About Me

Malikhah; seorang ibu rumah tangga yang juga ASN dan aktif mengajar di SMPN 1 Singorojo. Lahir pada tanggal 28 Oktober 1991, dengan semangat sumpah pemuda semangat menulis untuk meninggalkan jejak digital yang bisa bermanfaat untuk semua.

Lingkaran Setan “HIV/ AIDS”


Perempuan dan anak menjadi sasaran utama dalam pencegahan virus HIV/AIDS. pasalnya, perempuan lebih yang rentan terhadap terkena virus HIV, sehingga akan berdampak pada anak-anaknya. Oleh sebab itu, tema yang digagas tahun ini yakni “Lindungi Perempuan dan Anak dari Virus HIV/ AIDS”, diharapkan mampu mengurangi jumlah pengidap HIV/AIDS. Seksualitas, Napza, dan HIV/AIDS merupakan lingkaran setan yang harus kita musnahkan. Jika tidak segera diberantas, maka lingkaran setan ini akan menjerat masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda. Salah satu yang perlu kita berantas yakni HIV/AIDS.
Peringatan hari anti HIV/AIDS ini jatuh pada hari Sabtu, 1 Desember 2012. “Kami rencananya melakukan aksi pada hari Sabtu, namun karena banyak pertimbangan jadi kami memilih hari Minggu”, tutur Ali Furqon selaku koordinator aksi. Dia juga menjelaskan bahwa hari minggu juga merupakan car free day, sehingga diharapkan, masyarakat yang sedang berjejal dikawasan simpang juga turut peduli. Aksi ini dimotori oleh gabungan mahasiswa dari tiga universitas yakni universitas Diponegoro (Undip), Universitas Negeri Semarang (Unnes), dan IAIN Walisongo Semarang. Aksi yang dimulai hari Minggu, 2 Desember 2012 ini dilakukan dengan mengitari bundaran simpang lima kemudian menuju jalan pahlawan.
Dalam aksi ini, diserukan kepada masyarakat Indonesia, khususnya warga Semarang untuk menghindari perilaku seks bebas yang akan berdampak pada kemungkinan terburuk, yakni terjangkit virus HIV/AIDS. Umi Hanik yang merupakan perwakilan dari Lembaga Studi dan Advokasi Perempuan menuturkan, “HIV/AIDS merupakan bagian dari lingkaran setan yang harus diperangi oleh siapapun.” Dia juga menambahkan, dalam peringatan HIV/AIDS ini dia mengajak seluruh masyarakat untuk memberantas virus HIV/AIDS dengan menjaga pola hidup sehat. Seperti tidak bergonta ganti pasangan, menggunakan kondom saat berhubungan seks, berhati-hati dalam menggunakan jarum suntik, dan sebagainya.
HIV/AIDS menjadi virus mematikan yang sampai saat ini belum ada obatnya. HIV/AIDS seperti bombastis yang mampu menghancurkan siapapun, termasuk generasi muda. Dalam orasinya, Amrul mahasiswa Unnes menyuarakan kepada masyarakat untuk tidak menjauhi korban HIV/AIDS. Menurutnya, korban HIV/AIDS atau sering dikenal dengan istilah ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) perlu diselamatkan, bukan untuk dijauhi, sebab yang harus dijauhi ialah virus HIV/AIDS nya. Senada dengan Amrul, Ali Furqon yang juga koordinator aksi tersebut mengungkapkan bahwa untuk menghindari virus tersebut, khusus bagi kaum adam jangan suka “jajan” sembarangan. Oleh sebab itu perlu adanya kewaspadaan agar tidak terjangkit penyakit HIV/AIDS. Pasca orasi yang dilakukan beberapa kelompok mahasiswa tersebut, para mahasiswa membagi-bagikan stiker dan bunga mawar kepada pengguna jalan.
            Selain aksi damai yang dilakukan di kawasan simpang lima tersebut, LSM Griya Asa juga mengadakan konseling gratis tentang HIV/AIDS. Mereka membuka stan konseling disepanjang jalan Pemuda. Mereka memberikan konseling kepada beberapa orang yang mampir di stan mereka.  
            Dengan adanya aksi seruan berantas HIV/AIDS, konseling dan sosialisasi tersebut, diharapkan mampu memberikan pemahaman secara komprehensif kepada masyarakat untuk memberantas virus HIV/AIDS.



