About Me

Malikhah; seorang ibu rumah tangga yang juga ASN dan aktif mengajar di SMPN 1 Singorojo. Lahir pada tanggal 28 Oktober 1991, dengan semangat sumpah pemuda semangat menulis untuk meninggalkan jejak digital yang bisa bermanfaat untuk semua.

"Kesalahan adalah sebuah Pilihan"


Dulu memang kita saling bersama
Ku mengira tulus dalam kata
Tapi kini kamu berbeda
Ku terluka untuk selamanya
Caramu yang membuat diriku jauh
Kecewa di dalam hatiku

Ku tak mengerti cinta
Indahnya hanya di awal ku rasa
Mengapa kau benar
                                                Dan aku selalu salah

Kini memang kita saling berpisah
Ku merasa sesal dalam kata
Tapi kini kamu memang bersalah
Kau berubah untuk selamanya
Sifatmu yang membuat diriku jenuh
Mendua di balik mataku

Ku tak mengerti dia
Cinta ini bukan hanya kau yang rasa
Ternyata dia bukanlah pujaan dalam hatiku

                                                                                                                         by_Geisha

Entahlah

   kau yang tengah menggoreskan gita cinta, 
tak pantas kau menghapus goresan-goresan secara perlahan
   karna itu kan menyakitkan!!!
kau boleh salah menilaiku, tapi tak pantas kau membohongiku,,
kalo ingin menyakiti, sekarang juga harus kau lakukan, tak perlu menunggu hari esok
  jika kau memilih hari esok dan kau lakukan perlahan, "kubunuh kau"
dan ..-
 ku tak ingin berkata::.. "keindahan semesta ini telah tertutup dengan butiran air mata ini, karna mu"

Gerakan Perempuan Menuju Kemandirian Ekonomi


Malikhah San
      Di era globalisasi ini kemandirian perempuan sangat dibutuhkan. Perempuan yang seringkali mendapatkan stereotip (pelabelan) sebagai konco wingking, sudah bergeser menjadi perempuan yang mandiri. Eko Setyowati Abbas Rochim selaku aktifis Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) menuturkan bahwasanya dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang tiada batas ini mendorong perempuan khususnya, untuk lebih kreatif. Pada taraf nasional, pertumbuhan ekonomi berkembang semakin pesat, hal ini tentunya akan sangat menguntungkan bagi para wirausahawan untuk memacu kreatifitas mereka dalam membangun kemandirian dalam berwirausaha. Buruh dan pembantu rumah tangga menjadi sektor pekerjaan yang banyak dilakukan oleh perempuan. Padahal, upah buruh perempuan dan buruh laki-laki dibedakan. Hal ini tentunya menjadi keprihatinan kita semua kaum hawa. Begitu pula memilih untuk menjadi seorang pembantu rumah tangga juga merupakan sebuah pilihan yang maha dahsyat. Pasalnya seseorang perempuan berani mengambil keputusan untuk memilih pekerjaan yang dimata orang lain menduduki strata terbawah, sungguh pencapaian yang amazing. Melihat fenomena-fenomena tersebut, tidak menutup kemungkinan bagi para perempuan-perempuan lebih kreatif, adanya kesetaraan gender yang sudah lama diperjuangkan, tentunya akan berpengaruh terhadap usaha yang dilakukan perempuan diranah publik.
Mengapa harus Perempuan?
    Pertama, Networking. Perempuan cenderung lebih mudah dalam membangun relasi (networking), terutama dalam menjalin kerjasama dalam dunia bisnis.
Kedua, Kreatif. Biasanya seorang perempuan memiliki banyak sekali ide dan gagasan yang dapat dikembangkan, terutama untuk masalah bisnis. Mereka nggak bakalan kehabisan ide untuk membuat sebuah usaha yang menarik. Komunikasi yang dijalin oleh seorang wanita biasanya selalu update. Ketika berkumpul dengan teman-teman mereka, biasanya perempuan selalu membincangkan sesuatu yang baru, unik, dan kreatif.
      Ketiga, Tlaten. Uniknya, perempuan memiliki tingkat ketelitian lebih tinggi daripada kaum adam. Baik dalam masalah finansial, maupun masalah bisnis ato apalah itu. Setidaknya, perempuan mampu menjadi manager yang joss untuk setiap bisnis yang dilakukan. Baik bisnis online, bisnis rumah tangga, bisnis apapun itu.
      Kembali lagi dengan Bu Eko dari HIPMI, dia kembali mengatakan bahwasanya HIPMI menawarkan kerjasama untuk para wirausahawan muda untuk bergabung dengan mereka. Dengan tujuan pengembangan SDM, peningkatan pendampingan untuk mencari bantuan modal, serta program pengembangan pemasaran produk hingga pasar global HIPMI akan membantu mewujudkan mimpi-mimpi calon wirausahawan yang ingin meraih sukses. 
Selain itu HIPMI juga bertujuan untuk mencetak pengusaha yang tangguh dalam menghadapi persaingan global, meningkatkan minat untuk berwirausaha, serta mencetak para wirausahawan yang inovatif dan kreatif. 
      Begitu pula dengan penuturan Ibu Dewi Feb. Kustijanti dari LRC-KJHAM,  harapan beliau untuk perempuan, dalam mewujudkan kemandirian ekonomi diharapkan dapat mewujudkan bangsa yang maju dan bermartabat. Dia menambahkan, dengan adanya kemandirian ekonomi oleh perempuan, diharapkan perempuan dapat mencukupi kebutuhan khususnya kebutuhan pribadinya, meningkatkan ibadahnya, menjadikan diri lebih bermanfaat, serta meningkatkan bergaining position sebagai seorang perempuan. 
Begitu banyak permasalahan KDRT yang diakibatkan oleh adanya permasalahan ekonomi. Perempuan berwirausaha pada hakekatnya bukan semata-mata untuk bersaing dalam hal penghasilan dengan pasangan.                   .       Namun, semua itu lebih kepada bagaimana perempuan tidak tergantung dengan kaum hawa, tidak selalu menegadahkan tangan/ meminta kepada pasangan ketika kita membutuhkan uang. 
Dan akhirnya, “Kaya atau Miskin itu sebuah Pilihan”. Selamat berkarya, tentukan pilihan hidupmu, semoga bermanfaat. Amien.


