About Me

Malikhah; seorang ibu rumah tangga yang juga ASN dan aktif mengajar di SMPN 1 Singorojo. Lahir pada tanggal 28 Oktober 1991, dengan semangat sumpah pemuda semangat menulis untuk meninggalkan jejak digital yang bisa bermanfaat untuk semua.

Waspada, Undang-Undang PT!!!


Oleh, Malikhah*
Otonomi perguruan merupakan wewenang yang dimiliki PT untuk mengatur segala urusan rumah tangganya sendiri dalam perguruan tinggi sesuai dengan undang-undang yang berlaku.  Dalam undang-undang PT, terdapat beberapa otonomi yang diberikan pemerintah kepada masing-masing PT. Otonomi yang diberikan antara lain Otonomi kebebasan akademik, kebebasan mimbar akademik, dan kebebasan ilmiah. Meskipun telah diberikan wewenang untuk mengatur PT, campur tangan pemerintah masih terasa sangat kental. Hal ini terlihat dalam pasal 62 yang mana otonomi yang diberikan kepada perguruan tinggi masih harus diatur dengan peraturan mentri. Hal ini menjadi sebuah otonomi bersyarat bagi masing-masing PT.
Perguruan tinggi merupakan salah satu ladang ilmu yang patut dikembangkan, karena dari perguruan tinggi inilah akan terlahir aset bangsa yang berkualitas. Oleh karena itu, PT yang menggawangi pendidikan di Indonesia haruslah mengcover beberapa aspek. Diantaranya adalah main, spirit, and Body. Artinya, dalam pendidikan harus adanya pengembangan pola pikir seseorang. Pada hakekatnya, manusia merupakan hewan yang berakal. Oleh sebab itu, mengutip kata Descartes “Cogito Ergosum”. Jadi pendidikan haruslah menjadi sebuah gerbang awal untuk menanamkan cinta terhadap ilmu pengetahuan.
Spirit. Dalam pendidikan juga harus memperhatikan aspek kejiwaan seseorang. Sehingga, seseorang tidak hanya sehat secara jasmani saja, namun juga rohaninya. Prof. Eko juga bercerita tentang pengadaan lembaga pendidikan yang begitu mudah didirikan di Indonesia tanpa memperhatikan berbagai aspek. Salah satunya aspek spirit ini. Banyak perguruan tinggi yang didirikan di rumah toko atau sering kita sebut ruko. Hal ini tentunya menjadi pertanyaan bersama, lantas bagaimana pengembangan spirit mereka, ssedang mereka tak memiliki tempat dan fasilitas yang memadai. Salah satu implementasi yang dapat dilakukan untuk membangun mahasiswa adalah adanya tempat untuk beribadah, seperti masjid. Dengan adanya masjid, dapat digunakan untuk beribadah sekaligus membangun semangat spiritual dalam diri mahasiswa.
Body. Penting kiranya memberikan fasilitas kepada anak didik untuk mengembangkan dan menjaga kebugaran fisik seseorang. Dengan adanya gedung olah raga misalnya, akan sangat bermanfaat bagi mahasiswa untuk memanfaatkannya sebagai sarana pengembangan jasmaninya.
