About Me

Malikhah; seorang ibu rumah tangga yang juga ASN dan aktif mengajar di SMPN 1 Singorojo. Lahir pada tanggal 28 Oktober 1991, dengan semangat sumpah pemuda semangat menulis untuk meninggalkan jejak digital yang bisa bermanfaat untuk semua.

WISUDAKU



Empat tahun sudah menimba ilmu di IAIN Walisongo Semarang. Pendidikan Agama Islam menjadi pilihanku untuk belajar. Kamis, 29 Januari 2015 menjadi momen bahagia untuk merayakan wisuda bersama keluarga, kawan, dan saudara. Masuk pada bulan Juli 2010, seharusnya aku dapat menempuh wisuda tahun lalu. Seiring berjalannya waktu, status kelulusanku adalah terlambat. Sehingga meskipun lulus tepat di 8 semester, namun aku baru dapat mengikuti wisuda pada bulan Januari 2015 tepatnya di semester 9.
Meskipun terlambat, enam bulan penantian dapat ku kejar dengan beragam aktivitas. Menunggu menjadi sesuatu yang membosankan, sehingga beragam cara ku lakukan untuk bisa beraktivitas. Salah satunya dengan bekerja di salah satu SD di Sukorejo. Memasuki bulan Desember 2014, aktivitas mengajar di SD ku jalani. Seiring perjalanan waktu, bulan Januari akhirnya status mengajarku tak lagi ada. Sebab telah digantikan oleh guru yang telah berstatus Negeri. Sementara itu, aku dipindahkan dibagian Tata Usaha (TU). Serasa tak nyaman, yah memang administrasi bukanlah bidangku. Akhirnya, mencoba peruntungan di salah satu SMP di Boja. Akhirnya, panggilan itupun datang. Hingga pada 13 Januari 2015, aku resmi mengajar di SMP.
Alhamdulillah, dihari bahagiaku kini, status pengangguran telah sirna. Hehehe... Pasca wisuda, tak lagi risau mencari pekerjaan lagi. Ratusan mahasiswa yang akan di wisuda kali ini, pastinya sangat berbahagia. Kali ini menjadi moment seumur hidup hingga dapat merasakan indahnya wisuda S1. Semoga bisa lanjut S2 yah... Amien.


Panorama Curug Sewu


Oleh, Malikhah
Panorama indah air terjun diiringi gemercik air mampu membius wisatawan. Curug sewu, agro wisata yang menyuguhkan keindahan air terjun dapat anda temui di desa curug kecamatan Patean, kabupaten Kendal. Udara dingin dengan hembusan angin sepoi-sepoi akan mewarnai perjalanan anda di curug sewu ini.
Untuk sampai di curug sewu, dibutuhkan waktu 1 jam dari pusat kota Kendal. Anda hanya membayar tiket sebesar Rp. 5.000,00 sudah dapat menikmati keindahan air terjun. Disebut curug sewu karena tangga yang digunakan untuk sampai dibibir curug terhitung seribu tangga yang harus dilewati. Meskipun banyak anak tangga yang harus dilewati, anda tak perlu panik. Sepanjang perjalanan, anda dapat menemukan puluhan monyet yang akan menyambut serta menemani perjalanan anda. Meskipun gerak gerik monyet dibiarkan bebas, namun monyet-monyet tersebut tidak akan melukai ataupun membahayakan wisatawan yang berkunjung.
Selain air terjun, wisatawan juga akan disuguhi pemandangan hutan dari atas gardu pandang. Wisatawan juga dapat menikmati kolam renang yang terdapat dikawasan curug sewu. Untuk wisatawan yang membawa anak, tak perlu khawatir dengan fasilitas bermain anak. Luasnya kawasan curug sewu, membuat area bermain anak terbentang luas. Terdapat taman dan permainan anak seperti ayunan, jungkat jungkit, jembatan layang yang dapat wisatawan manfaatkan.

Setiap akhir pekan, pengelola menghadirkan beragam hiburan untuk wisatawan. Dangdut menjadi salah satu hiburan yang sering disuguhkan bagi wisatawan yang berkunjung. Sembari menikmati panorama alam curug sewu, wisatawan juga dapat menikmati sajian musik dangdut.