                                                              Oleh, Malikhah
                                                       Semarang, 15 juni 2012, 01.30
*Hasil Seminar Nasional bersama UKMI AN-NISWA dan Lembaga Pengembangan dan Advokasi Perempuan (LPSAP) PMII Rayon Tarbiyah.

Hakekat Akhlak Mahmudah dan Akhlak Madzmumah


Resume, oleh:: Malikhah
Akhlaq mahmudah (terpuji) merupakan salah satu tanda bagi kesempurnaan iman seseorang. Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin bagian rubu’ munjiyat menerangkan bahwa gejala-gejala hati yang sehat merupakan cermin dari akhlaq mahmudah (terpuji) diantaranya yaitu:
a. Takut dan berharap kepada Allah
b. Taubat dan Nadam
c. Sabar dan syukur [1]

Ciri – ciri akhlak mahmudah menurut Drs. H. A. Mustofa, yaitu:
1.   Kebajikan yang mutlak
2.   Kebaikan yang menyeluruh
3.   Kemantapan
4.   Kewajiban yang dipatuhi
5.   Pengawasan yang menyeluruh
Akhlak terpuji berarti sifat-sifat atau tingkah laku yang sesuai dengan norma atau ajaran Islam. Akhlak terpuji dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
1)      Taat lahir, meliputi tobat, amar ma’ruf nahi mungkar, dan syukur
2)      Taat batin, meliputi tawakal, sabar, qana’ah
Oleh karena itu, akhlak mahmudah dapat tercermin dari seseorang, yang dapat terlihat dari keimanannya, ketaqwaannya, dan amal peerbuatannya.
Hakekat dari akhlak mazmumah itu sendiri yakni segala sesuatu yang dapat merusak jiwa seseorang. Dengan adanya akhlah mazmumah ini jiwa seseorang ini akan menjadi sakit dan kemudian akan berdampak pada jasmani seseorang.
Akhlak madzmumah merupakan segala sesuatu yang tidak baik, yang tidak seperti yang seharusnya, tidak sempurna dalam dalam kualitas, dibawah standar, kurang dalam hati, tidak mencukupi, keji, jahat, tidak bermoral, tidak menyenangkan, tidak dapat disetujui, tidak dapat diterima, sesuatu yang tercela, lawan dari baik dan perbuatan yang bertentangan dengan norma-norma masyarakat yang berlaku. Akhlak madzmumah merupakan sesuatu yang buruk, ia adalah kebalikan dari yang baik dan tidak disukai kehadirannya oleh manusia. Dan daripadanya akan memberikan dampak yang negatif bagi dirinya sendiri maupun orang lain yang ada di sekitarnya
Substansi akhlak madzmumah adalah tidak sejalan dengan hati nurani dan akal sehat. Selain itu juga akhlak ini tidak dapat di terima oleh masyarakat umum. Dalam melakukanya kita akan merasa gelisah tidak tenang dan di hantui oleh dosa. Akhlak mahmudah memberikan manfaat bagi diri sendiri dan orang lain, sedangkan akhlak madzmumah merugikan diri sendiri dan orang lain.
Pelanggaran hukum diawali dengan adanya pelanggaran etika. Oleh karena itu, perlu adanya pelajaran rekonstruksi ulang terkait proses pembelajaran akhlak. Mengingat, biasanya pelajaran akhlak hanya dilakukan dengan moralisasi (teori) dan for example. Oleh karena itu beberapa model yang harus dikembangkan dalam memberikan pendidikan akhlak adalah sebagai berikut:
1.      Klasifikasi nilai
2.      Konsiderasi
3.      Moral Cognitif
4.      Non Directif
5.      Pembentukan Rasional
Akhlak madzmumah/ sifat-sifat tercela dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
1.       Maksiat lahir, yaitu sifat tercela yang dikerjakan oleh anggota lahir, yaitu meliputi: tangan, mulut, mata, dan lain sebagainya. Sebagai contoh dari hal ini yaitu: mencuri, merampok, menganiaya, membunuh, dan perbuatan lainnya yang dapat mengakibatkan kekacauan, keamanan dan ketentraman dalam masyarakat.
2.      Maksiat bathin, yaitu sifat tercela yang dilakukan oleh anggota bathin, yaitu hati. Maksiat bathin merupakan pendorong dari maksiat lahir. Sebagai contoh dari maksiat bathin yaitu: hasad, ghadlab, namimah, takabbur, dan lain sebagainya.
Untuk mengobati hal tersebut, tentunya tidak mudah, pengobatannya dapat melalui dokter ataupun psikiater atau konseler. Dan harus dibisakan berpikir positif untuk mendapatkan ketenangan jiwa.


[1] A. Zainuddin, al-Islam 2 : Muamalah dan Akhlaq, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 1998), hlm. 87