Melihat tiga aspek tersebut, tentunya jika kita komperkan dengan undang-undang PT aka sangat penting. Adanya pendirian sebuah perguruan tinggi haruslah melalui pengujian yang benar-benar matang. Sehingga perguruan tinggi di Indonesia tidak akan kalah dengan PT asing. Pasalnya, dalam UU PT pasal 90 dijelaskan bahwasanya PT asing dapat mendirikan PT di Indonesia. Hal ini menjadi ancaman tersendiri bagi PT Indonesia, terutama perguruan tinggi swasta. Jika PT asing dapat mengibarkan bendera dengan bebas, maka banyak peserta didik yang akan memilih PT asing yang lebih bagus. Terutama para kaum elit, tentunya jika hanya memilih PT dalam negeri, akan merasa gengsi atau merasa prestisnya turun. Jelas terlihat bahwa UU PT ini menjadi ancaman bagi PT di Indonesia. Praktek kapitalisme juga akan semakin tumbuh subur di Indonesia, dan seharusnya pemerintah mengambil langkah tegas, bukannya mendukung dan memberikan ruang strategis untuk mengembangbiakkan kapitalisme.
Sesuai dengan pasal 10 dalam UU PT menyebutkan adanya beberapa rumpun ilmu yang disebutkan, antara lain rumpun ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Menurut pendapat Prof. Eko, kedua rumpun tersebut masih kurang mampu mengakomodir seluruh kebutuhan masa kini. Dilihat dari sudut pandang moral, adat istiadat, seni dan sebagainya belum tercover dalam pasal tersebut. Problem lain, pembedaan rumpun ilmu juga dapat menimbulkan kesenjangan sosial terutama bagi mahasiswa. Meskipun kebutuhannya berbeda, harusnya semua fakultas dengan rumpun ilmu yang dipelajari memberikan beban biaya utama yang sama. Meskipun nantinya ada tambahan jumlah uang yang harus dibayar dalam proses perkuliahan. Sehingga semisal, antara mahasiswa fakultas kedokteran dan ekonomi, tidak akan terjadi kesenjangan sosial akibat biaya perkuliahan yang berbeda.
Lanjut tentang persoalan pengelolaan keuangan. Tata kelola keuangan di perguruan tinggi yang menerapkan sistem satuan kerja dan Badan Layanan Umum (BLU) juga masih menuai persoalan. Prof. Eko juga menjelaskan, saat dia menjabat sebagai Rektor Undip, dia menerapkan tata kelola keuangan dengan pola konvensional. Namun, dengan pola konvensional ini dia merasakan jika untuk menerima uang sangat mudah, namun untuk mengeluarkan uang yang telah didapat sangatlah sulit. Oleh sebab itu, dia juga berharap dengan adanya pola satuan kerja dan BLU mampu menjunjung tinggi nilai-nilai akuntabilitas, transparansi dalam pengelolaanya.
            Undang-undang yang dibuat pemerintah tentunya masih jauh dari kata “sempurna”, karena tidak ada yang sempurna. Oleh karena itu sebagai insan pendidik, setidaknya kita perlu mencermati setiap kebijakan yang digulirkan pemerintah. Beri pengawalan terhadap realisasi undang-undang yang telah diketok palu 13 Juli 2012 lalu. 