Oleh, Malikhah San

Hari itu ... Hanya Milikku


Pagi ini begitu berbeda. Semacam disambut seluruh makhluk di bumi. Haiah, dua puluh delapan yang ku tunggu bulan ini.
Air mulai mendidih, aku pun tak sanggup untuk sekedar meninggalkan barisan kopi yang berjejer rapi dihadapanku. Sruput .... nikmatnya secangkir kopi yang sengaja ku buat tanpa ku tambahkan sedikit gula. Anggun, biasa ibu panggil namaku. Gadis desa yang hidup di negeri sebrang, untuk sebuah pencarian. Yak, pencarian masa depan.
Dua puluh delapan. Kebetulan pagi ini aku berada di villa kedamaian tempatku dibesarkan. Dua puluh satu tahun silam ku dilahirkan, dibesarkan penuh kasih sayang tiada tara.
“Met ultah ya de’ Cha”, suara dengan tempo sedikit cepat dan lirih ku dengar semalam. Jemi, kawan yang baru beberapa tahun ini akrab dengan ku. Tak ku sangka, dia orang pertama yang memberiku ucapan selamat.
Tahun-tahun sebelumnya, Eko lah yang selalu jadi nomor satu untuk sekedar memberi ucapan selamat. Yah, dia pacarku. Tapi itu dulu, dua tahun silam. Semenjak kita tak bersama, aku pun mulai enggan dengar namanya. “Brengsek”. Hah, siapapun dia, aku juga pernah sayang, tapi itu dulu.
Beberapa waktu lalu dia ngasih kabar pernikahannya dengan teman karib ku. Yak bagus sekali. Ternyata selama ini hanya sandiwara. “Besok Februari wajib bantu di acara pernikahanku ya cha” katanya dengan nada setinggi lima oktaf.
“Kalo nggak kuliah ms, soalnya bulan-bulan itu aku baru masuk kuliah”, jawabku.
Nggak masalah si ms Eko mo nikah sama siapa aja, tapi kenapa mesti sama tu orang?? Hew.. aku tahu benar dulu ms Eko ngejar-ngejar calon adik iparnya itu, eitz, malah-malah dia gebet juga tu kakaknya, dan mereka seiya sekata buat jalin satu hubungan serius. Cha Cuma bisa ngasih doa n selamat deh.
###
Kosong-kosong. Jemi seketika ngasih doa yang begitu indah. Sulit ditebak tuh orang, banyak yang naksir, tapi dia tolak mentah-mentah. Kasian deh .. aku ngrasa Jemi akhir-akhir ini mulai perhatian, entah hanya perasaanku aja, ataukan emang bener demikian? Entahlah.. bagiku, persahabatan kita lebih berharga dibandingkan harus memikir kan hal semacam cinta untuk kita berdua.
            Pagi pun kian menebar terangnya. Sapanya kali ini begitu mempesona. Seraya menikmati kopi, menebar cerita bersama orang tua. Emmmmm.... “Makan-makan mbk”, sapa adik kecilku yang baru bangun. Dia memang adik yang teramat perhatian, dia selalu ada setiap kali aku butuhkan. Dia tak pernah lupa dengan adat ku ketika dua puluh delapan tiba...
            Masih menunggu!!!
            Waktu berjalan dengan sedikit lambat, detik demi detik seakan tak mau meninggalkan dua puluh delapan yang teramat spesial ini. Urat nadiku mulai bergetar, seiring waktu yang terus berjalan. Beberapa saat, kala ku lihat inbox di handponeku, tak juga muncul satu rangkaian nada indah.
Belum !!!
            Seketika jiwaku brontak, perlawanan yang tak dapat ku hindari dalam diri ini. Menunggu menjadi satu kata indah untuk hari ini.
Masih Belum !!!
            Beberapa kali namanya muncul dalam inbox ku, dan berulang kali basa basi nya menggelitik raga ini. “Mungkin dia lupa, ataukah dia sama sekali tak tahu?”, kembali brontak dengan jiwa.
“Ach tidak nggun, dia hanya lupa. Banyak urusan yang harus ia selesaikan. Mengertilah!!!”, malaikat di kanan ku mulai meyakinkan ku ...
            “Dia itu nggak tahu dan tak mau tahu tentang mu, ngapain juga kamu nunggu dia.”, sedikit mengusikku malaikat dibelakang ku ...
            Mulai bimbang deh, “Acch, biarkan saja, masih ada dua belas jam untuk menunggunya”, aku yakinkan pada diriku sendiri.
            Jemi mulai lagi deh, nagih-nagih hutang yang gag jelas gitu. “Mana?? Kapan kamu bayar hutang mu bulan kemarin?? Katanya mau barter?”, tagih nya bak rentenir abal-abal.
“Iya, besok ya. Insyaallah kalo dapet rejeki, aku langsung lunasi”, kataku layaknya orang memelas.
            Cha memang punya hutang sama Jemi, berulang kali ditagih. Jurus naga bonar buat ngalihin pembicaraannya.

