About Me

Malikhah; seorang ibu rumah tangga yang juga ASN dan aktif mengajar di SMPN 1 Singorojo. Lahir pada tanggal 28 Oktober 1991, dengan semangat sumpah pemuda semangat menulis untuk meninggalkan jejak digital yang bisa bermanfaat untuk semua.
Showing posts with label opini. Show all posts
Showing posts with label opini. Show all posts

Perangi Ragam Kenakalan Remaja

Maraknya kejahatan di Indonesia menjadi sebuah keprihatinan. Sayangnya, pelaku kejahatan justru para remaja yang masih berstatus pelajar. Perilaku kejahatan yang dilakukan para pelajar ini, membawa mereka pada gerbang hukum di Indonesia. Contoh kasus tertangkapnya sepuluh tersangka begal, empat diantaranya adalah pelajar SMA. Mereka ditangkap usai beraksi di depan Mushola Kyai Morang, Penggaron Kidul, Pedurungan (Suara Merdeka, 17 Maret 2015). Kasus terbaru, yang dihimpun Suara Merdeka tak kalah menghebohkan. Lima mantan aktivis mahasiswa terjaring dalam kasus korupsi dana bantuan sosial (bansos) Pemprov Jateng tahun 2011 senilai Rp 328 juta (Suara Merdeka, 5 Mei 2015).
Kasus diatas menunjukkan bahwa Indonesia tengah mengalami degradasi moral akut. Degradasi moral ini tengah menggerogoti para generasi muda, khususnya pelajar. Degradasi moral yang menjelma menjadi kenakalan remaja inilah yang patut diperangi semua kalangan. Istilah kenakalan remaja berasal dari istilah bahasa Inggris yakni juvenile delinquent. Menurut Kartini Kartono, juvenile delinquent  merupakan perilaku anak yang tidak sesuai dengan norma sosial. Perilaku tersebut bertentangan dengan norma masyarakat dan juga norma agama.
Dari penjelasan Kartini Kartono, dapat ditarik benang merah, bahwa perilaku yang tidak sesuai dengan norma aturan yang berlaku dalam masyarakat merupakan perilaku menyimpang. Lebih dari itu, perilaku menyimpang bukan sekedar perilaku yang tidak sesuai dengan norma sosial, terdapat nilai pelanggaran hukum didalam perilaku yang dilakukan.
Perilaku menyimpang tidak sebatas pada kasus begal dan korupsi saja. Kasus bocornya soal Ujian Nasional (UN) tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) juga merupakan penyimpangan. Soal yang bersifat sangat rahasia, mampu menembus ke tangan-tangan nakal dan akhirnya tersebar diberbagai media. Bocornya soal ini diadukan oleh salah satu siswa SMA 3 Yogyakarta, Muhammad Tsaqif Wismadi dan empat orang temannya. Keberanian Tsaqif dan teman-temannya ini mendapatkan apresiasi dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berupa pin “Berani Jujur Hebat” (Suara Merdeka, 23 April 2015).
Kenakalan remaja yang mampu menjelma menjadi beragam tindakan. Ditengah arus globalisasi, pemerintah dan masyarakat tegah berupaya memberantas kejahatan di Indonesia. Langkah tegas pemerintah dalam memerangi peredaran narkoba, tindakan pencurian, pembunuhan, bahkan korupsi patut didukung oleh generasi muda masa kini.
Mengenai kenakalan remaja, Zakiah Daradjat mengelompokkan kenakalan menjadi dua jenis kenakalanPertamakenakalan ringan (keras kepala, tidak patuh pada orang tua, bolos sekolah, tidak mau belajar, sering berkelahi, suka berkata-kata tidak sopan, cara berpakaian yang menggangu ketentraman dan kenyamanan orang lain). Keduakenakalan berat (mencuri, memfitnah, merusak milik orang lain, ngebut, minum-minuman keras, dan kenakalan seksual yaitu tindakan susila terhadap lawan jenis tindakan susila terhadap remaja orang sejenis).
Ragam kasus kenakalan yang dilakukan remaja, perlu menjadi sorotan tajam. Pemuda menjadi aset bangsa Indonesia yang sangat berharga. Pendidikan sebagai solusi sekaligus upaya pembentukan akhlak para remaja sangat penting. Pendidikan sejak dini tanpa batas waktu, dengan didukung seluruh elemen masyarakat, akan sangat membantu untuk memperbaiki moral pemuda. Pendidikan keluarga sebagai gerbang awal pendidikan anak, memiliki peranan yang sangat penting. Orang tua dapat menanamkan nilai-nilai akhlak mulia terhadap anak melalui pembiasaan. Sedangkan dalam pendidikan formal, tugas guru dan lingkungan sekolah untuk menanamkan akhlak mulia bagi anak juga penting. Upaya guru dalam memperbaiki akhlak siswa, tidak terbatas pada lingkungan sekolah semata. Peranan guru untuk ikut aktif dalam mendidik siswa diluar jam sekolah begitu penting. Semuanya akan menjadi sukses dengan adanya dukungan masyarakat yang mampu memberikan dorongan dan pembiasaan positif di lingkungan sekitar anak. Dengan dukungan berbagai pihak dapat menjadikan generasi muda menjadi lebih baik.

Kebijakan Ujian Nasional Online, Siapkah?