Sukseskan Konferensi RIO +20


Oleh, Malikhah San

Konferensi RIO +20 atau lebih dikenal dengan konferensi pembangunan berkelanjutan yang akan dilaksanakan tanggal 13-22 Juni 2012 ini menaruh harapan besar untuk masyarakat dunia. Konferensi ini guna memperingati 20 tahun Konferensi PBB tentang Lingkungan dan Pembangunan (UNCED) pada 1992 di Rio de Janeiro serta 10 tahun Pertemuan Puncak Dunia untuk Pembangunan Berkelanjutan (WSSD) di Johannesburg, Afrika Selatan. Setelah mati suri selama bertahun-tahun, tentunya dengan adanya pertemuan ini agenda besar yang akan dirumuskan dapat benar-benar dijalankan.
Konferensi ini memang tepat untuk dilaksanakan, melihat krisis multidimensi yang tengah menggerogoti umat manusia ini. Dengan mengusung jargon “Future We Want” atau dalam bahasa Indonesia-nya “Masa Depan yang Kita Mau” setidaknya mewakili sebuah harapan besar untuk mewujudkan masyarakat yang produktif. Konferensi Rio +20 ini berfokus pada dua topik, yaitu ekonomi hijau (green economy) dalam konteks pembangunan berkelanjutan untuk penghapusan kemiskinan dan kerangka institusi untuk pembangunan berkelanjutan. Selain itu, ada tiga pilar sebagai kerangka konferensi: pembangunan ekonomi, pembangunan sosial, dan perlindungan lingkungan.
Meskipun tema yang diusung merupakan ide perubahan yang menyuarakan kepedulian terhadap permasalahan sosial dan lingkungan, namun kita patut skeptis. Setelah 20 tahun dari hasil KTT tahun 1992 tersebut, ternyata masih banyak kesenjangan sosial yang terjadi dalam masyarakat. Keberlangsungan KTT yang dilaksanakan tempo dulu ternyata tidak dapat menampakkan perubahan yang signifikan. Pertemuan yang saat ini sedang berlangsung jangan hanya menjadi bahan pertarungan wacana antar negara, namun lebih kepada tindakan realistis untuk masyarakat.
Kesenjangan antara negara maju dan berkembang harus segera diatasi. Negara maju yang notabene telah matang dalam berbagai hal, setidaknya mampu memberikan kontribusi dan dukungan terhadap negara berkembang. Terkait permasalahan ekonomi, sosial, maupun politik setidaknya transfer of knowledge maupun transfer tekhnologi akan sangat membantu dalam mensukseskan program ini. Semua negara harus ditegaskan untuk selalu memegang komitmen bersama untuk menjaga integritas yang termaktub dalam tiga pilar tersebut, yakni pembangunan ekonomi, pembangunan sosial, dan perlindungan lingkungan.
Sudah saatnya pembangunan berkelanjutan ini tidak hanya sekedar pembangunan ekonomi saja, namun perlu diperkuat dengan pembangunan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Pembangunan kependudukan juga harus diperhatikan, mengingat hal tersebut sangat urgen untuk menopang kemajuan masyarakat dunia. Partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan, misalnya dengan cara yang sederhana, yakni cukup dengan menghemat sumber daya alam yang dimiliki. Dengan partisipasi dan keterlibatan masyarakat dalam menyukseskan pembangunan ini, Indonesia akan tetap ada hingga setidaknya tahun 2045.

Perkuat Integritas Kader PMII


Oleh, Malikhah*
Kader merupakan ruh dari suatu organisasi, terutama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). PMII sebagai organisasi pengkaderan, tentunya harus mampu mencetak kader-kader yang militan dan loyal terhadap organisasi PMII. Loyalitas atau sering disebut dengan kesetiaan, menjadi harga mati yang harus dimiliki oleh setiap kader. Setidaknya, kader-kader PMII selalu ingat bahwa dirinya merupakan kader PMII, sehingga doktrin ke-PMII-an harus mendarah daging ditubuh setiap kader.
Keloyalitasan seorang kader tidak bisa kita ukur sebatas keaktifannya di PMII, namun lebih dari itu. Banyak hal yang dapat menjadi tolok ukur, misalnya saja keikhlasan dalam menjalankan roda organisasi. Dan hal tersebut, tentunya hanya dapat diukur dari dalam diri masing-masing individu. Loyalitas seorang kader, juga harus dibarengi dengan kualitas diri.
Kader-kader PMII yang memiliki peranan penting dalam intra kampus, harusnya patut menjadi contoh dalam segala bidang. Namun, peran mahasiswa dalam intra kampus sekarang cenderung tenggelam dalam dunia politik kampus. Ironisnya, peran serta dalam politik kampus tidak diimbangi dengan progresifitas mereka dalam pengembangan keilmuan dan intelektual.
Lantas dampaknya akan sangat fatal. Ketika kader-kader PMII harus berperan dalam dunia politik kampus, dan tidak diimbangi dengan keilmuan yang matang, yang terjadi hanyalah progresifitas tanpa kualitas. Kecendrungan kader PMII yang terseret pada persoalan politik akan semakin terasa. Dampaknya lain, nuansa kepentingan baik dari masing-masing kader maupun kelompok sangat terasa sensitif. Sehingga nuansa universalisme PMII sebagai gerbang awal dan utama serta sebagai aktor utama semakin tergerus oleh sebuah kepentingan.
      Tidak dapat dipungkiri lagi, bahwasanya kader PMII memang harus terlibat dalam student goverment. Hal ini merupakan wujud nyata kader PMII sebagai mahasiswa yang memikul tanggungjawab sebagai agen social of change dan agen social of control. Melihat kekuasaan yang ada didalam kampus memang perlu pembenahan. Karena kekuasaan dalam kampus tersebut sarat akan tanda tanya dan kekuasaan tersebut berpotensi untuk menyimpang, maka kita harus lebih pintar dalam menghadapi birokrasi kampus.
Permasalahan kemiskinan ilmu juga dapat berpotensi pada hal-hal lain. Romantisme dunia politik, hanya akan membius para kader akan dapat mengubah orientasi kader. Kecenderungan untuk membawa persoalan kepada masalah politik, akan terlihat jelas. Sehingga persoalan apapun pasti dikaitkan dengan kata “politik”. Romantisme terhadap dunia politik hanya akan menjadikan high intensity conflik yakni tingginya intensitas konflik terutama antar kader ataupun antar kelompok. Jika demikian, tujuan dan peran PMII akan terkalahkan karena adanya hegemoni politik yang tinggi.
Oleh sebab itu, ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk menyikapi hal tersebut.
Pertama, rekonstruksi ulang pola pengkaderan. Selama ini, orientasi awal perekrutan kader, hanya sebatas bagaimana mendapatkan kader dalam jumlah yang banyak. Kuantitas kader memang perlu dipertimbangkan, namun prioritas utama harusnya yakni pembangunan dan pemberdayaan kader dalam bidang keilmuan.
Kedua, internalisasi Nilai-nilai Dasar Pergerakan (NDP). Dengan pembekalan NDP yang kuat dan mampu mengakar dalam diri kader, maka akan terbentuk pribadi kader yang loyal. Sehingga ketika mereka harus terlibat dalam dunia perpolitikan kampus dan harus dihadapkan dengan berbagai konflik, seorang kader tidak akan “lupa” dengan PMII.
 Ketiga, bekali kader-kader dengan berbagai wacana keilmuan yang dapat digunakan ketika dia beraktualisasi di lingkungan kampus. Sehingga peran serta kader dalam dunia politik dikampus akan berkualitas. Selain itu, dengan pembangunan kapasitas diri kader (capacity building) akan menghasilkan kader-kader yang kritis dan responsif dalam menghadapi isu-isu yang ada dalam kampus.