***
            Hari semakin larut, dan aku pun tak jua menemukan sesosok mu hari ini. Langit yang semakin gelap pun masih enggan berlalu, masih menunggu mu ..
Akupun semakin enggan untuk mengatakan “aku menunggu”. Waktu tak lagi menjadi milikku hari ini. Mentari mulai merenggut rembulan yang enggan bergeser, sekedar memberi ruang sang mentari.
Dua atau tiga hari, entah lah. Aku mulai lupa dengan nama indah mu sesore itu.

oleh, Dhek Cha

“Rembug Nusantara”


Oleh, Malikhah

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEMF) Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang mengadakan acara Temu BEM se-Jawa Tengah (Jateng). Acara ini merupakan serangkaian acara purnabakti BEMF masa bakti periode 2011-2012 yang dihadiri oleh 10 perguruan tinggi se-Jateng. Acara ini dilaksanakan selama 3 hari, mulai tanggal 23-25 November 2012. Dalam acara tersebut, ada beberapa pembahasan topik tentang isu-isu Jawa Tengah. Acara yang dimotori oleh BEMF IAIN Walisongo ini mengusung beberapa isu penting, yakni isu tentang hukum, ekonomi, dan pendidikan.
Acara dimulai dengan pembukaan acara Temu BEM se-Jawa Tengah. Dalam acara pembukaan membahas isu-isu tentang Jawa Tengah. Pada acara pembukaan tersebut dikemas dengan dialog interaktif antara mahasiswa dan Pembantu Dekan III. Acara pembukaan yang dihadiri oleh 250 mahasiswa ini diikuti dengan sangat antusias. Dalam acara pembukaan yang mengusung tema dialog “Mempertegas Peran Mahasiswa dalam Membangun Peradaban Jawa Tengah” dibahas juga tentang pentingnya peran masyarakat Jawa Tengah dalam membangun peradaban Jateng. Salah satunya dengan mensukseskan agenda besar pemilihan gubernur dan wakil gubernur pada tahun 2013 kelak. Dalam hal ini, mahasiswa perlu mengambil sikap terkait dengan pemilwa ini. Peran mahasiswa disini salah satunya adalah mendorong para calon untuk melakukan persaingan yang sehat. Pasalnya, posisi mahasiswa merupakan posisi independen, sehingga mahasiswa lah yang tidak diboncengi kepentingan apapun. Dan acara pembukaan ini diakhiri dengan peresmian acara oleh Suja’i, Dekan fakultas Tarbiyah.
Kemudian dilanjutkan dengan acara ramah tamah yang diisi dengan perkenalan dan penguatan emosional antar peserta rembug nusantara ini. Kemudian acara dilanjutkan dengan pembahasan isu-isu yang sudah direncanakan sebelumnya. Pembahasan isu-isu tentang hukum, ekonomi, dan pendidikan dibagi kedalam tiga devisi. Devisi pertama membahas tentang isu-isu hukum, devisi kedua membahas tentang isu-isu ekonomi, serta devisi ketiga isu-isu pendidikan yang ada di Jawa Tengah. Beberapa peserta yang tergabung dalam acara rembug nusantara itu dibagi menjadi tiga komisi dengan masing-masing isu yang diusung.
Setelah permasalahan terkait isu Jawa Tengah telah dibahas, masing-masing devisi mempresentasikan hasil pembahasan itu dalam satu forum sidang pleno. Ada banyak gagasan yang perlu disikapi oleh pemerintah Jawa Tengah. Persoalan ekonomi, hukum, dan pendidikan menjadi isu yang sangat urgen untuk diperhatikan. Berikut ini hasil yang digagas oleh beberapa BEM se-Jawa Tengah yang menjadi isu penting di Jawa Tengah.
Dari isu-isu yang diusung tentang hukum, ada beberapa poin yang menjadi rekomendasi komisi satu yang terdiri dari beberapa perwakilan BEM se-Jateng, yakni
1.      Memperbaiki kinerja dan profesionalitas  penegak hukum (Polisi & kejaksaan).
2.      Optimalkan supremasi hukum di Jawa tengah.
3.      Menuntut penyelesaian kasus-kasus hukum secara adil, transparan dan tanpa memihak.
4.      Menghilangkan intervensi penguasa dalam penegakan hukum.
5.      Tingkatkan kualitas pelayanan pablik.
6.      Wujudkan comitmen pemerintah untuk menegakkan dan menjamin hak asasi manusia.
 Sedangkan isu yang diusung oleh komisi dua, yakni isu-isu tentang kondisi ekonomi yang ada di Jawa Tengah. Beberapa isu yang digulirkan yakni
1.    Tingkatkan perekonomian rakyat kecil dan menengah di daerah  Jawa Tengah secara merata dan komprehensif.
2. Berikan jaminan lapangan pekerjaan bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial (disabilitas, keterlantaran, korban bencana, pekerja, tindak kekerasan, kemiskinan, keterpencilan) agar tercapai asas pemerataan distribusi pendapatan dan penyerapan tenaga kerja secara maksimal.
3. Membentuk lembaga pengembangan ekonomi kerakyatan yang berbasis kearifan local dengan melakukan dialog dalam formulasi kebijakan pengembangan ekonomi di Jawa Tengah.
4.    Tolak privatisasi dan Nasionalisasi aset aset daerah yang dikuasai oleh pemodal
5.  Optimalisasi lembaga advokasi milik pemerintah guna identifikasi hasil dan keberlanjutan program perekonomian pemerintah terhadap rakyat.
Untuk komisi C, membahas permasalahan pendidikan, yang notabene menjadi jantung utama sebagai lahan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Persoalan pendidikan menjadi sangat penting, oleh karena itu dari komisi C merekomendasikan beberapa poin penting, yaitu
1.    Wujudkan komitmen pemerintah dlm melaksanakan program wajib belajar dasar sembilan tahun.
2.    Bebaskan lembaga pendidikan di Jawa tengah dari komersialisasi dan berbagai bentuk KKN.
3.    Memperjelas kurikulum yang terpadu berbasis kearifan local lembaga pendidikan dijawa tengah.
4.  Hapuskan Netralisasi Kehidupan Kampus / badan koordinasi kampus (NKK/ BKK) dibagi jilid dua.
5.    Hapuskan RSBI di Jawa Tengah
6.    Memperjelas kinerja penjamin mutu disemua tingkatan pendidikan
      Dengan berbagai rekomendasi tersebut, diharapkan pemerintah semakin melek dengan realita yang tengah terjadi dalam masyarakat Jawa Tengah ini. Disisi lain, pemerintah juga harus tanggap dengan cepat dan tepat menghadapi persoalan tersebut.