Mengintip persiapan menjelang Ujian Nasional (UN) membuat memori penulis tergugah ke masa-masa beberapa tahun silam. UN sebagai ritual kelulusan siswa tentu wajib diikuti oleh siswa di kelas tingkat akhir. Momok UN yang dahulunya terkesan seram dan garang, kini telah berubah menjadi ramah bagi siswa. Betapa tidak, UN yang dari tahun ke tahun menjadi penentu kelulusan siswa, kini tak lagi berlaku. Ujian nasional hanya digunakan untuk salah satu pertimbangan kelulusan siswa. Selebihnya pihak sekolah di masing-masing satuan pendidikan yang berwenang menentukan kelulusan siswa.
Kita tentu ingat teori Paulo Freire tentang pendidikan yang membebaskan. Seolah ingin menggerakkan pendidikan yang tidak menekan pada anak, pemerintah tengah memberikan kelonggaran bagi siswa. Meskipun UN tak lagi menjadi satu-satunya penentu kelulusan, pastinya keseriusan menghadapi ujian yang dilaksanakan di masing-masing sekolah harus tetap dikuatkan.
Meski demikian, persiapan ujian nasional patut diprioritaskan. Berbagai pihak berperan penting dalam mensukseskan program tahunan dalam dunia pendidikan ini. Ujian nasional yang akan digelar pada bulan April untuk tingkat SMA sederajat dan bulan Mei untuk SMP sederajat ini tinggal menghitung hari.
Peran Semua Pihak
Meski UN tidak lagi menjadi satu-satunya penentu kelulusan, semua pihak berkewajiban mengawal pelaksanaan ujian ini. Sebab, hasil dari ujian inilah yang akan menjadi penentu bagi keberlangsungan sekolah siswa dijenjang selanjutnya. Guru memiliki peranan penting dalam mengawal sekaligus mendidik dan memberikan materi bagi siswa untuk bekal ujian nasional. Pastinya diberbagai sekolahan, kini tengah sibuk dengan agenda jam tambahan bagi siswa yang akan mengikuti ujian. Tak hanya itu, berbagai kelompok diskusi kecil pun dibuka oleh beberapa guru sebagai bahan persiapan yang lebih matang.
Orang tua sebagai motor penggerak di rumah juga memiliki andil yang sangat penting. Pengawasan sekaligus pendampingan kepada siswa yang akan mengikuti ujian sangat penting diperhatikan. Jangan sampai terjadi kasus bunuh diri akibat siswa merasa depresi. Orang tua juga perlu menyiapkan mental anak agaranak memiliki pribadi yang tangguh, sehingga pasca mengikuti ujian anak mampu memiliki orientasi yang jelas dan terarah.
Masyarakat juga memiliki peranan yang tak kalah urgen. Manusia sebagai makhluk sosial tentu akan bersinggungan terhadap masyarakat luas. Oleh sebab itu, dukungan secara moral dari masyarakat sangat dibutuhkan oleh siswa. Jangan sampai masyarakat justru mengganggu aktivitas belajar anak ketika menjelang UN.
UN Online
Kebijakan lain selain menjadikan UN bukan satu-satunya penentu kelulusan adalah dicanangkannya UN secara online. Perkembangan teknologi yang pesat, menggerakkan pemerintah untuk terus menggenjot roda pendidikan menuju arah yang lebih baik.
Kebijakan UN online perlu ditinjau kembali, sebab di Indonesia masih banyak sekolah yang infrastrukturnya masih minim. Lebih daripada itu, UN online yang akan dilaksanakan pada sekolah-sekolah tertentu tahun ini menjadi uji coba pertama untuk siswa yang akan mengikuti. Selebihnya, penulis berharap UN yang akan dilaksanakan secara online tidak lagi mengorbankan siswa. Kebijakan baru ini nantinya mampu membawa perubahan yang lebih baik untuk dunia pendidikan sehingga berbanding lurus dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.


