About Me

Malikhah; seorang ibu rumah tangga yang juga ASN dan aktif mengajar di SMPN 1 Singorojo. Lahir pada tanggal 28 Oktober 1991, dengan semangat sumpah pemuda semangat menulis untuk meninggalkan jejak digital yang bisa bermanfaat untuk semua.

BUKAN


Rasa-nya tak seperti Rasa-ku
Rasa yang tak pernah bisa tertutupi halusnya sutra
            Bagahia bercucuran air mata, tak jua meredam segala asa
            Yang seharusnya, kini menjadi tak seharusnya
            Yang dirinya, tak lagi menjadi dirinya
Perlahan terlihat samar
Dan tak lagi menjadi yang sebenarnya
Gaungnya pun semakin tak terdengar
Terkikis oleh kehidupan orang lain, yang tak seharusnya berkuasa
            Semakin harus mempertimbangkan
            Lambaian tangan, tanda perpisahan
            “Menyatu”, selalu tak terwakili dalam rajutan kata ini
Tak berharap ada yang mengerti, karena tak kan ada yang mengerti
Masih adakah, pilihan yang tak seharusnya dipilih?
Hingga semua tak jelas alurnya
Hingga semakin bertanya, kemana jiwa selama ini
            Ceritanya bukan lagi elang yang terbang bebas,
            Bukan pula mawar yang bisa mekar setiap saat
            Bukan mentari yang selalu menyinari pagi
            Dan hujan pun kini tak mampu membasahi seisi bumi  


                                                                                           By:Cha-Cha

PILIHAN


Kenapa?
Kenapa harus dirasa?
sekeciL apapun ...
       Karena punya hati dalam diri
       Semua orang punya hati yang tak perlu dipertanyakan lagi
       "Perlu dihormati atau tidak?”
Kata menjadi sebuah alat, yang mampu meramu sebuah kalimat
Terkadang terangkai dengan sangat menyakitkan
Hingga terlihat dengan sikap
Sulit untuk menyadarinya
      Bukankah kau selalu ingatkan janji-janji yang patut ditepati?
      Bukankah harus selalu punya sedetik waktu tuk bersama
“Kasar”, menjadi pilihan
Baiklah, mungkin tak bisa lagi
Teramat menyakitkan, 

“CHARACTER EDUCATION FOR CHILDREN WITH SPECIAL NEEDS”


Diakui atau tidak, bangsa Indonesia tengah mengalami krisis multidimensi. Hal ini menjadi polemik panjang yang harus diselesaikan bersama. Adanya krisis multidimensi yang tengah terjadi ini, ditengarai akibat tergerusnya jati diri bangsa Indonesia. Karakter bangsa semakin samar-samar, sehingga mudah terjadi konflik di Indonesia. Menurut Aristoteles, karakter erat kaitannya dengan “habib” atau kebiasaan yang secara terus menerus dilakukan. Dalam pendidikan karakter, pembiasaan menjadi aspek penting dalam penanaman nilai terhadap anak didik. Menurut Thomas Lickona, dalam mendidik karakter terdapat 3 aspek penting yakni, knowing, loving, and acting the good. Menurutnya, keberhasilan pendidikan karakter dimulai dengan pemahaman karakter yang baik, mencintainya, dan pelaksanaan atau peneladanan atas karakter baik itu.
Pendidikan karakter semakin menjadi sebuah perbincangan hangat baik dikalangan akademisi maupun non akademisi. Begitu ramainya pembicaraan tentang pendidikan karakter, hingga pemerintah Indonesia berencana mengesahkan kurikulum 2013. Korelasinya, kurikulum 2013 lebih menekankan kedalam aspek pendidikan karakter. “Kurikulum Pendidikan Karakter” menjadi nama baru untuk 2013 ini. Selama ini, yang selalu diwacanakan adalah pendidikan karakter untuk pendidikan formal, non formal, dan informal untuk anak-anak normal. Fenomena yang terjadi di Indonesia, banyak anak-anak didik dengan kemampuan normal, namun disisi lain banyak pula dari peserta didik yang mengalami keterbatasan. Dalam hal ini, peserta didik yang memiliki keterbatasan ini biasa disebut dengan anak berkebutuhan khusus/ ABK atau (children with special needs).
Dalam hal ini, peneliti tertarik untuk meneliti proses pendidikan karakter yang dibangun untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Tentu akan menarik, sebab dengan adanya keterbatasan yang dimiliki anak, tentu akan berpengarus terhadap proses transfer of knowledge and value. Oleh sebab itu, penelitian ini akan mengangkat pembahasan tentang pendidikan karakter untuk ABK.