                            


                              *Penulis adalah mahasiswa Pendidikan Akuntansi Islam*
                                         

Media Pembelajaran


LANDASAN PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN

MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Media Pembelajaran
Dosen Pengampu: DR. Fatah Syukur, M. Ag


Disusun oleh,
              Nama          : Malikhah
              NIM            : 103111123
              Kelas          : PAI 4C


FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA  ISLAM  NEGERI  WALISONGO
SEMARANG
2012


LANDASAN PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN

I.          PENDAHULUAN
Pada hakikatnya proses belajar mengajar adalah proses komunikasi. Dalam komunkasi sering kali timbul dan terjadi penyimpangan-penyimpangan sehingga komunikasi tersebut tidak efektif dan efisien, antara lain disebabkan oleh adanya kecenderungan verbalisme, ketidaksiapan siswa, kurangnya minat dan kegairahan siswa untuk belajar, dsb.[1]
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) saat ini berkembang sangat pesat. Dampak perkembangan IPTEK terhadap proses pembelajaran adalah diperkayanya sumber dan media pembelajaran, seperti buku teks, modul, film, video, televisi, slide, hypertext, web, dan sebagainya. Guru profesional dituntut mampu memilih dan menggunakan berbagai jenis media pembelajaran yang ada di sekitarnya.
Salah satu usaha untuk mengatasi keadaan demikian adalah penggunaan media secara terintegrasi dalam proses belajar mengajar.  Sebab fungsi media disamping sebagai stimulus informasi, sikap, dan lain-lain juga untuk meningkatkan keserasian dalam penerimaan informasi.
Pemilihan media pembelajaran yang akan digunakan dalam proses belajar mengajar harus disesuaikan dengan materi yang akan disajikan sehingga dapat menarik perhatian siswa. Pemilihan media dalam pembelajaran juga harus disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik. Sehingga banyak kriteria yang harus dipertimbangkan untuk memilih media yang akan digunakan, agar tujuan yang ingin dicapai dapat terlaksana dengan baik.
Dalam memilih media pembelajaran juga harus melihat dan mempertimbangkan berbagai aspek, misalnya aspek psikologis, tekhnologis, dan sosiologis. Tentunya, hal ini akan berpengaruh terhadap keefektifan dan keefisiennya dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, makalah ini akan membahas mengenai landasan penggunaan media pmbelajaran yang dilihat dari aspek psikologi, tekhnologi, dan sosiologi.

II.          RUMUSAN MASALAH
A.    Apakah Landasan Historis Penggunaan Media Pembelajaran?
B.     Apakah Landasan Filosofis Penggunaan Media Pembelajaran?
C.     Apakah Landasan Keagamaan Penggunaan Media Pembelajaran?
D.    Apakah Landasan Psikologi Penggunaan Media Pembelajaran?
E.     Apakah Landasan Teknologi Penggunaan Media Pembelajaran?
F.      Apakah Landasan Sosiologi Penggunaan Media Pembelajaran?

III.          PEMBAHASAN
A.           Landasan Historis Penggunaan Media Pembelajaran
Yang dimaksud dengan landasan historis media pembelajaran ialah rational penggunaan media pembelajaran ditinjau dari sejarah konsep istilah media digunakan dalam pembelajaran. Perkembangan konsep media pembelajaran sebenarnya bermula dengan lahirnya konsepsi pengajaran visual atau alat bantu visual sekitar tahun 1923. Yang dimaksud dengan alat bantu visual dalam konsepsi pengajaran visual ini adalah setiap gambar, model, benda atau alat yang dapat memberikan pengalaman visual yang nyata kepada pebelajar.
Kemudian kosep pengajaran visual ini berkembang menjadi “audio visual instruction” atau “audio visual education” yaitu sekitar tahun 1940. Sekitar tahun 1945 timbul beberapa variasi nama seperti “audio visual materials”, “audio visual methods”, dan “audio visual devices”. Inti dari kosepsi ini adalah digunakannya berbagai alat atau bahan oleh guru untuk memindahkan gagasan dan pengalaman pebelajar melalui mata dan telinga. Pemanfaatan konsepsi audio visual ini dapat dilihat dalam “Kerucut Pengalaman” dari Edgar Dale.
Perkembangan besar berikutnya adalah munculnya gerakan yang disebut “audio visual communication” pada tahun 1950-an. Perkembangan berikutnya terjadi sekitar tahun 1952 dengan munculnya konsepsi “instructional materials” yang secara kosepsional tidak banyak berbeda dengan konsepsi sebelumnya. Beberapa istilah yang merupakan variasi penggunaan konsepsi “instructional materials” adalah “teaching/ learning materials”, “learning resources”.