*Direktur Srikandi
“Wawancara bersama Prof. Eko Budiharjo”

JINGGA



Surat itu bertuliskan “....”
          Sudahlah, aku tengah melupakan 3 tahun bersamamu, ::Sahabat::
Sepucuk surat yang kau kirimkan lewat mega-mega nan indah kala itu, tak membuat rasa ku luruh denganmu. Kau antar surat itu kala senja tengah berpamitan dengan sang fajar yang tengah ranum ...
          Ku buka tiap helai tulisan yang kau tulis kala tujuh purnama tak sempurna tiba. Kau ceritakan semua tentang kita, tentang sebuah arti persahabatan yang kala itu masih terasa begitu sempurna .. sempurna karna kita yang masih tak mengerti arti “kuasa” diantara kita .. kau selipkan dua tanduk rusa diatas pundakku, dan kau nyanyikan alunan senja dipersemaian menuju panjangnya malam ...
***
Di meja itu, kuletakkan sehelai kain jingga yang sedikit kusam. Ku bentuk layaknya sarang merpati diatas awan biru .... meja itu merupakan peninggalan eyang kakung :sebutan kakek:, sebelum akhirnya beliau menghembuskan nafas terakhir .. usianya yang sudah cukup renta, membuatnya harus terbaring tak berdaya dalam keindahan senja kala itu ..
Ibu yang selalu menghitung lembar demi lembar kertas yang bertuliskan “....”
Waktu masih menunjukkan pukul O2.OO .. suara gemrincing sepeda yang biasanya ku dengar kala subuh telah tiba .. dan ku bertanya dalam hati, mengapa begitu pagi suara itu ku dengar?”
“Merpati jingga tengah menantimu dalam dinginnya pagi”
Begitulah penggalan sapaan dalam surat tersebut. Akupun masih menyimpan sejuta tanya siapa orang yang tengah asik menorehkan tinta berlian itu untukku. Hari kian menampakkan wajah eloknya, terasa berbeda pagi ini.. semangat itu muncul kala ku trima surat yang datang terlalu pagi ..
          Ini memasuki hari ke empat puluh, dan empat puluh surat telah ku terima dan ku bingkai dalam sangkar sutra. Ku bingkai surat ke empat puluh ini, dengan balutan mawar merah .. hingga merangah kala melihatnya..
***
Tiga tahun lalu ku mengenalmu dalam secangkir kopi jingga. Pagi itu ku racik kopi jingga spesial untukmu. Bak keluarga cemara, kamipun saling bercengkrama di depan layar kaca. Sarapan pagi itu, kami menikmati sajian berita ibu kota ..
Isu-isu korupsi yang kala itu tengah menjadi bahasan “hot” membuat kami semakin dalam mendiskusikannya. Sebagai insan pendidikan kami menyadari, saat ini tengah terjadi degradasi moral, imbasnya krisis kepercayaan semakin menggerogoti tubuh pemerintah.
Sela waktu perbincangan hangat kita, tiba-tiba dia sebut saja Andra berbagi cerita, yang aku sendiri tak tau apa maksudnya. “Din, sekalipun aku punya mawar, tak kan ku berikan mawar ini ke sembarang cewek, aku ingin menjaga mawar ini hingga ujung waktu”, katanya.
“Buat apa kau ambil mawar sekarang? Sedang kau biarkan terdiam begitu lama?”, jawabku dengan tegukan kopi jingga ...
“Menjadi sebuah keharusan aku harus mengenal mawar itu, akupun ingin mengetahui setiap jejak langkahnya.. hingga ku tau semua tentang mawar itu”, tutur Andra meyakinkan.
Sementara aku mengkalkulasikan kebutuhan satu bula ini, aku hanya bisa berkata, “carilah mawar sesukamu”.

***
Pagi itu memang ku tak ingin luruh dalam balutan mesra kala fajar tlah tiba. Akupun mengakhiri pertemuan pagi itu. Kulanjutkan aktifitasku, begitupun dengannya.
Senja mulai tiba, dan akupun kembali bertemu dengannya. Kita memang dipertemukan setiap senja, dibalut dengan kopi jingga, hingga fajar tiba. Ini hari ke dua kita bersama. Tak seperti hari sebelumnya, malam ini kantuk seberat sejuta ton menghinggap diwajah kita. Aku mencoba bertahan kala matanya semakin tak mampu menahan rasa lelah. Aku mencoba bertahan dengan melontarkan beberapa bait pertanyaan. Aku mencoba bertahan dengan membuatkan kopi jingga kesukaannya. Aku mencoba meramaikan suasana kala itu dengan berbagai obrolan. Tapi tak juga bertahan lama, akhirnya kau pun terlelap.
“Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda”. Pepatah itu membuatkan tergelitik kala meresapi setiap butir kata.
::Aku mengenalnya tak cukup lama, namun begitu besar pelajaran yang aku terima:: Penggalan lagu itulah yang mampu mewakili seluruh isi hati ini.
Hari demi hari berlalu begitu saja, dan ini tiga tahun sudah ku tak melihatnya. Balutan hangat keluarga cemara yang kurasa, tak lagi menghiasi hariku. Kopi jingga yang biasa aku seduh bersama senyum manismu, kini tak lagi ku rasa.

