terutama hegemoni dari sang penguasa.
Dalam hal ini, intelektual organik memiliki peranan penting, terutama dalam menghegemini dalam dunia pendidikan. Intelektul organik meruakan buah pemikiran Antonio Gramsci yang terlahir pada tanggal 22 Januari 1891 di Italia. Dalam teorinya Gramsci, yang dimaksud dengan intelektual organik adalah seorang intelektual yang mampu menguasai banyak pengetahuan. Intelektual organik tidak hanya berkubang dalam kehidupan dirinya saja, namun dia mau menjadi organ langsung atau menyatu dalam masyarakat. Artinya bahwa seorang intelektual organik bukanlah intelektual yang hanya berada diatas menara gading, yang menutup mata dengan kondisi sosial masyarakat. Intelektual organik berangkat dari kehidupan praksis yang mereka alami. Sehingga, seorang intelektual organik haruslah seorang yang mampu menjangkau pengetahuan yang lebih luas.
Terkait dengan adanya kurikulum 2013 ini, tentunya harus kita sikapi secara mendalam. Artinya, banyak pendekatan yang dapat kita gunakan untuk melakukan kajian kritis terhadap kurikulum yang rencananya akan dicanangkan bulan Juni 2013 di semua jenjang, baik SD, SMP, dan SMA. Pendapatan terbanyak negara kita adalah bersumber dari pajak. Pajak inilah yang sering diberikan oleh para pengusaha kaya yang itu digunakan oleh negara. Logikanya, segala regulasi atau kebijakan yang dikeluarkan pemerintah sesuai dengan pihak yang menghidupinya, singkatnya, segala kebijakan negara mengandung unsur kepentingan founding nya.
Idealnya, sebuah kurikulum berorientasi pada kebutuhan peserta didik. Namun, yang sering terjadi, justru kurikulum yaang ada hanya berorientasi pragmatis, dn hanya disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Kita bisa melihat contoh nyata di sekolah menengah kujuruan atau SMK. Kasarnya, di SMK hanya memberikan orientasi dan menyiapkan peserta didik untuk memenuhi kebutuhan industri. Hal ini tentunya hanya akan menghasilkan robot-robot yang hanya mengikuti perintah sang pembawa remot control saja. Disadari atau tidak, kurikulum yang ada saat ini di desain agar peserta didik tidak memikirkan hal-hal diluar kurikulum. Sehingga pengembangan potensi anak pun akan terhambat, jika harus terkungkung dengan adanya kurikulum yang wajib dipatuhi.
Dalam kurikulum 2013 juga banyak diperbincangkan tentang adanya pengintegrasian mata pelajaran IPA dan IPS dalam mata pelajaran bahasa Indonesia. Padahal, orientasi dan aspek-aspek yang dipelajari masing-masing mata pelajaran tersebut jelas berbeda. Namun, beberapa pihak optimis terhadap kurikulum yang baru akan dicanangkan ini. Integralisme pengetahuan yang digagas dalam kurikulum 2013 ini diharapkan mampu membawa perubahan. Namun, kurikulum ini nantinya juga harus dikaji kembali karena wacana untuk pembuatan buku dan silabus oleh pusat harus dirubah. Pasalnya setiap sekolahan tentunya memiliki kebutuhan yang berbeda-beda, dan tentunya tidak dapat disama ratakan antara sekolah satu dengan sekolah lain.
Setiap pengetahuan itu selalu mengandung sebuah kepentingan dari si pembuatnya. Dan setiap pengetahuan akan menjadi sebuah senjata yang dapat digunakan untuk bertarung. Semoga saja kurikulum 2013 yang direncenakan ini bukan sekedar “gawe-gawe-an” pemerintah. Harapan agar Indonesia mampu menjadi negara yang lebih baik tetap kita perjuangan.
“Metode lebih penting dari materi, tetapi guru lebih penting dari metode, namun yang terpenting adalah Motivasi Guru untuk anak didiknya”



By:: Malikhah San
Hasil diskusi Srikandi, 08 Januari 2013

Inikah,,


Inikah,
Malam inikah?
Berhenti di malam ini kah?
            Tak ada yang salah, dan begitukah langkah
            Langkah yang tak pernah ku temui jejak kaki
            Sekedar pertanda bahwa aku ‘mengerti’
Inikah?
Begitu beku hati ini, cermati kata mu
Semakin ku tepis, semakin mengikis
Semakin samar-samar pula jejak yang kau tinggalkan
            Tak sepatutnya bersikap seperti ini
            Bermain di taman langit, bukan berarti harus melangit
            Sadar!!!
Penuh keraguan???
Tak bisa disalahkan,,,
Smua itu pilihan
Dan kita yang menentukan