Menuju UN Online



Heboh akibat gantung diri, depresi, bahkan mengamuk di sekolahan karena tidak lulus ujian nasional (UN) menjadi sebuah keprihatinan dalam dunia pendidikan. Tamparan pedas dalam dunia pendidikan ini harusnya menjadi salah satu bahan evaluasi UN. Mendewakan UN akan berdampak negatif bagi perkembangan pengetahuan siswa. Betapa tidak, UN menjadi point penting bagi nasib kelulusan siswa, sehingga beragam cara dihalalkan untuk dapat lulus UN. Meskipun tahun ini UN, bukan satu-satunya penentu kelulusan siswa, namun ghiroh untuk lulus UN seolah menjadi harga mati. Tahun ini, kelulusan siswa memang ditentukan oleh masing-masing satuan pendidikan, namun tetap saja setiap siswa wajib mengikuti UN.
Ujian nasional menjadi agenda yang diagungkan, sehingga menjelang UN siswa dituntut menguasai materi UN. Nilai kelulusan UN menjadi mutlak untuk didapat. Menghadapi UN, beragam sekolah juga mengadakan beragam agenda untuk bisa mendapatkan sebuah nilai kelulusan. Mulai dengan adanya jam tambahan khusus untuk mata pelajaran UN, bahkan diimbangi dengan agenda religi untuk memohon agar diberikan kesuksesan dalam menghadapi UN. Tak pelak, suasana penuh haru dan ketegangan senantiasa mewarnai sekolah menjelang UN. Bahkan sering terlihat isak tangis siswa pecah saat menjelang persiapan UN. 
Kita tentu masih ingat kasus yang terjadi pada siswa yang mendapat nilai UN tertinggi di Jambi bernama Wahyu Ningsih yang mati bunuh diri akibat tidak lulus ujian. Tidak hanya itu, beberapa siswa di SMA 1 Bonepantai Gorontalo yang mengamuk karena tidak lulus ujian nasional menjadi salah satu contoh tindakan yang tak selayaknya dilakukan oleh pelajar.
Di Indonesia, ujian nasional merupakan salah satu agenda rutin yang harus diikuti oleh siswa kelas akhir baik ditingkat SMP maupun SMA. Beberapa kasus diatas, mengindikasikan bahwa UN menjadi momok bagi siswa. Lebih ekstreem lagi, UN menjadi monsternya para siswa yang akan menghadapi ujian. Meskipun tidak semua siswa menganggap UN sebagai sesuatu yang menakutkan, namun hal ini menjadi sorotan penting dalam dunia pendidikan. Esensi adanya UN, adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan Indonesia.
Beberapa kasus yang terjadi pada siswa, mencerminkan bahwa siswa mengalami depresi yang luar biasa. Selain usaha dalam belajar, dewa keberuntungan menjadi sesuatu yang dinanti. Sejatinya pendidikan mampu menjadikan manusia cerdas, berpikir luas, bukan sebaliknya. Paulo Freire dengan konsep pendidikan yang membebaskan inilah yang mampu menjadikan siswa open mind terhadap ilmu pengetahuan. Siswa yang diberikan kebebasan dalam belajar, justru akan merasa menikmati belajarnya. Belajar sejatinya menjadikan manusia memahami makna ilmu pengetahuan secara mendalam.
Tabuh Ujian Nasional telah bergaung. Beragam persiapan menjelang UN 2015 ini banyak dilakukan diberbagai sekolah. Proses pemadatan jadwal sekolah, hingga karantina siswa dilakukan untuk menyambut datangnya UN. Ujian nasional yang akan dilaksanakan pada bulan 13-15 April untuk tingkat SMA sederajat, 4-7 Mei untuk SMP sederajat, hingga Mei untuk tingkat SD sederajat. Meskipun kebijakan UN bukan satu-satunya penentu kelulusan, namun UN memiliki peranan yang sangat urgen.
Siapkah dengan UN Online?
Wacana akan diadakannya UN secara online akan diluncurkan tahun 2015 ini. Pemerintah melalui kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah menegaskan akan adanya UN secara online. Menggunakan computer based test pemerintah akan menunjuk salah satu sekolah pada tingkat kecamatan sebagai pusat pelaksanaan UN online. Pemerintah berdalih bahwa infrastruktur sekolah telah memadai, terutama komputer dan akses internet, sehingga akan mempermudah dalam pelaksanaan UN secara online.
Era globalisasi, seluruh arus informasi dan teknologi berkembang sangat pesat. Indonesia sebagai negara yang tak lepas dari dampak globalisasi tentu tak menginginkan bangsanya tertinggal dalam segala bidang. Melalui salah satu kebijakan dalam dunia pendidikan ini, pemerintah tengah mengambil langkah serius untuk memanfaatkan tekhnologi sebagai bahan ujian nasional.
Pro kontra ujian nasional yang tak pernah selesai, tak menyurutkan pemerintah untuk terus menggenjot roda pendidikan menuju perbaikan. Ujian nasional yang akan dilaksanakan menggunakan sistem online memiliki dua sisi aspek yang patut disoroti.
Pertama, sistem online yang dicanangkan, menunjukkan bahwa pendidikan di Indonesia tengah bersiap menuju pemanfaatan teknologi. Ujian menggunakan sistem online, akan lebih efektif dan efisien. Sebab, penggunaan komputer sebagai bahan ujian tak perlu mengeluarkan biaya banyak untuk mencetak lembar soal dan jawaban.
Kedua, ujian online yang akan dilaksanakan pemerintah tahun ini juga harus melihat ribuan sekolah yang memiliki fasilitas terbatas. Meski dipusatkan di salah satu sekolah di kecamatan, tentu langkah ini tidak akan efektif. Persiapan panjang menghadapi UN pastinya memeras tenaga dan pikiran, jika kelengkapan infrastruktur harus “nebeng” di sekolah lain, secara psikologis anak akan kaget dan tidak dapat berkonsentrasi secara maksimal. Meskipun pemerintah menjanjikan adanya kemudahan akses internet di berbagai wilayah, tidak ada jaminan bahwa akses saat UN bisa mudah. Jika koneksi internet buruk, hal ini jelas akan memperburuk kondisi sekaligus hasil UN siswa.

Kesiapan UN secara online tidak hanya terbatas pada wilayah pemenuhan infrastruktur sekolah semata, aspek psikologis dan kemampuan serta kesiapan siswa menjadi pertimbangan penting. Ribuan siswa di pelosok negerilah yang patut mendapatkan perhatian dalam mencanangkan kebijakan baru. Pada hakikatnya, asas keadilan yang termaktub dalam pancasila berlaku pula dalam dunia pendidikan. Sehingga siswa tidak lagi menjadi korban akibat ketidaksiapan pelaksanaan kebijakan dalam pendidikan. Indahnya pendidikan dengan beragam sarana dan prasarana juga wajib diberikan kepada siswa yang berada di pelosok negeri, bukan hanya sekolah-sekolah perkotaan semata.  