Memasuki hari ke empat puluh ini, terkumpul sudah empat puluh butiran mawar disela kain sutra yang kau beri. Tak seindah seperti biasanya, surat kali ini begitu berbeda. Kau tak banyak bercerita seperti sebelum-sebelumnya. Kau hanya tulis “titip salam buat bapak ibu, dan tunggu satu mawar ke empat puluh satu” .
          Ku tunggu surat ke empat puluh satu, hingga hari ku telah habis karna mu. Tak kunjung jua mawar yang kau janjikan, akupun tak tau siapa yang tengah menggoda isi hatiku. Namun, semuanya terasa beku, lantas akupun mengharu biru menerima mawar ke empat puluh satu.
Bertuliskan nama dan indah senyum mu, dalam sebuah balutan mesra bersama mawar pilihanmu.
::Tak Apa::
         

 oleh, Dhek Cha

Lingkaran Setan “HIV/ AIDS”


Perempuan dan anak menjadi sasaran utama dalam pencegahan virus HIV/AIDS. pasalnya, perempuan lebih yang rentan terhadap terkena virus HIV, sehingga akan berdampak pada anak-anaknya. Oleh sebab itu, tema yang digagas tahun ini yakni “Lindungi Perempuan dan Anak dari Virus HIV/ AIDS”, diharapkan mampu mengurangi jumlah pengidap HIV/AIDS. Seksualitas, Napza, dan HIV/AIDS merupakan lingkaran setan yang harus kita musnahkan. Jika tidak segera diberantas, maka lingkaran setan ini akan menjerat masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda. Salah satu yang perlu kita berantas yakni HIV/AIDS.
Peringatan hari anti HIV/AIDS ini jatuh pada hari Sabtu, 1 Desember 2012. “Kami rencananya melakukan aksi pada hari Sabtu, namun karena banyak pertimbangan jadi kami memilih hari Minggu”, tutur Ali Furqon selaku koordinator aksi. Dia juga menjelaskan bahwa hari minggu juga merupakan car free day, sehingga diharapkan, masyarakat yang sedang berjejal dikawasan simpang juga turut peduli. Aksi ini dimotori oleh gabungan mahasiswa dari tiga universitas yakni universitas Diponegoro (Undip), Universitas Negeri Semarang (Unnes), dan IAIN Walisongo Semarang. Aksi yang dimulai hari Minggu, 2 Desember 2012 ini dilakukan dengan mengitari bundaran simpang lima kemudian menuju jalan pahlawan.
Dalam aksi ini, diserukan kepada masyarakat Indonesia, khususnya warga Semarang untuk menghindari perilaku seks bebas yang akan berdampak pada kemungkinan terburuk, yakni terjangkit virus HIV/AIDS. Umi Hanik yang merupakan perwakilan dari Lembaga Studi dan Advokasi Perempuan menuturkan, “HIV/AIDS merupakan bagian dari lingkaran setan yang harus diperangi oleh siapapun.” Dia juga menambahkan, dalam peringatan HIV/AIDS ini dia mengajak seluruh masyarakat untuk memberantas virus HIV/AIDS dengan menjaga pola hidup sehat. Seperti tidak bergonta ganti pasangan, menggunakan kondom saat berhubungan seks, berhati-hati dalam menggunakan jarum suntik, dan sebagainya.
HIV/AIDS menjadi virus mematikan yang sampai saat ini belum ada obatnya. HIV/AIDS seperti bombastis yang mampu menghancurkan siapapun, termasuk generasi muda. Dalam orasinya, Amrul mahasiswa Unnes menyuarakan kepada masyarakat untuk tidak menjauhi korban HIV/AIDS. Menurutnya, korban HIV/AIDS atau sering dikenal dengan istilah ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) perlu diselamatkan, bukan untuk dijauhi, sebab yang harus dijauhi ialah virus HIV/AIDS nya. Senada dengan Amrul, Ali Furqon yang juga koordinator aksi tersebut mengungkapkan bahwa untuk menghindari virus tersebut, khusus bagi kaum adam jangan suka “jajan” sembarangan. Oleh sebab itu perlu adanya kewaspadaan agar tidak terjangkit penyakit HIV/AIDS. Pasca orasi yang dilakukan beberapa kelompok mahasiswa tersebut, para mahasiswa membagi-bagikan stiker dan bunga mawar kepada pengguna jalan.
            Selain aksi damai yang dilakukan di kawasan simpang lima tersebut, LSM Griya Asa juga mengadakan konseling gratis tentang HIV/AIDS. Mereka membuka stan konseling disepanjang jalan Pemuda. Mereka memberikan konseling kepada beberapa orang yang mampir di stan mereka.  
            Dengan adanya aksi seruan berantas HIV/AIDS, konseling dan sosialisasi tersebut, diharapkan mampu memberikan pemahaman secara komprehensif kepada masyarakat untuk memberantas virus HIV/AIDS.