Wisata Perdamaian Di Desa Plajan


Oleh, Malikhah
Pesona agrowisata pantai ataupun indahnya panorama pegunungan mungkin sudah biasa kita temui. Sesekali, coba kita telusuri unik dan beragamnya agrowisata yang terdapat di Jawa Tengah. Salah satunya adalah desa Perdamaian yang terletak di Plajan Jepara. Desa Plajan telah terkenal dengan nama desa perdamaian, tidak hanya pada taraf nasional, namun tingkat internasional.
Masyarakat desa Plajan mampu hidup berdampingan dengan rukun dan damai, meskipun berbeda keyakinan. Di desa ini terdapat 3 agama yang dianut oleh masyarakat Plajan, diantaranya agama Islam, Hindu, dan Kristen. “Warga desa Plajan ini terdiri dari berbagai keyakinan agama, dan mereka dapat hidup berdampingan dengan damai dan rukun,” ujar Purwadi salah satu warga desa Plajan. Jika anda berkeliling di desa ini, anda akan menemukan banyak tempat ibadah yang dibangun secara berdampingan. Keramahan masyarakat menjadikan desa Plajan semakin damai.
Sumarwoto selaku petinggi desa Plajan menjelaskan bahwa desa Plajan merupakan desa yang memiliki berbagai macam potensi wisata yang dapat digali informasinya. “Desa Plajan ini memiliki agro wisata Gong Perdamaian, Goa Sakti, Akar Seribu, dan sebagainya,” tambah Marwoto yang juga perintis konservasi alam di desa ini.
Simbol Perdamaian
Salah satu simbol perdamaian di desa Plajan ini adalah gong perdamaian. “Gong Perdamaian sudah ada sejak dahulu, dan sekarang gong perdamaian ini diwariskan kepada Djuyoto Suntani yang merupakan pewaris gong keturunan ke tujuh,” ungkap petugas penjaga gong. Dia menuturkan bahwa gong perdamaian tersebut merupakan simbol perdamaian dunia yang melambangkan kerukunan umat beragama di seluruh dunia.
Gong perdamaian ini telah ditempatkan di 202 negara di seluruh dunia. Penempatan gong di 202 negara ini merupakan sumbangan dari presiden perdamaian Djuyoto Suntani selaku tokoh perdamaian dunia asal Plajan Jepara. Menurut keterangan yang dihimpun, gong perdamaian ini diluncurkan pertama kali di Bali pada tahun 2002 lalu oleh Megawati Soekarno Putri. Jika diamati, terdapat 202 bendera negara dunia yang tertempel di lingkaran luar gong perdamaian. Ditengah lingkaran gong, terdapat tulisan World Peace Gong dan sepasang bunga perdamaian sebagai identitas. Sedangkan dilingkaran dalam terdapat 9 simbol agama terbesar didunia, dan lingkaran paling dalam/ puncak, terdapat gambar bola dunia. Dikawasan sekitar gong perdamaian, juga terdapat sumur perdamaian, aneka lukisan perdamaian, dan the earth center (pusat bumi).
Selain itu, di desa Plajan ini juga terdapat goa sakti dan akar seribu yang menjadi agro wisata yang mampu memberikan daya tarik tersendiri. Goa sakti terletak sekitar 1 kilometer dari pusat gong perdamaian. Begitu pula dengan akar seribu. Di kawasan akar seribu, anda akan disambut rimbunnya pepohonan yang memiliki akan yang sangat banyak. Bergegaslah untuk mengagendakan wisata unik di desa Plajan ini.