ISIS dan Mimpi Negara Islam

Oleh, Malikhah
Mimpi menjadikan sebuah negara sebagai negara Islam tak pernah padam. Islamic State in Iraq and Suriah (ISIS) yang kini hadir, merupakan salah satu langkah suatu kelompok radikal yang menginginkan negara Islam. Di Indonesia, pasti kita ingat tentang Kartosoewirjo yang dihukum tembak mati akibat gerakannya untuk menjadikan negara Indonesia sebagai negara Islam. Sejarah mencatat bahwa Kartosoewijo bersama Gozali Tusi, Sanusi Partawidjaja, R. Oni dan Toha Arsjad di desa Cisampah, Tasikmalaya pada 7 Agustus 1949 telah memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia.
Kini, 65 tahun sejak diproklamasikannya Negara Islam Indonesia (NII) oleh Kartosoewirjo, semangat untuk menjadikan negara Islam muncul kembali. Meski demikian, beragam gerakan untuk menjadikan negara Islam silih berganti tumbang begitu saja. Arus gerakan yang kini tengah mengalir deras adalah gerakan ISIS yang digawangi oleh Abu Bakr al-Baghdadi. Meskipun ISIS merupakan gerakan yang baru, baru dikenal masyarakat maksudnya, namun proses panjang telah dipersiapkan oleh kelompok radikal ini.
ISIS merupakan organisasi yang dahulunya bernama State in Iraq (ISI). ISIS sudah berperang lama di Irak dan mempunyai ribuan tentara yang terlatih baik dan fanatik. Mereka telah menguasai Irak utara dan sangat berhasrat untuk mendirikan negara berdasarkan agama yang mereka kelola sendiri. Kedatangan mereka mengubah perang di Suriah ke situasi yang tidak pernah diduga orang sebelumnya (Kompas, 05/08).
Kali ini gerakan ISIS tengah meluas hingga tanah air Indonesia. Meskipun sosok Kartosoewirjo telah tiada, namun mimpi akan adanya negara Islam tak pernah lekang oleh waktu. Gerakan yang saat ini berkembang bukan lagi atas nama NII, namun esensi gerakan ISIS menyerupai cita-cita dari NII. Memang ISIS menjadi kelompok untuk Irak dan Suriah, namun tidak dipungkiri jika gerakan itu juga akan mengancam stabilitas bangsa.

Ideologi Bangsa

Pancasila dengan butir-butir isinya menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang kaya akan nilai-nilai toleransi. Indonesia dengan beragam suku, ras, agama, bahasa yang unik menjadikan bangsa Indonesia kaya. Kekayaan tersebut disatukan dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika, meskipun berbeda-beda, namun tetap bersatu. Maraknya gerakan ISIS ini juga berpengaruh bagi ideologi bangsa. Diberbagai media disebutkan bahwa ISIS telah menganggap ideologi Pancasila adalah thogut (berhala). Jika ISIS menyebarkan doktrin demikian akan sangat berbahaya masyarakat Indonesia.
Pemerintah Indonesia juga patut untuk mengambil langkah cepat menghadapi peredaran ISIS di Indonesia. Masyarakat harus diberikan sosialisasi tentang maraknya gerakan ISIS di Indonesia. Penulis yakin, banyak masyarakat di Indonesia yang belum paham tentang ISIS. ISIS sebagai gerakan radikal, telah dideklarasikan dibeberapa daerah di Indonesia. Hal ini juga diiringi dengan adanya pembaiatan menjadi anggota ISIS, tentu saja menjadi anggota ISIS merupakan satu bentuk pengkhianatan terhadap bangsa. Sebab jelas, ideologi ISIS sangat bertentangan dengan ideologi bangsa Indonesia.
Dalam undang-undang juga telah diatur tentang masalah kewarganegaraan. UU No 12 Pasal 23 ayat 6 tahun 2003 yang berbunyi warga negara Indonesia kehilangan kewarganegaraannya bila yang bersangkutan dengan sukarela bersumpah atau berjanji setia kepada negara asing, atau menjadi bagian negara asing. Maka harus dicabut kewarganegaraannya. Ini merupakan sangsi tegas yang harus pemerintah berlakukan bagi masyarakat yang dengan sengaja bersumpah/ berjanji kepada negara asing.
Ragam informasi telah disebarkan untuk mewaspadai adanya gerakan ISIS. Sebagai masyarakat, perlu membuka mata akan beredarnya ragam informasi tersebut. Simbol-simbol gerakan ISIS mulai banyak beredar, oleh sebab itu waspada merupakan langkah awal untuk membentengi negara kita dari pengaruh asing.