                                                                                            By:: Malikhah
                                                                                            Direktur SRIKANDI

“Pendidikan Inklusif dari Perspektif Aliran Kepercayaan di Semarang”


Indonesia memiliki semboyan yang patut dijunjung tinggi oleh seluruh masyarakat Indonesia, yakni “Bhineka Tunggal Ika”. Semboyan ini mengandung nilai-nilai filosofis sebagai wujud pengakuan kebhinekaan manusia, baik vertikal maupun horizontal yang mengemban misi tunggal sebagai umat Tuhan di muka bumi. Kebhinekaan vertikal ditandai dengan perbedaan, kecerdasan, fisik, finansial, pangkat, kemampuan, pengendalian diri dsb. Kebhinekaan horizontal diwarnai dengan perbedaan suku bangsa, ras, bahasa, budaya, agama, tempat tinggal, daerah afiliasi politik, dsb.
Dalam hal ini, kebhinekaan horizontal lah yang seringkali menjadi permasalahan di negeri bumi pertiwi ini. Banyak kasus tentang perselisihan antar suku, budaya daerah yang tidak diakui sehingga mendapatkan pengakuan dari negara lain. Perselisihan dengan frame agama juga semakin menambah bumbu sedap dalam permasalahan penyikapan kebhinekaan. Makna luas yang terdapat dalam nilai-nilai kebhinekaan tentunya menjadikan setiap individu memiliki persepsi yang berbeda. Pemahaman yang radikal, justru akan memicu adanya konflik dalam masyarakat. Hal ini berimbas pada sikap yang yang tentunya tidak jauh dari persepsi masing-masing orang atau kelompok. Pemahaman radikal yang konservatif juga mampu meningkatkan intoleransi di masyarakat serta kontradiksi antara konstitusi dan regulasi yang mengancam kebebasan dalam beragama.
Masyarakat Indonesia tentu mendambakan kondisi dan situasi yang damai tanpa adanya perselisihan. Perselisihan yang diakibatkan oleh adanya perbedaan menjadi hal yang harus kita hindari. Kesadaran akan indahnya perbedaan perlu di internalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tentu untuk mewujudkan semua itu, diperlukan adanya pendidikan yang mampu menyikapi perbedaan dengan baik. Sikap eksklusif saat ini menjadi hal yang harus dihindari, sehingga masyarakat mampu menghadapi tantangan jaman dan juga tidak radikal dalam memandang perbedaan. Pendidikan inklusif tentu dapat memberikan efek positif yang mampu membawa seseorang untuk berpikir lebih terbuka. Sehingga setiap orang dapat menerima perbedaan, baik suku, ras, agama, bahasa, tempat tinggal dan sebagainya.
Frame pendidikan inklusif pun terkadang juga mengandung banyak persepsi. Sikap terbuka dalam menyikapi perbedaan yang ada antar kelompok tentu berbeda. Setiap kelompok memiliki proporsi berbeda dalam bersikap inklusif. Oleh sebab itu, dirasa perlu membuka wacana akan pendidikan inklusif yang dilihat dari sudut pandang beberapa aliran keagamaan di Semarang. Dalam hal ini, Jawa Tengah menjadi sebuah daerah dengan keragaman yang sangat banyak. Salah satunya adanya aliran-aliran kepercayaan yang beragam, tentu memiliki standarisasi dalam menyikapi adanya pendidikan inklusif. Oleh sebab itu, tema ‘Pendidikan Inklusif dari Perspektif Aliran Kepercayaan di Semarang’ penting untuk didiskusikan. Mau tau lebih lanjut? Segera tunggu tanggal mainnya, 29 Maret 2013.