Curug Winong, Pesona Wisata Wonosobo


Oleh, Malikhah

Wonosobo tidak hanya menyimpan pesona wisata di kawasan Dieng semata. Terdapat kekayaan alam yang dapat wisatawan kunjungi. Curug Winong ini berlokasi di dusun Temanggung desa Winongsari Wonosobo. Wisatawan hanya membutuhkan waktu 45 menit untuk sampai ke desa ini.
Curug Winong dahulunya tempat pertapaan Eyag Karta Suta. Konon, di curug Winong terdapat kesenian wayang kulit yang dimainkan oleh makhluk halus. Hingga kini, bukti adanya kesenian wayang yang berupa watu kelir (layar untuk pertunjukkan wayang) masih sering digunakan dalam acara merdi dusun di Temanggung.
Medan yang harus dilewati untuk sampai ke bibir curug tidak terlalu berat. Disepanjang perjalanan menuju bibir curug, wisatawan dapat menikmati pemandangan alam yang sangat menakjubkan. Tidak hanya itu, wisatawan juga bisa menikmati buah salak yang dipetik langsung dari pohonnya.
Wisata curug Winong ini memang menawarkan tiket wisata murah meriah. Hanya dengan uang Rp. 4.000,00, wisatawan sudah dapat menikmati indahnya curug Winong. Jika musim buah tiba, selain wisatawan dapat menikmati buah salak, wisatawan juga akan disuguhkan buah duku dan durian yang menjadi hasil pertanian desa Winongsari.

Di desa Winongsari ini, wisatawan akan dimanjakan oleh hiburan berupa kesenian tari topeng dan tari lengger. Wisatawan juga diberikan kesempatan untuk belajar tari sekaligus memainkan gamelan secara langsung. Anda tertarik? Segera agendakan untuk mengunjungi curug Winong. Happy Holiday....

Inilah 3 Desa Wisata di Wonosobo Yang Patut Dikunjungi





Bagi anda yang gemar berwisata, tak ada salahnya mencoba wisata unik di kawasan Wonosobo. Lokasi yang berada di wilayah pegunungan, membuat pemandangan alam nampak elok nan mempesona.

Dalam liputan kali ini, penulis telah merangkum tiga desa wisata di wilayah Wonosobo yang patut anda kunjungi. Tiga desa wisata ini terdapat dibeberapa lokasi yang berbeda.

Pertama, desa Giyanti

Desa ini didirikan oleh mbah Pertoloyo, mbah Kiai Mranggi, dan mbah Kyai Monyet.

"Aktivitas desa Giyanti diantaranya karawitan, kuda kepang, bagilun, tari lengger, ketoprak", ungkap Anaf Mustanto selaku kepala desa. Kesenian ini merupakan pertunjukkan yang ditampilkan untuk menyambut wisatawan yang berkunjung ke desa Giyanti.

Selain itu, wisatawan juga akan disuguhkan beberapa jenis karya masyarakat Giyanti, diantaranya anyaman gribig, lukisan wayang wol, wayang topeng.  

Kedua, Desa Sembungan

Sembungan merupakan desa tertinggi di pulau Jawa. Desa ini menawarkan beragam wisata alam yang mampu membuat wisatawan berdecak kagum.
"Kami memiliki agrowisata golden sunrise di Sikunir", tutur Ngazudin selaku pengelola wisata Sembungan.

Wisatawan dapat menikmati golden sunrise di puncak Sikunir yang berjarak sekitar 1km. Selain itu, masih di puncak Sikunir, wisatawan dapat melihat panorama danau Cebong yang berada tepat dibawah puncak Sikunir.

"Wisatawan dapat memanfaatkan homestay yang tersedia di Sembungan sebelum naik ke puncak Sikunir", lanjut Ngazudin. Di Sembungan, juga memproduksi beragam oleh-oleh khas Sembungan. Misalnya, carica, terong belanda, cabai raksasa, bahkan wisatawan dapat ikut memanan kentang secara langsung.

Ketiga, Desa Winongsari

Berbeda dengan kedua desa sebelumnya, desa Winongsari menyuguhkan curug Winong sebagai agrowisata menarik. Akses jalan yang mudah, membuat curug ini sangat mudah untuk dijangkau.

"Durian, duku, dan salak menjadi buah andalan yang dihasilkan di desa ini", kata kepala desa Winongsari kepada Vivanews. Selain curug, wisatawan juga bisa menikmati panen salak sendiri. Sehingga wisatawan mampu menikmati buah salak langsung dari pohonnya.

Desa Winong juga menampilkan sebuah aktivitas seni, seperti tari lengger dan karawitan."Jika ada tamu, kesenian ini menjadi pembuka dan ucapan selamat datang bagi  wisatawan, "jelas Eko disela-sela diskusi.

Ragam budaya dan potensi daerah tersebut menjadi harta yang tak ternilai. Semoga daftar nama-nama desa wisata yang penulis tulis mampu menambah daftar tempat liburan wisatawan.