Heboh Jilboobs


Perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi tidak dapat dipungkiri dan dihindari. Menjadi masyarakat cerdas bukan sekedar keharusan, namun kebutuhan bagi setiap individu. Tekhnologi yang semakin canggih dan berkembang, patut diwaspadai, termasuk dalam penggunaan sosial media.
Yes, membincang sosial media (sosmed) tak akan ada habisnya. Facebook, twitter, instagram, dll merupakan sosmed yang kini tengah laris manis dipasaran. Berawal dari sosmed inilah beragam gaya hidup mulai bermunculan, termasuk di Indonesia. Tentu saja masih ingat tentang bahasa alay, ini merupakan salah satu produk budaya yang berawal dari sosmed. Adanya sosmed memudahkan kita untuk mengaskses segala informasi yang dibutuhkan.
Kini, yang tengah panas diperbincangkan adalah jilboobs. Jilboobs sendiri merupakan komunitas pengguna hijab yang menonjolkan lekuk tubuh mereka. Di sosmed, yakni fanspage facebook, terlihat beberapa foto perempuan yang dipampang dengan menggunakan jilbab, namun lekuk tubuh sangat terlihat, terutama dibagian payudara.
Hal ini tentu menuai beragam persepsi bahkan kontriversi dari berbagai pihak. Style berbusana yang berlebihan dapat menimbulkan beragam spekulasi. Menurut penulis, komunitas jilboobs lebih menonjolkan pakaian ketat dibandingkan jilbab yang dikenakan. Hanya saja, kedua hal yakni jilbab dan pakaian sangat berkaitan erat, sehingga jilbab yang digunakan akan berpengaruh terhadap pakaian yang digunakan, begitu sebaliknya.
            Berhijab merupakan suatu keharusan bagi setiap muslimah. Maraknya trend berhijab menjadi hal yang lumrah. Perkembangan mode yang kini tengah melanda bangsa Indonesia, seharusnya dikembangkan ke arah positif. Pastinya, betapapun marak model atau gaya berhijab bukan berarti dimanfaatkan untuk hal-hal negatif.
            Komunitas jilboobs terlalu berlebihan dalam menggunakan pakaian yang super ketat. Semestinya, jilbab yang digunakan juga diiringi dengan pakaian yang santun, termasuk tidak terlalu ketat. Sehingga tidak menimbulkan hal-hal negatif bagi diri sendiri dan orang lain. Bagi muslimah lain, yang gemar menggunakan sosmed, bisa berhati-hati juga dalam meng-upload foto. Sebab, bisa jadi foto yang kita pasang dimanfaatkan orang lain untuk kepentingan negatif. So, cerdaslah dalam menghadapi perkembangan tekhnologi masa kini.


Sportif Boy...



      
Terpilihnya Joko Widodo sebagai presiden Republik Indonesia yang baru patut diapresiasi. Kemenangan yang diraih Jokowi, bukanlah semata-mata kemenangan partai. Mutlak kemenangan adalah milik rakyat Indonesia. Diusung dari beberapa partai koalisi, bukan berarti partai berhak atas kuasa bangsa. Bangsa Indonesia yang telah menerapkan demokrasi, haruslah menjalankan demokrasi pada tempat yang sesuai. Artinya, pemerintahan dari rakyat dan untuk rakyat yang menjadi prioritas utama.
            Joko Widodo yang sebelumnya menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta, memang memiliki pesona yang  mampu membius masyarakat Indonesia. Jabatan yang telah ditanggalkan oleh Jokowi ini, menuai banyak kritik tajam. Sosok yang “gila jabatan” sangat melekat untuk kepemimpinan Jokowi. Indonesia tentu saja tidak ingin ditinggalkan layaknya ibukota yang kehilangan pimpinannya. Stereotip gila jabatan yang masih melekat untuk Jokowi tak boleh terulang kembali.
            Pro Kontra Terpilihnya Presiden
            Pro kontra tentang terpilihnya Jokowi, membuat bangsa ini menjadi semakin riuh. Berbagai sudut kota dibuat tegang, hingga banyak beredar isu ricuh pasca KPU mengumumkan hasil kemenangan. Prabowo sebagai bagian dari calon yang kalah dalam pemilihan, patut mencerminkan kebesaran hati menerima kekalahan. Tak sampai disitu, tim sukses yang menggawangi masing-masing calon, tak perlu meributkan hasil yang telah ditetapkan oleh KPU.
            Sebuah pertandingan pasti memunculkan pihak yang menang dan pihak yang kalah. Tim sukses yang telah memperjuangkan masing-masing calon patut mendapatkan apresiasi yang tinggi. Namun, juga patut mendapatkan pengawalan agar tidak muncul kericuhan dimana-mana akibat keegoisan masing-masing kubu.
            Indonesia tengah merindukan kedamaian, adanya presiden baru yang terpilih ini harus menjadikan bangsa kita menjadi bangsa yang damai. Sportifitas patut dijunjung tinggi oleh seluruh elemen masyarakat. Prabowo adalah capres yang kalah dalam digit angka, namun Prabowo tetap menjadi pemenang bagi dirinya dan bangsa. Kekalahan bukanlah sesuatu hal yang perlu untuk diperdebatkan.
Presiden terpilih inilah yang patut untuk didukung untuk membawa bangsa Indonesia lebih maju. Amanah yang disandarkan kepada presiden terpilih, menjadi sebuah kepercayaan yang sangat mulia. Apapun dan siapapun pemimpin bangsa Indonesia, bukankah itu yang terbaik untuk negeri ini? So... mari kita dukung pemerintahan baru bangsa Indonesia.
Selamat untuk bapak Joko Widodo dan Yusuf Kalla yang telah terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI.
Selamat untuk bapak Prabowo Subiyanto dan Hatta Rajasa yang telah berjuang untuk kemajuan bangsa. Kekalahan merupakan kemenangan yang tertunda.