      08 Januari 2012
       By_Cha

Ortodoks nya orang Jawa


Menurut Cha, orang Jawa ini sangat menjunjung adat istiadat yang diwariskan oleh leluhurnya. Masyarakat Jawa juga terkenal dengan istilah “tepo seliro”. Dengan kebiasaan yang demikian, membuat orang Jawa terkenal dengan keramahannya. Seringkali ketika kita melihat orang-orang kota, terutama orang-orang perumahan, mereka cenderung apatis dengan kondisi sekitarnya. Kita sering melihat, ketiadaan interaksi yang intens dikalangan penghuni perumahan, terutama perumahan elit. Kita lihat saja, di Jakarta saat ini marak orang terutama pejalan kaki yang menggunakan masker sebagai alat penutup mulut dan hidung. Memang, kita tidak bisa menjustis bahwa tindakan tersebut salah, namun secara logika tindakan tersebut akan mengurangi intensitas seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain. Orang akan merasa ewuh ketika akan mengajak komunikasi dengan orang tersebut. Ditambah dengan kebiasaan orang Jakarte yang sering menggunakan penutup telinga atau headset ketika berjalan. Logikanya, dia tidak akan mendengar suara ketika ada orang lain mengajak ataupun bertanya kepada orang tersebut.
Perkembangan tekhnologi yang semakin canggih pun terkadang menjadi bumerang terhadap diri kita. Kita menjadi lebih asyik dengan tekhnologi yang kita miliki. Tenggelam dalam dunia artifisial, mungkin itulah kalimat yang dapat mewakili kondisi masyarakat saat ini. Orang-orang lebih asyik dengan dunianya, dunia yang dibuatnya sendiri. Inilah yang membuat seseorang “menjauhkan yang dekat, dan mendekatkan yang jauh”.
Namun, jika kita tarik pada kondisi orang Jawa seperti kasus diatas, Jakarta pun termasuk Jawa. Penghuni Jakarta pun mayoritas orang Jawa, jadi tidak heran ketika saat ini muncul istilah “wong Jowo ilng Jowone” atau “orang Jawa kehilangan Jawa-nya”.
Kembali lagi dengan budaya orang Jawa yang juga sangat menjunjung tinggi nilai-nilai dan tradisi dari leluhurnya. Kebanyakan orang Jawa sangat mempercayai perkataan dan warisan leluhurnya, yang terkadang hanya diterima tanpa ada alasan yang valid. Semisal, malam-malam nggak boleh potong kuku, nggak boleh menjahit, nggak boleh nyapu malam-malam, nggak boleh makan didepan pintu, dan masih banyak lagi.
Kita logika aja ya, semisal ada larangan untuk tidak memotong kuku di malam hari. Itu masalahnya, dikhawatirkan jika memotong kuku pada malam hari, sapa tau tangan kita bisa terluka terkena gunting kuku. Begitu pula dengan alasan kenapa kita tidak diperbolehkan menjahit dimalam hari. Perempuan juga dilarang makan di depan pintu, sebab jika makan didepan pintu akan menghalangi orang yang akan lewat di depan pintu.
Namun terkadang ketika ditanyakan kepada orang yang lebih tua, semisal orang tua yang melarang tindakan tersebut, jawabannya “wes poko’e ngono”. Jawaban seperti itulah yang terkadang masih menjadi pertanyaak akan larangan-larangan yang diberikan. Memang, tindakan-tindakan tersebut tentunya sangat melihat adat/ urf yang telah menjadi kesepakatan masyarakat. Larangan yang sering dilontarkan kepada kita, harusnya disertai dengan alasan-alasan yang dapat diterima. Agar nantinya istilah “poko’e” tidak lagi muncul, karena dengan alasan yang rasional akan mudah diterima oleh orang lain.
Selayaknya, sikap dan pemikiran yang cenderung ortodoks harus kita hilangkan. Meskipun banyak hal yang tidak bisa kita jelaskan dengan rasional, namun setidaknya ada sisi hal yang harus kita jelaskan ketika memberi larangan kepada orang lain.

Masih

Masih ku ingat kala kau ajarkan ku mengeja semesta
Malam tanpa henti akupun tetap kau ajari
sehari, akupun mulai melafalkan satu bait kata

Malam ini ku tak lagi mendengar suaramu
yak, malam ini dan malam-malam selanjutnya
aku yang merindumu, merindu mengeja semesta bersamamu,
tak lagi ku bisa dengar lantunan itu

semesta itu semakin samar-samar dalam kornea ku
Genggaman itu semakin kabur
dan semakin tak sulit tuk ku raih

Benarkah semesta ini untuk ku
seperti yang kau ceritakan kala itu


dalam diam, ku "Masih" ingin mengeja semesta bersamamu
meraih asa, menggenggam semesta, dan meraih cakrawala

Antara


Diantara kesenjangan ini, terselip duka lara
Tak menyangka, begitu egoisnya orang kota
Dua potret manusia, dengan nasib yang tak sama
            Kerasnya kehidupan tak lagi ia hiraukan
            Hanya untuk sesuap makan
            Mereka lakukan ...
Berjuta-juta orang memenuhi kota kejam ini
Kejam untuk orang-orang terbuang
Surga untuk orang-orang beruang
            Kepedulian kalian mana?
            Hae pejabat, mata buta mu harus segera kau bedah
            Tuli telingamu harus kau ubah
Dengar mereka yang teriak kelaparan
Gedung menjulang tinggi hanya membuat pandanganmu terhalang
Inikah kehidupan yang kau idamkan?
Kehidupan yang tak pernah kau sentuh dengan sebuah ‘keadilan’

 
MALIKHAH SAN © 2012 | Edited Designed by Kurungan Celotehan