B.            Landasan Filosofis Penggunaan Media Pembelajaran
Konsep model pendidikan tekhnologis secara filosofis mirip dengan model pendidikan klasikal. Artinya bertumpu pada asumsi bahwa model pendidikan itu hendaknya merupakan suatu bentuk atau contoh utama dari masyarakat yang lebih luas sebagai hasil karya pendidikan.[2]
Terdapat pandangan bahwa dengan digunakannya berbagai jenis media hasil teknologi baru di dalam kelas, akan berakibat proses pembelajaran yang kurang manusiawi. Dengan kata lain, penerapan teknologi dalam pembelajaran akan terjadi dehumanisasi.
Penerapan teknologi tidak berarti dehumanisasi. Jika guru menganggap siswa sebagai anak manusia yang memiliki kepribadian, harga diri, motivasi, dan memiliki kemampuan pribadi yang berbeda dengan yang lain,maka baik menggunaka media hasil teknologi baru atau tidak, proses pembelajaran yang dilakukan akan tetap menggunakan pendekatan humanis.
Diyakini media dalam pembelajaran juga mampu mengubah persepsi peserta didik. Persepsi juga menjadi suatu yang sangat penting, karena menjadi landasan berfikir peserta didik dalam belajar. Dalam pengertian lain, persepsi mampu berpengaruh dalam pelajar. Pengaruh itu dapat berupa daya ingat, pembentukan konsep, pembinaan sikap dan lain-lain.[3] Oleh karena itu, makna filosofis dalam penggunaan media pembelajaran, disamping untuk memudahkan juga mempunyai banyak manfaat lain, seperti membantu pemahaman, pembentukan konsep dan lain sebagainya.

C.           Landasan Keagamaan Penggunaan Media Pembelajaran
Dalam masalah penerapan media pendidikan agama, harus memperhatikan jiwa keagamaan pada anak didik. Oleh karena faktor inilah yang justru menjadi sasaran media pendidikan agama yang sangat prinsipil. Dengan tanpa memperhatikan serta memahami perkembangan jiwa anak atau tingkat daya fikir anak didik, guru agama akan sulit diharapaknan untuk menjadi sukses.
Media perspektif Islam juga mempunyai landasan dalam penggunaanya. Islam sangat menganjurkan adanya media dalam proses pembelajaran. Karena Islam percaya bahwa adanya media mampu mempermudah suatu pembelajaran. Hal ini sangat sesuai dengan prinsip Islam untuk memudahkan segala sesuatu dan dilarang untuk mempersulitnya. Seperti sabda Rasulullah SAW yang menganjurkan agar mempermudah dan jangan mempersulit segala sesuatu. Dari sabda itu maka sangat jelas bahwa dalam menyelenggarakan suatu pembelajaran hendaknya dipermudah dan menyenangkan. Karena dengan begitu peserta didik lebih tertarik untuk memahami dan lebih mudah memahami materi yang disampaikan.
Sebagaimana firman Allah surat An-Nahl ayat 125 :
äí÷Š$# 4n<Î) È@Î6y y7În/u ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9Ï»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) y7­/u uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#Î6y ( uqèdur ÞOn=ôãr& tûïÏtGôgßJø9$$Î/ ÇÊËÎÈ  

Artinya : "Serulah (manusia) pada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (An-Nahl :125) "

Hikmah adalah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang haq dan yang batil. Bermacam-macam orang mengartikan kata “Hikmah” dalam arti “Bijaksana.” Adapula yang mengartikan hikmah dengan cara yang tepat dan efektif. Syekh Muhammad Abduh dalam tafsir Al Manar (juz III) mengartikan kata hikmah dengan “Alasan-alasan ilmiah dengan dalil dan hujjah yang dapat diterima oleh kekuatan akal (Humaidi, 1974 : 8). Dalam Lisanul Arab diterangkan bahwa” : Hakim yaitu orang yang berhikmah, ialah orang yang paham benar tentang seluk beluk kaifiat/cara mengerjakan sesuatu dan dia mahir didalamnya.
Dapat disimpulkan bahwa hikmah adalah cara yang bijaksana, tepat, efektif, dan dapat diterima dengan akal. Oleh karena itu tugas pengamatan yang pertama harus dilakukan oleh guru agama sebagai pendidik ialah pengamatan langsung kepada perkembangan keagamaan anak didik. Sebab perkembangan sikap keagamaan anak sangat erat hubungannya dengan sikap percaya kepada Tuhan, yang telah diberikan di lingkungan keluarga atau masyarakat, yang selanjutnya dapat dijadikan bahan dasar pengertian dalam melaksanakan tugas sesuai dengan metode yang dipakai dalam proses belajar mengajar.