22 Juli 2014; Momen Berdamai


Oleh, Malikhah
Masih dalam suasana indah nan suci bulan Ramadhan. Tepat tanggal 22 Juli 2014 bangsa Indonesia akan memiliki presiden baru. Yah, presiden yang akan menggantikan Susilo Bambang Yudhoyono ini nantinya akan mendapatkan tantangan yang lebih besar dalam memimpin bangsa Indonesia. Betapa tidak, kekayaan bangsa Indonesia yang berlimpah diiringi dengan adanya globalisasi menjadi dua hal yang harus dijaga dan diwaspadai.
Suku, budaya, ras, dan agama yang beragam menjadikan bangsa Indonesia kaya. Potensi yang dimiliki oleh berbagai daerah di Indonesia harus dikuatkan dengan adanya nilai-nilai lokal wisdom (kebudayaan lokal). Hal ini disebabkan adanya budaya daerah yang unik, berkarakter, dan kuat akan nilai-nilai kearifan lokal. Jika budaya di masing-masing daerah tidak dijaga dengan baik, maka akar budaya yang seharusnya dijunjung tinggi oleh masyarakat akan tercerabut. Lebih parahnya lagi, ketika budaya lokal diakui oleh bangsa lain, hal ini menjadi keprihatinan bagi bangsa Indonesia.
Tantangan pemimpin negara jelas tidak sebatas budaya lokal atau menjaga kestabilan keanekaragaman suku, ras, dan agama, persaingan pasar global menjadi babak baru untuk menjadikan bangsa Indonesia selangkah lebih maju. Bangsa Indonesia harus percaya diri untuk menyongsong bangsa yang mandiri dalam segala bidang, termasuk dalam bidang ekonomi.
Didunia pendidikan pun menjadi aspek yang tidak boleh kalah untuk diperhatikan. Pendidikan yang kaya akan kebijakan pemerintah, setidaknya memiliki satu formulasi agar pendidikan di Indonesia dapat diakses oleh seluruh masyarakat tanpa syarat. Beragam permasalahan bangsa, merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Adanya pemimpin terpilih kelak, setidaknya memberikan angin segar bagi kemajuan bangsa.
Ketatnya Persaingan
Persaingan kedua belah calon presiden semakin memanas, seiring adanya rekapitulasi KPU dalam real count. Baik Jokowi maupun Prabowo tentu memiliki kapasitas diri dan kompetensi yang sangat handal jika kelak terpilih. Sayangnya, banyaknya kecaman untuk menggugat presiden terpilih ke Mahkamah Konstitusi akibat adanya kecurangan dalam pemungutan suara. Sebagai masyarakat, isu-isu yang tengah digulirkan oleh tim sukses masing-masing calon patut untuk diwaspadai kembali. Fitnah dan adu domba dalam bidang politik menjadi hal yang wajar dalam perpolitikan di Indonesia. Mendekati pengumuman presiden ini, suasana semakin memanas.
Pemilihan presiden tahun ini berbeda dengan pemilihan presiden sebelumnya. Selisih suara yang sedikit menyebabkan masing-masing calon berambisi untuk menang. Banyak tersebar di sosial media yang sudah memprediksi pemenang pemilihan presiden ini, namun prediksi tidak selamanya tepat.
Pemilih cerdas pasti lahir dari masyarakat cerdas. Masyarakat cerdas tidak mungkin terbawa emosi sesaat akibat isu yang belum tentu kebenarannya. 22 Juli 2014 menjadi momentum penting untuk menyambut presiden baru bangsa Indonesia. Jelas, hal ini harus diimbangi dengan sikap sportif menerima kekalahan dari salah satu pasangan calon. 22 Juli 2014 bukan waktunya untuk masyarakat protes, ricuh, bahkan tawuran antar pendukung salah satu capres. 22 Juli 2014 adalah momen untuk seluruh masyarakat Indonesia berdamai dan berdoa agar presiden terpilih mampu menjadikan bangsa Indonesia menjadi lebih baik. Mumpung ramadhan lho.... J

Detik-Detik Menjelang Pilpres

oleh, Malikhah

Bulan suci ramadhan selalu identik dengan penuh keberkahan. Ramadhan juga menjadi kesempatan untuk menambah keimanan dan ketaqwaan kepada Sang maha Pencipta Alam Semesta. Kesucian bulan ramadhan semakin meriah tat kala lantunan ayat suci al Quran dikumandangkan. Setiap malam, masjid-masjid dipenuhi oleh jama’ah untuk menunaikan sholat tarawih.
Pemandangan lain yang tak pernah lepas dibulan ramadhan adalah banyaknya penjaja ta’jil diberbagai sudut. Menjelang waktu berbuka puasa, menjadi saat dimana penjaja ta’jil diserbu oleh beragam masyarakat. Inilah gambaran ramadhan di Indonesia yang senantiasa riuh dengan aneka budayanya.
Semakin riuh kembali tat kala ramadhan dibarengi dengan pemilihan presiden. Dari Sabang hingga Merauke semarak dengan nama-nama capres. Ramadhan, bulan yang jatuh bertepatan dengan momentum Pemilihan Umum (PEMILU) ini menjadikan prosesi pemilihan presiden menjadi semakin sakral. Prosesi pemilihan presiden ini, tentu saja mengingatkan kita pada perjuangan pahlawan menjelang detik-detik proklamasi. Presiden pertama Soekarno, terpilih saat momentum bulan suci ramadhan. 69 tahun silam, proklamasi dikumandangkan beriringan dengan bulan suci ramadhan. Momentum Pemilu Presiden yang biasa diwarnai dengan fanatisme salah satu calon, meskinya diredakan.
Waspada!!!
Meskipun jatuh saat ramadhan, bukan berarti kampanye hitam tiada begitu saja. Politik, cara selicik-liciknya seringkali dilakukan untuk mendapatkan sebuah kekuasaan. Sebagai pemilih cerdas, kejelian dalam menentukan pilihan tidak cukup. Perlu adanya kejelian dalam melihat tim suksesnya juga. Sebab yang langsung bersinggungan dengan masyarakat langsung mayoritas adalah tim sukes dari masing-masing calon. Bisa jadi muka hello kitty hati serigala, begitu pula sebaliknya.
Ini bukan persoalan kecurigaan, namun sikap skeptis sebagai pemilih cerdas. Dalam filsafat, sikap skeptis atau keragu-raguan merupakan salah satu ciri berpikir filsafat. Yah, kita memang tidak tengah membicarakan filsafat, namun dari pelajaran filsafat inilah yang menjadikan kerangka berpikir dalam menentukan sikap.
Kampanye hitam yang menjadi kabar terpopuler, saat-saat inilah yang patut untuk dihilangkan. Sucinya bulan ramadhan harus diiringi dengan sucinya prosesi pemilihan presiden. Sehingga masyarakat mampu memilih pemimpin yang benar-benar layak memimpin Indonesia.