HAM dan Keberagamannya


Hak Asasi Manusia atau HAM merupakan hak dasar yang dimiliki oleh setiap individu tanpa memandang suku, ras, dan agama. Oleh sebab itu, negara memiliki kewajiban untuk bisa menghargai hak asasi manusia sebagai warga negara Indonesia. Ada banyak hak yang dimiliki oleh setiap warga negara, misalnya Hak Hidup, Hak Agama, Pendidikan, Hak Pekerjaan, Keamanan, dll. Beberapa hak tersebut merupakan hak individu yang saling terkait dan saling memiliki ketergantungan satu sama lain.
Hari ini penghargaan tentang HAM sudah semakin mahal. Banyak kasus pelanggaran HAM di Indonesia. Sayangnya, pemerintah tak punya langkah cepat dan tepat untuk menuntaskan permasalahan tersebut. Semisal, tragedi Semanggi I (13-15 November 1998), dan peristiwa Trisakti (12 Mei 1998), pembunuhan aktivis HAM, Munir Said Thalib atau Cak Munir pada 7 September 2004, kasus penggusuran pasar raya padang (2011), kasus Tiaka Morowali juga jemaat gereja baptis papua (2011), Kongres Rakyat Papua III (2011) serta kejadian syiah sampang (2012), dan Serikat Pekerja Indonesia (2012), (Okezone, 7 Oktober 2012).  Penyelesaian kasus pelanggaran HAM terebut seringkali tidak diselesaikan secara tuntas. Sehingga penegakan hukum tentang HAM pun masih jauh dari kata “keadilan”.
Konflik yang terjadi di Indonesia, seringkali diselesaikan bukan atas nama warga negara. Banyak kasus seperti kasus kerusuhan antar umat beragama, perselisihan antar suku sering kali diselesaikan berdasarkan suku atau agama masing-masing. Imbasnya, kaum minoritas dan mayoritaslah yang berperan dalam penyelesaian kasus tersebut. Sudah dapat dipastikan, bahwa kaum mayoritaslah yang akan selalu benar ketika terjadi perselisihan. Padahal konflik yang terjadi di Indonesia, bukanlah konflik atas nama golongan minor dan mayor, melainkan konflik atas nama warga negara Indonesia. Disinilah peranan penegak hukum untuk membela hak asasi manusia yang notabene seringkali “tertindas”. Semisal kita lihat kasus Sampang, warga Syi’ah yang notabene mayoritas, mereka tersingkir dari daerahnya. Padahal mereka sama-sama warga negara Indonesia yang memiliki hak hidup, hak keamanan, hak beragama, dsb, namun karena pelabelan atas nama kaum “Minoritas”, maka tidak banyak banyak yang dapat mereka lakukan untuk sekedar menuntut hak-haknya.
Melihat realitas yang sedemikian memprihatinkan, kita selaku insan pendidikan perlu membuka wacana tentang persoalan tersebut. Sehingga, nantinya dalam sebagai pendidik, khususnya pendidik agama Islam mampu menanamkan nilai-nilai keberagaman dan sikap inklusif dalam kehidupan sehari –hari. Selain itu, diharapkan pendidikan agama mampu memberikan sumbangsih untuk mengatasi permasalahan HAM yang terjadi di Indonesia.


                                           oleh, Malikhah

 