Carica, Pepaya Mini Khas Wonosobo



Berwisata tanpa membawa buah tangan, serasa makan sayur tanpa garam. Salah satu oleh-oleh yang khas dari Wonosobo adalah carica.

Carica merupakan buah sejenis tanaman pepaya, namun ukurannya kecil. "Carica hanya bisa tumbuh di kawasan Dieng", kata Gunawan salah satu pengelola wisata di Sembungan Wonosobo.

Gunawan menjelaskan bahwa pengaruh ketinggian daerah dan suhu sangat mempengaruhi pertumbuhan carica. "Saya pernah mencoba menanam carica didaerah saya, namun tidak tumbuh," ungkap Ryan salah satu pengunjung asal Kendal. Buah carica jika ditanam di daerah dataran rendah, maka akan tumbuh menjadi buah pepaya.

Carica; Manisan Mungil

Meskipun sejenis, rasa buah carica berbeda dengan pepaya. Buah carica berasa asam jika langsung dimakan.

"Carica biasa dibuat manisan, tidak bisa langsung dimakan", tutur Rofiq salah satu petani carica. Menurutnya, carica harus diolah beberapa kali. Buah carica yang telah matang, dipisahkan dengan bijinya. Biji carica direbus dengan gula dan air hingga matang begitu pula dengan carica.

"Air hasil rebusan biji carica dicampur dengan buah yang telah direbus dan bisa langsung disantap", jelas Rofiq.

Carica sebagai icon makanan khas Wonosobo ini dapat dijumpai wisatawan diberbagai tempat. Banyak pedagang carica yang berjejer menawarkan carica baik matang maupun mentah. Pastinya, sensasi makan pepaya mungil ini, akan membuat anda jatuh cinta pada carica.


Mie Ongklok, Kuliner Legit ala Wonosobo



Mie ongklok, bukan sembarang mie rebus maupun mie goreng. Lidah anda akan digoyang dengan kelezatan mie ongklok.

Tepung kanji, mie kuning, kol, kucai, dan daging ayam merupakan bahan utama mie ongklok. "Tepung kanji ini dijadikan kuah untuk menyiram mie berisi sayuran", ungkap Umi pedagang mie ongklok.

Sedangkan daging ayam, dijadikan sate sebagai pelengkap mie ongklok. "Kentalnya kuah mie inilah memiliki cita rasa yang khas banget", kata Cristis salah satu penggemar mie ongklok.

Kelezatan mie ongklok yang sebenarnya hanya akan anda temukan di Wonosobo. Harga mie ongklok yang sesuai dengan kantong, membuat mie ongklok selalu diburu.


 Monster Itu Bernama Sampah

Oleh, Malikhah

Sampah bisa berupa apa saja, plastik, kertas, kain, dan lain-lain. Sampah yang tidak dimanfaatkan dengan baik, dapat berdampak buruk bagi lingkungan. Sadar akan pentingnya membuang sampah di tempatnya, menjadikan lingkungan kaya akan sampah.

Kesadaran menjaga kebersihan telah diserukan dalam agama Islam. Kebersihan adalah bagian dari iman. Prinsip yang ditanamkan untuk umat muslim ini memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan umat manusia.

             Membincang sampah, penulis teringat akan kawasan Mangkang Kulon kecamatan Tugu. Kawasan yang bersinggungan langsung dengan laut ini memiliki tingkat kebersihan yang sangat kurang. Terlebih kawasan aliran air yang menuju laut di Mangkang. Kanan kiri aliran air tersebut berjubal dengan sampah.

        Kesadaran masyarakat akan pentingnya membuang sampah di tempat sampah sangat minim. Akibatnya, semakin lama sampah semakin menggunung. Hal ini berdampak pada aktivitas nelayan selama melaut. Nelayan mengalami kesulitan untuk menjalankan perahunya, akibat dangkalnya aliran air dan penuhnya sampah. Meski demikian, tidak ada langkah kongkret dari masyarakat untuk memberantas permasalahan sampah di daerah mereka. Salah satu warga mengatakan bahwa jika masyarakat digerakkan untuk membersihkan sampah, mereka mau membersihkan. Namun, pasca kegiatan tersebut sampah kembali menggunung akibat ulah masyarakat.