Prabowo ataupun Jokowi adalah calon yang memiliki kualitas dan kapasitas masing-masing. Dengan segala kelebihan mereka, pastinya bukan sekedar suka atau tidak suka dalam memilih salah satu diantara mereka. Sebagai orang awam, bisa jadi tidak paham akan kemampuan masing-masing calon. Namun, keyakinan diri dalam akan sosok idaman lah yang patut dipertahankan. Jangan sampai terperangkap dengan doktrinasi calon yang bukan pilihan anda. Sisa-sisa waktu dalam menentukan pilihan adalah waktu untuk memantapkan diri dalam memilih calon presiden untuk beberapa tahun kedepan. 

Presiden dan Toleransi Beragama


oleh, Malikhah
Isu keberagamaan merupakan isu hangat yang kini tengah diperbincangkan. Dalam Undang-undang Dasar (UUD) 1945 kemerdekaan memeluk dan beribadat sesuai agama dan kepercayaan masing-masing dijamin oleh negara. Peraturan yang termaktub dalam UUD 1945 pasal 29 ini bukan sekedar menjadi pajangan semata. Implementasi dalam kehidupan nyata harus diwujudkan sebagaimana terangkum dalam peraturan yang disepakati. Sayangnya, isu yang berkembang di Indonesia persoalan agama justru tidak mendapat perhatian lebih dari pemerintah. Negara menjamin kebebasan beragama, namun negara tidak mampu menuntaskan kasus terkait konflik antar umat beragama.
Persoalan ekonomi, pembangunan sarana dan pra sarana (sarpras), pendidikan, bahkan isu kesehatan lumrah dibahas pada tahun-tahun politik saat ini. Sayangnya, calon Presiden yang maju tidak sedikitpun menjamah isu-isu keberagamaan di Indonesia. Dalam banyak kasus di Indonesia, toleransi diantara pemeluk agama sangat rendah. Agama yang suci ternyata bisa memicu rasa benci yang melahirkan kekerasan. Kita tidak ingin kata-kata filsuf dan pakar-pakar psikologi agama William James (1842-1910) bahwa kesalehan menjadi sebuah topeng dan kekuatan batin merupakan naluri primitif menjadi kenyataan di negeri ini.
Maraknya konflik antar umat beragama, menunjukkan miskinnya sikap toleransi umat. Sejarah telah mencatat ragam konflik umat beragama di Indonesia. Lembar sejarah yang membahas persoalan konflik keagamaan mayoritas telah ditutup rapat. Namun, korban akibat konflik tersebut masih saja merasakan derita akibat konflik.
Ibnu Khaldun mengatakan bahwa peranan agama sangat besar dalam mendirikan negara yang besar. Bagaimana bangsa Indonesia akan menjadi bangsa besar jika persoalan agama tidak mampu diatasi. Sikap intoleransi merebak keberbagai daerah, imbasnya konflik antar umat beragama semakin menjamur.
Calon presiden patut memberikan daya tawar untuk memberi perhatian lebih terhadap penyelesaian konflik antar umat beragama. Pemilihan presiden yang akan dilaksanakan kelak, semoga mampu memunculkan sosok presiden yang memiliki toleransi besar terhadap keberagamaan. Disamping itu, tindakan sigap dan cakap dalam mengatasi konflik antar umat beragama bisa diimplementasikan dengan baik. Sehingga, konflik yang terjadi tidak lagi mengendap bahkan layaknya hilang ditelan bumi, sedang para korban masih saja menahan derita air mata akibat konflik antar umat beragama.