Oleh, Malikhah San

Hari itu ... Hanya Milikku


Pagi ini begitu berbeda. Semacam disambut seluruh makhluk di bumi. Haiah, dua puluh delapan yang ku tunggu bulan ini.
Air mulai mendidih, aku pun tak sanggup untuk sekedar meninggalkan barisan kopi yang berjejer rapi dihadapanku. Sruput .... nikmatnya secangkir kopi yang sengaja ku buat tanpa ku tambahkan sedikit gula. Anggun, biasa ibu panggil namaku. Gadis desa yang hidup di negeri sebrang, untuk sebuah pencarian. Yak, pencarian masa depan.
Dua puluh delapan. Kebetulan pagi ini aku berada di villa kedamaian tempatku dibesarkan. Dua puluh satu tahun silam ku dilahirkan, dibesarkan penuh kasih sayang tiada tara.
“Met ultah ya de’ Cha”, suara dengan tempo sedikit cepat dan lirih ku dengar semalam. Jemi, kawan yang baru beberapa tahun ini akrab dengan ku. Tak ku sangka, dia orang pertama yang memberiku ucapan selamat.
Tahun-tahun sebelumnya, Eko lah yang selalu jadi nomor satu untuk sekedar memberi ucapan selamat. Yah, dia pacarku. Tapi itu dulu, dua tahun silam. Semenjak kita tak bersama, aku pun mulai enggan dengar namanya. “Brengsek”. Hah, siapapun dia, aku juga pernah sayang, tapi itu dulu.
Beberapa waktu lalu dia ngasih kabar pernikahannya dengan teman karib ku. Yak bagus sekali. Ternyata selama ini hanya sandiwara. “Besok Februari wajib bantu di acara pernikahanku ya cha” katanya dengan nada setinggi lima oktaf.
“Kalo nggak kuliah ms, soalnya bulan-bulan itu aku baru masuk kuliah”, jawabku.
Nggak masalah si ms Eko mo nikah sama siapa aja, tapi kenapa mesti sama tu orang?? Hew.. aku tahu benar dulu ms Eko ngejar-ngejar calon adik iparnya itu, eitz, malah-malah dia gebet juga tu kakaknya, dan mereka seiya sekata buat jalin satu hubungan serius. Cha Cuma bisa ngasih doa n selamat deh.
###
Kosong-kosong. Jemi seketika ngasih doa yang begitu indah. Sulit ditebak tuh orang, banyak yang naksir, tapi dia tolak mentah-mentah. Kasian deh .. aku ngrasa Jemi akhir-akhir ini mulai perhatian, entah hanya perasaanku aja, ataukan emang bener demikian? Entahlah.. bagiku, persahabatan kita lebih berharga dibandingkan harus memikir kan hal semacam cinta untuk kita berdua.
            Pagi pun kian menebar terangnya. Sapanya kali ini begitu mempesona. Seraya menikmati kopi, menebar cerita bersama orang tua. Emmmmm.... “Makan-makan mbk”, sapa adik kecilku yang baru bangun. Dia memang adik yang teramat perhatian, dia selalu ada setiap kali aku butuhkan. Dia tak pernah lupa dengan adat ku ketika dua puluh delapan tiba...
            Masih menunggu!!!
            Waktu berjalan dengan sedikit lambat, detik demi detik seakan tak mau meninggalkan dua puluh delapan yang teramat spesial ini. Urat nadiku mulai bergetar, seiring waktu yang terus berjalan. Beberapa saat, kala ku lihat inbox di handponeku, tak juga muncul satu rangkaian nada indah.
Belum !!!
            Seketika jiwaku brontak, perlawanan yang tak dapat ku hindari dalam diri ini. Menunggu menjadi satu kata indah untuk hari ini.
Masih Belum !!!
            Beberapa kali namanya muncul dalam inbox ku, dan berulang kali basa basi nya menggelitik raga ini. “Mungkin dia lupa, ataukah dia sama sekali tak tahu?”, kembali brontak dengan jiwa.
“Ach tidak nggun, dia hanya lupa. Banyak urusan yang harus ia selesaikan. Mengertilah!!!”, malaikat di kanan ku mulai meyakinkan ku ...
            “Dia itu nggak tahu dan tak mau tahu tentang mu, ngapain juga kamu nunggu dia.”, sedikit mengusikku malaikat dibelakang ku ...
            Mulai bimbang deh, “Acch, biarkan saja, masih ada dua belas jam untuk menunggunya”, aku yakinkan pada diriku sendiri.
            Jemi mulai lagi deh, nagih-nagih hutang yang gag jelas gitu. “Mana?? Kapan kamu bayar hutang mu bulan kemarin?? Katanya mau barter?”, tagih nya bak rentenir abal-abal.
“Iya, besok ya. Insyaallah kalo dapet rejeki, aku langsung lunasi”, kataku layaknya orang memelas.
            Cha memang punya hutang sama Jemi, berulang kali ditagih. Jurus naga bonar buat ngalihin pembicaraannya.