Pancasilanya Indonesia


Pancasila, panca berarti lima, dan sila yang berarti asas. Merupakan ideologi bangsa Indonesia yang wajib kita pegang teguh sebagai anak bangsa. Pancasila yang terdiri dari lima asas ini yakni sebagai berikut,
  1. Ketuhanan yang maha esa
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradap
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Hari ini peringatan 47 tahun kesaktian pancasila, perlu kita refleksikan bersama. Implementasi dari lima butir yang telah dirumuskan oleh funding father terdahulu hari ini mengalami degradasi cukup signifikan. Banyak sekali kasus-kasus yang sangat memprihatinkan, seperti kerusuhan antar warga negara, baik itu atas nama agama atau suku. Bahkan, pemuda yang seharusnya menjadi investasi jangka panjang bagi Indonesia, justru mengalami degradasi moral yang cukup mengejutkan. Media masa semakin ramai memberitakan kabar tawuran antar pelajar, hal ini menjadikan tanda tanya besar. Selama ini pendidikan yang seperti apa yang diberikan kepada siswa, hingga tidak ada keharmonisan antar warga negara.
Perlunya internalisasi nilai-nilai pancasila dalam diri individu menjadi penting untuk kita refleksikan. Selama ini, banyak orang hafal naskah pancasila, namun mengaplikasikan kedalam kehidupan nyata, masih jauh dari harapan. Perlu adanya dorongan kuat untuk saling mengingatkan agar lima panca yang telah dirumuskan dapat terpelihara dengan baik. Pancasila bukan hanya sebagai pajangan dinding negara, yang tidak tahu harus diletakkan dimana, namun pancasila merupakan asas yang harus kita tanamkan pada diri kita. Sehingga, setiap langkah yang kita tapaki menyatu dengan konsep dasar Pancasila yang sesungguhnya.
Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Bintang menjadi simbol sila pertama ini. Setiap warga negara memiliki hak penuh memeluk agama sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Disini mengandung nilai-nilai toleransi yang harus kita jaga sebagai warga negara. Sebab, agama dan kepercayaan yang dianut tidak hanya satu, melainkan lebih. Jika sebagai warga negara tidak mampu untuk menjaga toleransi antar umat beragama, maka yang terjadi adalah kerusuhan antar umat beragama yang saat ini menjadi hot topic. Agama dan kepercayaan merupakan hak setiap individu, karena menyangkut hubungan pribadi dengan Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, rasa saling menghormati dan menghargai harus selalu terjalin dengan baik. Tidak mudah terprofokasi oleh isu-isu propaganda yang hanya akan menimbulkan kerusuhan. Dan jangan sampai agama menjadi alibi yang harus dipersalahkan.
Kedua, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Rantai menjadi simbol sila kedua. Bahwasanya setiap warga negara memiliki hak yang patut kita hargai. Persamaan derajad, persamaan hak, dan kewajiban asasi setiap manusia harus kita junjung tinggi, tanpa membeda-bedakan suku, ras, dan agama. Nilai-nilai pancasila yang harusnya menjadi cerminan dalam bertindak, sudah tak memiliki prestise dimata publik. Sebagai bangsa yang beradab, harusnya warga negara Indonesia memiliki adab yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Namun, hari ini terlihat jelas, para wakil rakyat yang harusnya menjadi contoh masyarakat, justru asik dengan tindakan amoral yang dilakukannya. Akhirnya bangsa Indonesia hari ini tengah gusar dengan adanya kemerosotan moral.