D.           Landasan Psikologis Penggunaan Media Pembelajaran
Berdasarkan landasan psikologis, belajar adalah proses yang kompleks dan unik kompleks karena proses pembelajarannya mengikutsertakan seluruh aspek kepribadian, jasmani maupun rohani. Unik artinya setiap pembelajaran memiliki cara belajarnya sendiri yang berbeda dengan pebelajaran lain. Sebagai akibat perbedaan individual, seperti minat, bakat, kemampuan, kecerdasan, serta tipe belajar.
Ditinjau berdasarkan landasan psikologis penggunaan media pembelajaran, media pembelajaran digunakan dengan memperhatikan kondisi peserta didik. Banyaknya kompleksitas dan uniknya proses belajar, maka ketepatan pemilihan media dan metode pembelajaran akan sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Di samping itu, persepsi siswa juga sangat mempengaruhi hasil belajar.
Perlu adanya konsep diri yang juga harus disiapkan oleh siswa, agar siswa juga siap dalam menerima materi yang disampaikan menggunakan media pembelajaran. Calhaoun dan Acocella (1995) mendefinisikan konsep diri sebagai gambaran mental diri seseorang. Hurlock (1979) mengatakan bahwa konsep diri merupakan gambaran seseoraang mengenai diri sendiri yang merupakan gabungan dari keyakinan fisik, psikologis, emosional aspiratif, dan prestasi yang mereka capai.[4] Karena media pembelajaran juga harus disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik, maka setidaknya siswa mampu mengenali dirinya dan mampu mengidentifkasi kebutuhan-kebutuhannya.
Levie & Levie (1975) telah mereview hasil-hasil penelitian tentang belajar melalui stimulus gambar dan stimulus kata atau visual dan verbal menyimpulkan bahwa stimulus visual membuahkan hasil belajar yang lebih baik untu tugas-tugas seperti mengingat, mengenali, mengingat kembali, dan menghubung-hubungkan fakta dan konsep.[5] Kajian psikologi menyatakan bahwa anak akan lebih mudah mempelajari hal yang konkrit ketimbang yang abstrak.
Berkaitan dengan berbagai hal yang kongkret dan abstrak ini, teori Dale’s Cone of Experience (Kerucut Pengalaman Dale, 1969) menjadi salah satu landasan teori penggunaan media pembelajaran. Konsep kerucut ini merupakan elaborasi yang rinci dari konsep tiga tingkatan pengalaman yang dikemukakan Bruner yakni pengalaman langsung, pengalaman gambar, dan pengalaman abstrak. Hasil belajar seseorang diperoleh mulai dari pengalaman langsung (kongkret), kenyataan yang ada di lingkungan kehidupan seseorang, kemudian melalui lambang tiruan, sampai kepada lambang verbal (abstrak). Semakin ke atas dipuncak kerucut, semakin abstrak media penyampai pesan itu.
Dasar pengembangan kerucut bukan merupakan tingkatan kesulitan, melainkan tingkat keabstrakan. Pengalaman langsung akan memberikan kesan paling utuh dan paling bermakna mengenai informasi dan gagasan yang terkandung dalam pengalaman itu, karena ia melibatkan indera penglihatan, pendengaran, perasaan, penciuman, dan peraba. Inilah yang dikenal learning by doing misalnya keikutsertaan dalam menyiapkan makanan, melakukan percobaan di laboratorium, dll.[6] Hal tersebut mampu memberikan dampak langsung terhadap pertumbuhan pengetahuan, ketrampilan, serta sikap.
Berbeda dengan pendapat Jerome Bruner, dia mengemukakan bahwa dalam proses pembelajaran hendaknya menggunakan urutan dari belajar dengan gambaran atau film (iconic representation of experiment) kemudian ke belajar dengan simbol, yaitu menggunakan kata-kata (symbolic representation). Menurut Bruner, hal ini juga berlaku tidak hanya untuk anak tetapi juga untuk orang dewasa. Charles F. Haban juga mengemukakan bahwa sebenarnya nilai dari media terletak pada tingkat realistiknya dalam proses penanaman konsep, ia membuat jenjang berbagai jenis media mulai yang paling nyata ke yang paling abstrak.
Meskipun demikian, dalam proses pembelajaran tidak harus dimulai dengan adanya pengalaman langsung, tetapi dapat dimulai dengan jenis pengalaman yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Oleh karena itu, perlu adanya media pembelajaran yang dapat menyampaikan dengan jelas pembelajaran yang akan disampaikan.

E.            Landasan Teknologi Penggunaan Media Pembelajaran
Teknologi pembelajaran menjadi suatu bidang kajian khusus ilmu pendidikan dengan obyek formal “belajar” pada manusia secara pribadi atau yang tergabung dalam suatu organisasi. Belajar disini, tidak hanya terbatas pada pendidikan formal saja, melainkan juga belajar pada keluarga, masyarakat, dunia usaha, bahkan pemerintahan. Oleh karena itu, teknologi pembelajaran berupaya merangsang dan menumbuhkan keinginan belajar siswa.
Teknologi pembelajaran merupakan proses yang kompleks dan terpadu yang menyangkut orang, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis masalah, merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi, dan mengelola pemecahan masalah yang berkaitan dengan segala aspek belajar.[7] Selain itu, teknologi pendidikan juga dapat diartikan sebagai media yang lahir dari perkembangan alat komunikasi yang digunakan untuk mencapai sebuah tujuan pendidikan.
Media pembelajaran sebagai bagian dari teknologi pembelajaran memiliki enam manfaat potensial dalam memecahkan masalah pembelajaran, yaitu:
  1. Meningkatkan produktivitas pendidikan (Can make education more productive).
  2. Memberikan kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual (Can make education more individual).
  3. Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran (Can give instruction a more scientific base).
  4. Lebih memantapkan pembelajaran (Make instruction more powerful).
  5. Dengan media membuat proses pembelajaran menjadi lebih langsung/seketika (Can make learning more immediate).
  6. Memungkinkan penyajian pembelajaran lebih merata dan meluas (Can make access to education more equal).[8]
Selain itu, penggunaan tekhnologi dalam pembelajaran mempunyai nilai-nilai sebagai berikut:
1.        Media dapat mengatasi berbagai keterbatasan pengalaman yang dimiliki peserta didik
2.        Media dapat mengatasi ruang kelas
3.        Media memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungan
4.        Media menghasilkan keseragaman pengamatan
5.        Media dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru
6.        Media dapat membangkitkan motivasi dan merangsang siswa untuk belajar
7.        Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, kongrit dan realistis
Oleh karena itu, media dalam pembelajaran sangat diperlukan, karena media dapat memberikan dampak yang potensial bagi siswa. Pemecahan masalah juga dapat diselesaikan dengan menggunakan media pembelajaran, sehingga ketika siswa mengalami kesulitan dalam belajar, media pembelajaran mampu membantu dalam proses belajar anak.
Menurut Donald P Ely (1983), tekhnologi pembelajaran meramu sejumlah disiplin dasar dan bidang terapannya menjadi suatu prinsip, prosedur, dan ketrampilan. Teknologi pembelajaran dibangun atas dasar prinsip-prinsip yang ditarik dari berbagai teori, diantaranya adalah teori belajar dan pembelajaran, teori dan teknologi komunikasi, teori dan teknologi informasi, dan teori ekonomi, dll. Menurut Seels dan Richey (1994) beberapa disiplin ilmu lain yang menjadi akar intelektual teknologi pembelajaran adalah psikologi, komunikasi, ilmu komputer, bisnis, dan pendidikan.[9]
Teknologi tidak merupakan kunci kearah sukses yang pasti dalam pendidikan. Akan tetapi teknologi pendidikan menunjukkan suatu prosedur atau metodologi yang dapat diterapkan dalam pendidian. Maka teknologi pendidikan menjadi usaha yang sungguh-sungguh untuk memperbaiki metode mengajar dengan menggunakan prinsip-prinsip ilmiah yang membuktikan keberhasilan dalam bidang lain.[10]
Sasaran akhir dari teknologi pembelajaran adalah memudahkan siswa untuk belajar. Untuk mencapai sasaran akhir ini, teknologi-teknologi di bidang pembelajaran harus mampu mengembangkan berbagai sumber belajar untuk memenuhi kebutuhan setiap siswa sesuai dengan karakteristiknya.
Dalam upaya itu, teknologi berkerja mulai dari pengembangan dan pengujian teori-teori tentang berbagai media pembelajaran melalui penelitian ilmiah, dilanjutkan dengan pengembangan desainnya, produksi, evaluasi dan memilih media yang telah diproduksi, pembuatan katalog untuk memudahkan layanan penggunaannya, mengembangkan prosedur penggunaannya, dan akhirnya menggunakan baik pada tingkat kelas maupun pada tingkat yang lebih luas lagi (diseminasi).