***
            Hari semakin larut, dan aku pun tak jua menemukan sesosok mu hari ini. Langit yang semakin gelap pun masih enggan berlalu, masih menunggu mu ..
Akupun semakin enggan untuk mengatakan “aku menunggu”. Waktu tak lagi menjadi milikku hari ini. Mentari mulai merenggut rembulan yang enggan bergeser, sekedar memberi ruang sang mentari.
Dua atau tiga hari, entah lah. Aku mulai lupa dengan nama indah mu sesore itu.

oleh, Dhek Cha

“Rembug Nusantara”


Oleh, Malikhah

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEMF) Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang mengadakan acara Temu BEM se-Jawa Tengah (Jateng). Acara ini merupakan serangkaian acara purnabakti BEMF masa bakti periode 2011-2012 yang dihadiri oleh 10 perguruan tinggi se-Jateng. Acara ini dilaksanakan selama 3 hari, mulai tanggal 23-25 November 2012. Dalam acara tersebut, ada beberapa pembahasan topik tentang isu-isu Jawa Tengah. Acara yang dimotori oleh BEMF IAIN Walisongo ini mengusung beberapa isu penting, yakni isu tentang hukum, ekonomi, dan pendidikan.
Acara dimulai dengan pembukaan acara Temu BEM se-Jawa Tengah. Dalam acara pembukaan membahas isu-isu tentang Jawa Tengah. Pada acara pembukaan tersebut dikemas dengan dialog interaktif antara mahasiswa dan Pembantu Dekan III. Acara pembukaan yang dihadiri oleh 250 mahasiswa ini diikuti dengan sangat antusias. Dalam acara pembukaan yang mengusung tema dialog “Mempertegas Peran Mahasiswa dalam Membangun Peradaban Jawa Tengah” dibahas juga tentang pentingnya peran masyarakat Jawa Tengah dalam membangun peradaban Jateng. Salah satunya dengan mensukseskan agenda besar pemilihan gubernur dan wakil gubernur pada tahun 2013 kelak. Dalam hal ini, mahasiswa perlu mengambil sikap terkait dengan pemilwa ini. Peran mahasiswa disini salah satunya adalah mendorong para calon untuk melakukan persaingan yang sehat. Pasalnya, posisi mahasiswa merupakan posisi independen, sehingga mahasiswa lah yang tidak diboncengi kepentingan apapun. Dan acara pembukaan ini diakhiri dengan peresmian acara oleh Suja’i, Dekan fakultas Tarbiyah.
Kemudian dilanjutkan dengan acara ramah tamah yang diisi dengan perkenalan dan penguatan emosional antar peserta rembug nusantara ini. Kemudian acara dilanjutkan dengan pembahasan isu-isu yang sudah direncanakan sebelumnya. Pembahasan isu-isu tentang hukum, ekonomi, dan pendidikan dibagi kedalam tiga devisi. Devisi pertama membahas tentang isu-isu hukum, devisi kedua membahas tentang isu-isu ekonomi, serta devisi ketiga isu-isu pendidikan yang ada di Jawa Tengah. Beberapa peserta yang tergabung dalam acara rembug nusantara itu dibagi menjadi tiga komisi dengan masing-masing isu yang diusung.