Ketiga, Persatuan Indonesia. Pohon beringin menjadi simbol sila ketiga. Seluruh rakyat Indonesia sepakat ketika persatuan dan kesatuan benar-benar terjalin. Tidak ada konflik antar suku, antar umat beragama, maupun antar golongan maka akan tercipta suasana damai di bumi pertiwi. Semboyan “Bhineka Tunggal Ika” menjadi salah satu semboyan yang harus kita jaga. Sadar atau tidak, kita hidup dalam keberbedaan, namun bukan untuk dibeda-bedakan. Hargai dan hormati setiap keberbedaan yang ada disekitar kita. Maraknya pertikaian antar warga negara, timbul akibat tidak adanya saling toleransi antar sesama. Rendahnya pemahaman akan nilai-nilai pancasila, membuat individu mudah terpancing emosi. Akibatnya, permasalahan kecil, justru akan semakin membara karena kurangnya sikap saling menghormati.
Keempat, Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan. Kepala banteng menjadi simbol sila keempat. Menyematkan label “Percaya” untuk para wakil rakyat semakin sulit. Wakil rakyat yang tidak merakyat semakin menggurita. Hanya simbol-simbol kebesaran wakil rakyat yang dapat dilihat, tidak lebih. Benarkah ini musyawarah mufakat untuk kepentingan rakyat? Tan Malaka mengatakan, “Kekuasaan kaum modal berdiri atas didikan yang berdasar kemodalan. Kekuasaan Rakyat hanya bisa diperoleh dengan didikan kerakyatan.” Dengan didikan yang demikian, diharapkan kemerdekaan mutlak milik rakyat. Permasalahan kemiskinan, pendidikan, sosial harus diselesaikan. Bukan sekedar untuk dibahas secara teori, namun tindakan pemerintah secara real haruslah dilakukan.  Semua permasalahan diputuskan demi kesejahteraan warga negara, bukan hanya untuk suatu golongan saja. Sebab, setiap keputusan yang diambil patut dipertanggung jawabkan dihadapan Tuhan yang maha esa.
Kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Padi dan kapas yang menjadi simbol sila ke lima ini. Sebagai warga negara selain harus mendapatkan hak, perlu diimbangi dengan melaksanakan kewajiban sebagai warga negara. keadilan sosial memiliki makna yang cukup luas. Terciptanya keadilan bagi masyarakat, selama ini masih minim. Hal ini terlihat adanya akses pendidikan yang tidak merata, akses kesehatan yang semakin sulit, bahkan perlakuan didepan hukum masih saja melenceng. Semua itu hanya dapat diakses dengan baik oleh orang-orang kaya. Hal ini sangat memprihatinkan, karena sangat merugikan masyarakat kecil.
Kembali dengan peringatan 47 tahun kesaktian Pancasila. Nilai-nilai luhur sebuah bangsa yang termaktub dalam lima asas negara menjadi kekuatan besar bagi bangsa Indonesia. Perumusan pancasila yang didahului adanya pemberontakan G 30 S PKI pada 30 September 1965 silam menjadi catatan pena negara Indonesia. Pemberontakan ini menjadi wujud nyata bahwa pada saat itu Pancasila sebagai ideologi bangsa, akan dirubah menjadi ideologi komunis. Pada hari yang ganas itu, tujuh jendral dan beberapa orang lainnya menjadi korban pmbunuhan sadis, hal ini membuat Soekarno donder seketika. Dengan semangat perjuangan yang tinggi, Pancasila sebagai dasar negara mampu dipertahankan dan upaya perubahannya berhasil digagalkan. Oleh sebab itu, setiap tanggal 30 September menjadi hari peringatan G 30 S PKI dan setiap tanggal 1 Oktober menjadi hari sejarah yakni Kesaktian Pancasila.
Patut kita hargai perjuangan para pahlawan yang telah gugur di medan pertempuran yang teramat pedih. Pengamalan nilai-nilai Pancasila, menjadi salah satu langkah kongkret untuk meneruskan perjuangan para pahlawan. Akhirnya, sebagai pemuda yang bercita-cita mewujudkan Bumi Pertiwi yang menjunjung tinggi nilai-nilai budi pekerti luhur berharap hari ini, esok, dan selanjutnya akan tercapai sebuah kerukunan dan keharmonisan.