Upaya Tanam Mangrove

          Banyak pengaruh negatif yang diakibatkan oleh sampah yang tergenang diperairan. Salah satunya adalah banjir. Tentunya ini berdampak langsung dengan kehidupan masyarakat. Betapa tidak, rumah-rumah yang berada tepat dibibir pantai bisa diterjang ombak kapanpun ombak datang menerjang.

        Keprihatinan akan kondisi lingkungan tersebut membuat Sururi selaku aktivis mangrove berinisiatif untuk menanam mangrove. Di kawasan Mangkang Kulon ini, Sururi bersama-sama dengan tim membudidayakan mangrove.

          Menurut Nofi, salah satu tim yang turut membantu Sururi membudidayakan mangrove ini, mangrove memiliki manfaat yang cukup besar. "Mangrove bisa menahan abrasi dan banjir yang sering terjadi di Mangkang Kulon", tutur mahasiswa Udinus ini.

         Pengakuan Sururi selama membudidayakan mangrove ini, banyak kendala yang dialami. "Menanam mangrove lebih mudah daripada merawatnya", ungkap Sururi. Merawat mangrove harus teliti dan telaten, sebab harus memilih dan memilah mangrove yang masih hidup atau yang sudah mati.

         "Penanaman mangrove ini semoga bisa membantu mengatasi permasalahan masyarakat Mangkang yang sering mengalami banjir", pungkas Rahayu Nofi.

Beragam Cara Unik, Peringati HUT RI



Oleh, Malikhah

          Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia (RI) digelar diberbagai wilayah. Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi yang ikut riuh dan semarak dengan kemeriahan HUT RI. Ada beragam agenda dalam memperingati HUT RI ke 69 ini.

             Salah satu agenda unik yang digelar di Jawa Tengah adalah upacara bendera yang dilaksanakan ditengah sungai. Tepat dibawah jembatan tugu Soeharto ini, upacara bendera dalam rangka HUT RI dilaksanakan dengan khusyuk.

       Upacara ini sekaligus untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah memperjuangkan bangsa Indonesia. Upacara ini diikuti oleh warga Sampangan dari beberapa RW di wilayah tersebut. Meski upacara dilaksanakan dibawah jembatan, namun berjalan dengan khusyuk. Masyarakat dari berbagai wilayah tersebut turut menyaksikan dari atas jembatan.

           Pasca upacara bendera digelar, agenda dilanjutkan dengan menceburkan diri ke sungai. Salah satu peserta upacara menceburkan diri ke dalam sungai dengan membawa bendera merah putih. Menceburkan diri ke sungai merupakan simbol perjuangan para pahlawan.

Upacara Di Tengah Laut

          Kota atlas selalu menyajikan keunikan yang dimiliki daerah setempat. Berbeda dengan upacara yang digelar ditugu Soeharto, upacara 17 Agustus 2014 ini dilaksanakan di tengah laut.

        Upacara yang digelar di Mangkang Kulon ini dilaksanakan ditengah laut, kemudian dilanjut dengan penanaman 9000 mangrove. Upacara ini diikuti oleh relawan peduli lingkungan beserta warga asing yang tergabung dalam ICW. Ada warga negara Italia, Jepang, dan Inggris yang tengah asyik menanam mangrove.

      Meskipun medan lumpur harus dilalui para relawan ini, namun semangatt para relawan yang digawangi Sururi tak pernah padam. "Yang terpenting, lingkungan tetap terjaga, masyarakat tak lagi harus merasakan banjir setiap tahun", pungkas Sururi.

Inilah mimpiku bersamamu


Suatu pagi, hendak ku tanami sebidang tanah yang kau persembahkan untukku
Bersamamu, kau cangkul sebidang tang gembur
Ada anak-anak yang tengah asyik bermain di sekeliling tanah yang hendak kau gunakan untuk bercocok tanam
            Suatu pagi berbeda, kami memetik beragam tanaman
            Dengan penuh semangat, bersama anak-anak memanen seluruh bidang tanah
            Riuh anak-anak sungguh menghangatkan pagi itu
Kini, waktu tengah berjalan menuju kebahagian itu
Yah, bersamamu
Hingga kita kan memetik bahagia bersama


 
MALIKHAH SAN © 2012 | Edited Designed by Kurungan Celotehan