Setelah permasalahan terkait isu Jawa Tengah telah dibahas, masing-masing devisi mempresentasikan hasil pembahasan itu dalam satu forum sidang pleno. Ada banyak gagasan yang perlu disikapi oleh pemerintah Jawa Tengah. Persoalan ekonomi, hukum, dan pendidikan menjadi isu yang sangat urgen untuk diperhatikan. Berikut ini hasil yang digagas oleh beberapa BEM se-Jawa Tengah yang menjadi isu penting di Jawa Tengah.
Dari isu-isu yang diusung tentang hukum, ada beberapa poin yang menjadi rekomendasi komisi satu yang terdiri dari beberapa perwakilan BEM se-Jateng, yakni
1.      Memperbaiki kinerja dan profesionalitas  penegak hukum (Polisi & kejaksaan).
2.      Optimalkan supremasi hukum di Jawa tengah.
3.      Menuntut penyelesaian kasus-kasus hukum secara adil, transparan dan tanpa memihak.
4.      Menghilangkan intervensi penguasa dalam penegakan hukum.
5.      Tingkatkan kualitas pelayanan pablik.
6.      Wujudkan comitmen pemerintah untuk menegakkan dan menjamin hak asasi manusia.
 Sedangkan isu yang diusung oleh komisi dua, yakni isu-isu tentang kondisi ekonomi yang ada di Jawa Tengah. Beberapa isu yang digulirkan yakni
1.    Tingkatkan perekonomian rakyat kecil dan menengah di daerah  Jawa Tengah secara merata dan komprehensif.
2. Berikan jaminan lapangan pekerjaan bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial (disabilitas, keterlantaran, korban bencana, pekerja, tindak kekerasan, kemiskinan, keterpencilan) agar tercapai asas pemerataan distribusi pendapatan dan penyerapan tenaga kerja secara maksimal.
3. Membentuk lembaga pengembangan ekonomi kerakyatan yang berbasis kearifan local dengan melakukan dialog dalam formulasi kebijakan pengembangan ekonomi di Jawa Tengah.
4.    Tolak privatisasi dan Nasionalisasi aset aset daerah yang dikuasai oleh pemodal
5.  Optimalisasi lembaga advokasi milik pemerintah guna identifikasi hasil dan keberlanjutan program perekonomian pemerintah terhadap rakyat.
Untuk komisi C, membahas permasalahan pendidikan, yang notabene menjadi jantung utama sebagai lahan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Persoalan pendidikan menjadi sangat penting, oleh karena itu dari komisi C merekomendasikan beberapa poin penting, yaitu
1.    Wujudkan komitmen pemerintah dlm melaksanakan program wajib belajar dasar sembilan tahun.
2.    Bebaskan lembaga pendidikan di Jawa tengah dari komersialisasi dan berbagai bentuk KKN.
3.    Memperjelas kurikulum yang terpadu berbasis kearifan local lembaga pendidikan dijawa tengah.
4.  Hapuskan Netralisasi Kehidupan Kampus / badan koordinasi kampus (NKK/ BKK) dibagi jilid dua.
5.    Hapuskan RSBI di Jawa Tengah
6.    Memperjelas kinerja penjamin mutu disemua tingkatan pendidikan
      Dengan berbagai rekomendasi tersebut, diharapkan pemerintah semakin melek dengan realita yang tengah terjadi dalam masyarakat Jawa Tengah ini. Disisi lain, pemerintah juga harus tanggap dengan cepat dan tepat menghadapi persoalan tersebut.