                                                                     oleh, Malikhah

Pancasilanya Indonesia


Pancasila, panca berarti lima, dan sila yang berarti asas. Merupakan ideologi bangsa Indonesia yang wajib kita pegang teguh sebagai anak bangsa. Pancasila yang terdiri dari lima asas ini yakni sebagai berikut,
  1. Ketuhanan yang maha esa
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradap
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Hari ini peringatan 47 tahun kesaktian pancasila, perlu kita refleksikan bersama. Implementasi dari lima butir yang telah dirumuskan oleh funding father terdahulu hari ini mengalami degradasi cukup signifikan. Banyak sekali kasus-kasus yang sangat memprihatinkan, seperti kerusuhan antar warga negara, baik itu atas nama agama atau suku. Bahkan, pemuda yang seharusnya menjadi investasi jangka panjang bagi Indonesia, justru mengalami degradasi moral yang cukup mengejutkan. Media masa semakin ramai memberitakan kabar tawuran antar pelajar, hal ini menjadikan tanda tanya besar. Selama ini pendidikan yang seperti apa yang diberikan kepada siswa, hingga tidak ada keharmonisan antar warga negara.
Perlunya internalisasi nilai-nilai pancasila dalam diri individu menjadi penting untuk kita refleksikan. Selama ini, banyak orang hafal naskah pancasila, namun mengaplikasikan kedalam kehidupan nyata, masih jauh dari harapan. Perlu adanya dorongan kuat untuk saling mengingatkan agar lima panca yang telah dirumuskan dapat terpelihara dengan baik. Pancasila bukan hanya sebagai pajangan dinding negara, yang tidak tahu harus diletakkan dimana, namun pancasila merupakan asas yang harus kita tanamkan pada diri kita. Sehingga, setiap langkah yang kita tapaki menyatu dengan konsep dasar Pancasila yang sesungguhnya.
Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Bintang menjadi simbol sila pertama ini. Setiap warga negara memiliki hak penuh memeluk agama sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Disini mengandung nilai-nilai toleransi yang harus kita jaga sebagai warga negara. Sebab, agama dan kepercayaan yang dianut tidak hanya satu, melainkan lebih. Jika sebagai warga negara tidak mampu untuk menjaga toleransi antar umat beragama, maka yang terjadi adalah kerusuhan antar umat beragama yang saat ini menjadi hot topic. Agama dan kepercayaan merupakan hak setiap individu, karena menyangkut hubungan pribadi dengan Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, rasa saling menghormati dan menghargai harus selalu terjalin dengan baik. Tidak mudah terprofokasi oleh isu-isu propaganda yang hanya akan menimbulkan kerusuhan. Dan jangan sampai agama menjadi alibi yang harus dipersalahkan.
Kedua, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Rantai menjadi simbol sila kedua. Bahwasanya setiap warga negara memiliki hak yang patut kita hargai. Persamaan derajad, persamaan hak, dan kewajiban asasi setiap manusia harus kita junjung tinggi, tanpa membeda-bedakan suku, ras, dan agama. Nilai-nilai pancasila yang harusnya menjadi cerminan dalam bertindak, sudah tak memiliki prestise dimata publik. Sebagai bangsa yang beradab, harusnya warga negara Indonesia memiliki adab yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Namun, hari ini terlihat jelas, para wakil rakyat yang harusnya menjadi contoh masyarakat, justru asik dengan tindakan amoral yang dilakukannya. Akhirnya bangsa Indonesia hari ini tengah gusar dengan adanya kemerosotan moral.