Dengan demikian, dari sudut pandang teknologi, proses belajar setiap siswa akan menjadi mudah dengan hadirnya media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik belajarnya. Dengan penggunaan teknologi yang tepat, maka akan mudah untuk menyampaikan bahan ajar kepada siswa. Sehingga pembelajaran yang dilakukan akan menjadi lebih baik dan tentunya akan menghasilkan peserta didik yang berkualitas.

F.            Landasan Sosiologis Penggunaan Media Pembelajaran
Kegiatan pendidikan merupakan suatu proses interaksi antara dua individu, bahkan dua generasi muda mengembangkan diri. Pendidikan menjadi media sosialisasi pandangan hidup dan kecakapan yang harus diterima masyarakat (terutama anak-anak).[11] Berkomunikasi merupakan bentuk interaksi yang dilakukan dengan orang lain. Keinginan untuk berhubungan dengan orang lain merupakan naluri manusia yang ingin hidup berkelompok. Komunikasi juga dibedakan menjadi 2, yakni komunikasi langsung dan tidak langsung. Dalam hal ini, komunikasi yang menggunakan media pembelajaran adalah komunikasi tidak langsung. Komunikasi tidak langsung menggunakan media sebagai perantara. Sering kali komunikasi jenis ini disebut dengan mediated communication.[12] Media pembelajaran memiliki peranan yang sangat urgen dalam memperlancar komunikasi.
Pendidikan mampu memodifikasi dari perilaku yang dicapai melalui apalikasi kondisi yang diperkuat, melalui peralatan teknologi. Isi pelajaran dan metodologi pengajaran ditetapkan dengan dukungan teknologi. Secara esensial mesin pengajaran menggantikan peranan guru, dan siswa berperan sebagai trainee yang mempelajari semua data serta ketrampilan yang berguna bagi jabatan atau kedudukannya dibidang tekhnologi di masa yang akan datang. Bantuan teknologi kepada manusia, memungkinkan manusia memahami tumbuhnya masyarakat teknologi yang sangat kompleks.[13] Disini, terlihat adanya pengaruh media pembelajaran terhadap keadaan sosial yang terjadi disekitar siswa.
Kegiatan pendidikan yang sistematis terjadi di lembaga sekolah yang dengan sengaja dibentuk oleh masyarakat. Perhatian sosiologi pada kegiatan pendidikan semakin intensif. Dengan meningkatkan perhatian sosiologi pada kegiatan pendidikan tersebut, maka lahirlah cabang sosiologi pendidikan. Untuk terciptanya kehidupan bermasyarakat yang rukun dan damai, terciptalah nilai-nilai sosial yang dalam perkembangannya menjadi norma-norma sosial yang mengikat kehidupan bermasyarakat dan harus dipatuhi oleh masing-masing anggota masyarakat.


IV.          ANALISIS
Perkembangan IPTEK membuat proses pembelajaran harus diperkaya dengan penggunaan media pembelajaran yang tepat guna. Sebab, dengan adanya media pembelajaran yang digunakan, maka akan mempermudah guru menyampaikan materi, sebaliknya mempermudah siswa untuk menerima materi yang disampaikan. Perlu adanya tinjauan untuk memilih media pembelajaran, baik itu dilihat dari landasan psikologi, teknologi, ataupun sosiologi. Ketiga hal tersebut tentunya memiliki keterkaitan satu sama lain. Berikut analisis terkait ketiga landasan yang mendasari adanya penggunaan media dalam pembelajaran:
1.    Landasan Psikologi Penggunaan Media Pembelajaran
          Landasan psikologi lebih berbicara mengenai alasan mengapa media pembelajaran dipergunakan, ditinjau dari kondisi siswa dan bagaimana proses belajar itu terjadi. Belajar adalah suatu proses yang mengakibatkan adanya perubahan perilaku oleh adanya pengalaman. Perubahan perilaku itu dapat berupa bertambahnya pengetahuan, diperolehnya keterampilan atau kecekatan dan berubahnya sikap seseorang yang telah belajar.
          Pengetahuan dan pengalaman itu diperoleh melalui alat indera siswa, oleh karena itu diperlukan rangsangan (menurut teori Behaviorisme) atau informasi (menurut teori Kognitif), sehingga respons terhadap rangsangan yang telah diproses itulah hasil belajar yang diperoleh. Disinilah media menjadi penting untuk digunakan untuk mencapai hasil belajar yang maksimal. Media memiliki peranan penting sebagai pemberi stimulus terhadap siswa untuk mempermudah dalam proses belajar.