Penghapusan Pancasila; Istilah Empat Pilar Kembangsaan



Oleh, Malikhah
Empat pilar kebangsaan tentu sudah tidak lagi asing ditelinga kita. Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI sebagai empat pilar kebangsaan beberapa lalu dipersidangkan dengan adanya permohonan penghapusan salah satu pilar. Permohonan yang diajukan oleh Pengawal Pancasila Jogja, Solo, dan Semarang (MPP Joglosemar) yang merupakan kumpulan dosen, peneliti, mahasiswa, wartawan, dan lainnya.
Permohonan penghapusan tersebut telah dikabulkan oleh Mahkamah Konstitusi, Secara epistemologis Pancasila sebagai dasar Negara memang telah termaktub dalam UUD 1945. Soekarno menyebut Pancasila sebagai philosophische grondslag (Kompas, 04/04).
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, pilar artinya tiang penguat. Ke empat pilar yang telah disebutkan memiliki satu peranan penting sebagai tiang penguat sebuah Negara.meskipun demikian, Pancasila memang memiliki peranan penting bagi bangsa Indonesia. Selain sebagai dasar Negara, Pancasila juga menjadi ideologi bangsa Indonesia.
Butir-butir pilar memiliki kedudukan menjadi landasan untuk mencapai cita-cita bangsa Indonesia. Meskipun MK telah memutuskan bahwa istilah empat pilar telah dihapus, namun peran Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI masih sangat penting.
Dalam UUD 1945 terdapat cita-cita luhur bangsa Indonesia yang sampai kapanpun akan menjadi referensi untuk mewujudkannya. Bhineka Tunggal Ika sebagai istilah pemersatu bangsa Indonesia yang terdiri dari beragam suku, ras, dan agama menjadikan bangsa Indonesia mampu menghargai arti perbedaan. Sedangkan Negara Kesatuan Repulik Indonesia (NKRI) mampu memberikan pengaruh persatuan antar masyarakat Indonesia.
Meski saat ini bangsa Indonesia tengah mengalami krisis multidimensi, bukan berarti kita tenggelam dalam keterpurukan. Penghapusan istilah empat pilar kebangsaan ini jangan sampai menjadikan semangat untuk menyatukan bangsa Indonesia terkikis. Esensi Pancasila tetap harus dipegang teguh, meskipun telah dihapus dalam istilah 4 pilar. Dihapus bukan berarti dihilangkan dalam kehidupan, Pancasila tetap mimiliki satu kekuatan utuh sebagai salah satu tiang penyangga bangsa Indonesia.

Perempuan Hebat



Oleh, Malikhah
Perempuan saat ini memang hebat dan super. Super disini diartikan sebagai wanita-wanita penuh semangat untuk berkarya. Betapa tidak, saat ini banyak wanita hebat dengan karya-karyanya yang mendunia. Salah satunya dalam bidang penelitian. Dilansir dari Kompas (03/04) menyebutkan beberapa wanita yang mampu meraih prestasi diantaranya Caterina Atmosukarto (2004) peneliti LIPI bidang mikrobiologi. Selain itu, ada pula Fenny Martha Dwivany (2007), peneliti Institut Tekhnologi Bandung yang meneliti pengontrolan pematangan pisang, dan Made Tri Ari Penia Kresnowati (2008) peneliti dari ITB soal tekhnologi Bioproses untuk pengembangan sel punca.
Peneliti-peneliti perempuan ini patut dijadikan inspirator oleh perempuan-perempuan Indonesia lainnya. Dunia penelitian memang penuh dengan tantangan. Untuk memperoleh data yang benar-benar valid dibutuhkan banyak perjuangan dan pengorbanan, baik biaya dan waktu. Sisi lain, dunia penelitian menuntut kita untuk terus memiliki pengetahuan yang luas, sehingga hasil penelitian berkualitas.
Kualitas yang baik tidak hanya terukur dalam kerangka teori yang digunakan semata. Namun, kemampuan hasil penelitian untuk dimanfaatkan masyarakatlah yang terpenting. Sebaik apapun penelitian, jika tidak dapat dimanfaatkan masyarakat, maka tidak akan bisa dinikmati oleh masyarakat.
Perempuan Hebat
Trilogi perempuan yang sejak dahulu digaungkan adalah “macak, masak, manak” sangat diskriminatif. Betapa tidak, tugas seorang perempuan tidak sesederhana dalam trilogi tersebut. Meskipun perempuan-perempuan memiliki tugas yang termaktub dalam trilogi tersebut, namun banyak hal yang dapat perempuan lakukan. Saat ini banyak perempuan-perempuan sukses dengan mengembangkan potensi yang dimilikinya. Tak heran lagi jika dunia penelitian yang saat ini sedang marak juga digandrungi para perempuan-perempuan hebat.
Tantangan yang harus dihadapi oleh perempuan dalam melakukan penelitian patut diacungi jempol. Perempuan-perempuan saat ini telah menjelma menjadi sosok yang patut diperhitungkan dalam berbagai bidang. Hal ini terjadi karena sosok perempuan memiliki potensi dan kemauan yang kuat untuk sukses dan berkarya.
Meski telah lahir perempuan-perempuan hebat, bukan berarti perempuan “lupa” akan tugas-tugas sebagai perempuan. Pada dasarnya, perempuan mampu berprestasi namun juga tidak melupakan jati dirinya sebagai seorang perempuan. Yah, perempuan hebat, juga mampu menghebatkan pasangannya. Perempuan hebat senantiasa mampu menghargai waktu yang ia miliki, sehingga tugas sebagai perempuan tidak akan ditinggalkan meskipun memiliki kesibukan lain.
Dari perempuan-perempuan hebat inilah akan terlahir anak bangsa yang hebat pula. Sudah saatnya, potensi perempuan disejajarkan dengan laki-laki. Bukankah yang membedakan perempuan dan laki-laki adalah “keimanan”?? oleh sebab itu, untuk perempuan hebat, kembangkan terus potensi yang dimiliki, dan berkaryalah. Karya yang kita tulis, akan menjadi saksi sejarah dalam perjalanan hidup kita.  

 
MALIKHAH SAN © 2012 | Edited Designed by Kurungan Celotehan