Ketiga, Persatuan Indonesia. Pohon beringin menjadi simbol sila ketiga. Seluruh rakyat Indonesia sepakat ketika persatuan dan kesatuan benar-benar terjalin. Tidak ada konflik antar suku, antar umat beragama, maupun antar golongan maka akan tercipta suasana damai di bumi pertiwi. Semboyan “Bhineka Tunggal Ika” menjadi salah satu semboyan yang harus kita jaga. Sadar atau tidak, kita hidup dalam keberbedaan, namun bukan untuk dibeda-bedakan. Hargai dan hormati setiap keberbedaan yang ada disekitar kita. Maraknya pertikaian antar warga negara, timbul akibat tidak adanya saling toleransi antar sesama. Rendahnya pemahaman akan nilai-nilai pancasila, membuat individu mudah terpancing emosi. Akibatnya, permasalahan kecil, justru akan semakin membara karena kurangnya sikap saling menghormati.
Keempat, Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan. Kepala banteng menjadi simbol sila keempat. Menyematkan label “Percaya” untuk para wakil rakyat semakin sulit. Wakil rakyat yang tidak merakyat semakin menggurita. Hanya simbol-simbol kebesaran wakil rakyat yang dapat dilihat, tidak lebih. Benarkah ini musyawarah mufakat untuk kepentingan rakyat? Tan Malaka mengatakan, “Kekuasaan kaum modal berdiri atas didikan yang berdasar kemodalan. Kekuasaan Rakyat hanya bisa diperoleh dengan didikan kerakyatan.” Dengan didikan yang demikian, diharapkan kemerdekaan mutlak milik rakyat. Permasalahan kemiskinan, pendidikan, sosial harus diselesaikan. Bukan sekedar untuk dibahas secara teori, namun tindakan pemerintah secara real haruslah dilakukan.  Semua permasalahan diputuskan demi kesejahteraan warga negara, bukan hanya untuk suatu golongan saja. Sebab, setiap keputusan yang diambil patut dipertanggung jawabkan dihadapan Tuhan yang maha esa.
Kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Padi dan kapas yang menjadi simbol sila ke lima ini. Sebagai warga negara selain harus mendapatkan hak, perlu diimbangi dengan melaksanakan kewajiban sebagai warga negara. keadilan sosial memiliki makna yang cukup luas. Terciptanya keadilan bagi masyarakat, selama ini masih minim. Hal ini terlihat adanya akses pendidikan yang tidak merata, akses kesehatan yang semakin sulit, bahkan perlakuan didepan hukum masih saja melenceng. Semua itu hanya dapat diakses dengan baik oleh orang-orang kaya. Hal ini sangat memprihatinkan, karena sangat merugikan masyarakat kecil.
Kembali dengan peringatan 47 tahun kesaktian Pancasila. Nilai-nilai luhur sebuah bangsa yang termaktub dalam lima asas negara menjadi kekuatan besar bagi bangsa Indonesia. Perumusan pancasila yang didahului adanya pemberontakan G 30 S PKI pada 30 September 1965 silam menjadi catatan pena negara Indonesia. Pemberontakan ini menjadi wujud nyata bahwa pada saat itu Pancasila sebagai ideologi bangsa, akan dirubah menjadi ideologi komunis. Pada hari yang ganas itu, tujuh jendral dan beberapa orang lainnya menjadi korban pmbunuhan sadis, hal ini membuat Soekarno donder seketika. Dengan semangat perjuangan yang tinggi, Pancasila sebagai dasar negara mampu dipertahankan dan upaya perubahannya berhasil digagalkan. Oleh sebab itu, setiap tanggal 30 September menjadi hari peringatan G 30 S PKI dan setiap tanggal 1 Oktober menjadi hari sejarah yakni Kesaktian Pancasila.
Patut kita hargai perjuangan para pahlawan yang telah gugur di medan pertempuran yang teramat pedih. Pengamalan nilai-nilai Pancasila, menjadi salah satu langkah kongkret untuk meneruskan perjuangan para pahlawan. Akhirnya, sebagai pemuda yang bercita-cita mewujudkan Bumi Pertiwi yang menjunjung tinggi nilai-nilai budi pekerti luhur berharap hari ini, esok, dan selanjutnya akan tercapai sebuah kerukunan dan keharmonisan.


baca juga artikel saya yg berjudul mahasiswa

 
MALIKHAH SAN © 2012 | Edited Designed by Kurungan Celotehan