HAM dan Keberagamannya


Hak Asasi Manusia atau HAM merupakan hak dasar yang dimiliki oleh setiap individu tanpa memandang suku, ras, dan agama. Oleh sebab itu, negara memiliki kewajiban untuk bisa menghargai hak asasi manusia sebagai warga negara Indonesia. Ada banyak hak yang dimiliki oleh setiap warga negara, misalnya Hak Hidup, Hak Agama, Pendidikan, Hak Pekerjaan, Keamanan, dll. Beberapa hak tersebut merupakan hak individu yang saling terkait dan saling memiliki ketergantungan satu sama lain.
Hari ini penghargaan tentang HAM sudah semakin mahal. Banyak kasus pelanggaran HAM di Indonesia. Sayangnya, pemerintah tak punya langkah cepat dan tepat untuk menuntaskan permasalahan tersebut. Semisal, tragedi Semanggi I (13-15 November 1998), dan peristiwa Trisakti (12 Mei 1998), pembunuhan aktivis HAM, Munir Said Thalib atau Cak Munir pada 7 September 2004, kasus penggusuran pasar raya padang (2011), kasus Tiaka Morowali juga jemaat gereja baptis papua (2011), Kongres Rakyat Papua III (2011) serta kejadian syiah sampang (2012), dan Serikat Pekerja Indonesia (2012), (Okezone, 7 Oktober 2012).  Penyelesaian kasus pelanggaran HAM terebut seringkali tidak diselesaikan secara tuntas. Sehingga penegakan hukum tentang HAM pun masih jauh dari kata “keadilan”.
Konflik yang terjadi di Indonesia, seringkali diselesaikan bukan atas nama warga negara. Banyak kasus seperti kasus kerusuhan antar umat beragama, perselisihan antar suku sering kali diselesaikan berdasarkan suku atau agama masing-masing. Imbasnya, kaum minoritas dan mayoritaslah yang berperan dalam penyelesaian kasus tersebut. Sudah dapat dipastikan, bahwa kaum mayoritaslah yang akan selalu benar ketika terjadi perselisihan. Padahal konflik yang terjadi di Indonesia, bukanlah konflik atas nama golongan minor dan mayor, melainkan konflik atas nama warga negara Indonesia. Disinilah peranan penegak hukum untuk membela hak asasi manusia yang notabene seringkali “tertindas”. Semisal kita lihat kasus Sampang, warga Syi’ah yang notabene mayoritas, mereka tersingkir dari daerahnya. Padahal mereka sama-sama warga negara Indonesia yang memiliki hak hidup, hak keamanan, hak beragama, dsb, namun karena pelabelan atas nama kaum “Minoritas”, maka tidak banyak banyak yang dapat mereka lakukan untuk sekedar menuntut hak-haknya.
Melihat realitas yang sedemikian memprihatinkan, kita selaku insan pendidikan perlu membuka wacana tentang persoalan tersebut. Sehingga, nantinya dalam sebagai pendidik, khususnya pendidik agama Islam mampu menanamkan nilai-nilai keberagaman dan sikap inklusif dalam kehidupan sehari –hari. Selain itu, diharapkan pendidikan agama mampu memberikan sumbangsih untuk mengatasi permasalahan HAM yang terjadi di Indonesia.


                                           oleh, Malikhah

 

 
MALIKHAH SAN © 2012 | Edited Designed by Kurungan Celotehan