2.    Landasan Teknologi Penggunaan Media Pembelajaran
          Teknologi pembelajaran sebagai perangkat lunak yang berbentuk cara-cara sistematis dalam memecahkan masalah pembelajaran semakin canggih dan mendapatkan tempat secara luas dalam dunia pendidikan (Suparman dan Zuhairi, 2004: 345-346). Dengan demikian, aplikasi praktis teknologi pembelajaran dalam pemecahan masalah belajar mempunyai bentuk kongkret dengan adanya sumber belajar yang menfasilitasi peserta didik untuk belajar.[14]
          Sasaran akhir dari teknologi pembelajaran adalah memudahkan siswa untuk belajar. Untuk mencapai sasaran akhir ini, para ahli teknologi di bidang pembelajaran mengembangkan berbagai sumber belajar untuk memenuhi kebutuhan setiap siswa sesuai dengan karakteristiknya.
          Semua kegiatan ini dilakukan oleh para ahli teknologi berpijak pada prinsip bahwa suatu media hanya memiliki keunggulan dari media lainnya bila digunakan oleh siswa yang memiliki karakteristik sesuai dengan rangsangan yang ditimbulkan oleh media pembelajaran itu. Dengan demikian, proses belajar setiap pebelajar akan dimudahkan dengan hadirnya media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik belajarnya.

3.    Landasan Sosiologi Penggunaan Media Pembelajaran
          Landasan sosiologi memungkinkan adanya pengaruh interaksi antara individu satu dengan yang lain. Dalam hal ini, komunikasi menjadi salah satu bentuk interaksi sesama manusia. Perhatian sosiologi pada kegiatan pendidikan semakin intensif, terlebih jika didukung dengan adanya media pembelajaran, maka akan semakin memperlancar komunikasi.
          Untuk terciptanya kehidupan bermasyarakat yang rukun dan damai, terciptalah nilai-nilai sosial yang dalam perkembangannya menjadi norma-norma sosial yang mengikat kehidupan bermasyarakat dan harus dipatuhi oleh masing-masing anggota masyarakat.


V.          KESIMPULAN
       Penggunaan media dalam proses pembelajaran dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas prestasi belajar siswa. Dengan adanya media, proses pembelajaran menjadi efektif, interaktif, dan efisien. Secara praktis media pembelajaran, bukan berarti menjadikan pembelajaran menjadi proses yang kurang manusiawi (dehumanisasi) ataupun menggusur peran siswa dalam belajar. Namun sebaliknya kehadiran media tersebut sangat positif, asalkan siswa tetap menggunakan pendekatan humanisme dalam pembelajarannya, dan dapat mengambil manfaat dari media tersebut.
       Interaksi antara penggunaan media pembelajaran dan karakteristik belajar siswa dalam menentukan hasil belajar siswa. Artinya, siswa akan mendapat keuntungan yang signifikan bila ia belajar dengan menggunakan media yang sesuai dengan karakteristik tipe atau gaya belajarnya. Siswa yang memiliki tipe belajar visual akan lebih memperoleh keuntungan bila pembelajaran menggunakan media visual, seperti gambar, diagram, video, atau film. Sementara siswa yang memiliki tipe belajar auditif, akan lebih suka belajar dengan media audio, seperti radio, rekaman suara, atau ceramah guru.
       Jadi, dalam menggunakan media pmbelajaran, selain memperhatikan kebutuhan siswa, juga diperlukan tinjauan khusus landasan penggunaan media pembelajaran. Landasan yang dapat kita gunakan sebgai acuan yakni landasan psikologi, tekhnologi, maupun landasan sosiologi.





















DAFTAR PUSTAKA

            Arsyad, Azhar. 2003. Media Pembelajaran. Jakarta: PT. Raja Grafindo     
            Ghufron, M. Nur, dkk. 2010. Teori-Teori Psikologi. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media
            Nasution. 2011. Tekhnologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
            Soyomukti, Nurani. 2010. Teori-Teori Pendidika. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media
            Prawiradilaga, Dewi Salma dan Eveline Siregar. 2008. Mozaik Teknologi Pendidikan. Jakarta: Kencana   
            Sudjana, Nana. 2007. Tekhnologi Pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algensindo
            Warsito, Bambang. 2008. Tekhnologi Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta
            Wilkinson, Gene L. 1984. Media dalam Pembelajaran. Jakarta: CV. Rajawali
                Usman, Basyiruddin. 2002. Media Pembelajaran.. Jakarta: Ciputat Pers
            www.stittaqwa.blogspot.com
                                        


                [1] Basyiruddin Usman, Media Pembelajaran, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hlm. 13
                [2] Nana Sudjana, Tekhnologi Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Offset, 1989), hlm. 24
[3] Dewi Salma Prawiradilaga dan Eveline Siregar, Mozaik Teknologi Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2008), hlm. 134
                [4] M. Nur Ghufron, dkk, Teori-Teori Psikologi, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2010), hlm. 13
                [5] Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2003), hlm. 8-9
                [6] Ibid, hlm. 9-11
                [7] Gene L. Wilkinson, Media dalam Pembelajaran, (Jakarta: CV. Rajawali, 1984), hlm. 3
                [8] www.stittaqwa.blogspot.com
                [9] Bambang Warsito, Tekhnologi Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), hlm.2
                [10] Nasution, Tekhnologi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), hlm. 12-13
                [11] Nurani Soyomukti, Teori-Teori Pendidikan, 2010. (Ar-Ruzz Media, Yogyakarta), hlm. 358
                [12] Nana Sudjana, Tekhnologi Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Algensindo: 2007), hlm. 29
[13] Ibid, hlm. 25
                [14] Bambang Warsita, Op. Cit, hlm. 10

 
MALIKHAH SAN © 2012 | Edited Designed by Kurungan Celotehan