Indonesia memiliki semboyan yang patut dijunjung tinggi oleh seluruh masyarakat Indonesia, yakni “Bhineka Tunggal Ika”. Semboyan ini mengandung nilai-nilai filosofis sebagai wujud pengakuan kebhinekaan manusia, baik vertikal maupun horizontal yang mengemban misi tunggal sebagai umat Tuhan di muka bumi. Kebhinekaan vertikal ditandai dengan perbedaan, kecerdasan, fisik, finansial, pangkat, kemampuan, pengendalian diri dsb. Kebhinekaan horizontal diwarnai dengan perbedaan suku bangsa, ras, bahasa, budaya, agama, tempat tinggal, daerah afiliasi politik, dsb.
Dalam hal ini, kebhinekaan horizontal lah yang seringkali menjadi permasalahan di negeri bumi pertiwi ini. Banyak kasus tentang perselisihan antar suku, budaya daerah yang tidak diakui sehingga mendapatkan pengakuan dari negara lain. Perselisihan dengan frame agama juga semakin menambah bumbu sedap dalam permasalahan penyikapan kebhinekaan. Makna luas yang terdapat dalam nilai-nilai kebhinekaan tentunya menjadikan setiap individu memiliki persepsi yang berbeda. Pemahaman yang radikal, justru akan memicu adanya konflik dalam masyarakat. Hal ini berimbas pada sikap yang yang tentunya tidak jauh dari persepsi masing-masing orang atau kelompok. Pemahaman radikal yang konservatif juga mampu meningkatkan intoleransi di masyarakat serta kontradiksi antara konstitusi dan regulasi yang mengancam kebebasan dalam beragama.
Masyarakat Indonesia tentu mendambakan kondisi dan situasi yang damai tanpa adanya perselisihan. Perselisihan yang diakibatkan oleh adanya perbedaan menjadi hal yang harus kita hindari. Kesadaran akan indahnya perbedaan perlu di internalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tentu untuk mewujudkan semua itu, diperlukan adanya pendidikan yang mampu menyikapi perbedaan dengan baik. Sikap eksklusif saat ini menjadi hal yang harus dihindari, sehingga masyarakat mampu menghadapi tantangan jaman dan juga tidak radikal dalam memandang perbedaan. Pendidikan inklusif tentu dapat memberikan efek positif yang mampu membawa seseorang untuk berpikir lebih terbuka. Sehingga setiap orang dapat menerima perbedaan, baik suku, ras, agama, bahasa, tempat tinggal dan sebagainya.
Frame pendidikan inklusif pun terkadang juga mengandung banyak persepsi. Sikap terbuka dalam menyikapi perbedaan yang ada antar kelompok tentu berbeda. Setiap kelompok memiliki proporsi berbeda dalam bersikap inklusif. Oleh sebab itu, dirasa perlu membuka wacana akan pendidikan inklusif yang dilihat dari sudut pandang beberapa aliran keagamaan di Semarang. Dalam hal ini, Jawa Tengah menjadi sebuah daerah dengan keragaman yang sangat banyak. Salah satunya adanya aliran-aliran kepercayaan yang beragam, tentu memiliki standarisasi dalam menyikapi adanya pendidikan inklusif. Oleh sebab itu, tema ‘Pendidikan Inklusif dari Perspektif Aliran Kepercayaan di Semarang’ penting untuk didiskusikan. Mau tau lebih lanjut? Segera tunggu tanggal mainnya, 29 Maret 2013.


                                                                                   By: Malikhah San

Seharusnya

       Kebahagiaan itu, entah dari mana datangnya ia akan selalu membuat hati tenang. Ketenangan itulah yang sering dicari oleh banyak orang.
      Sore ini, entah berapa detik ku habiskan tuk sekedar menikmati indahnya hidup ini, dan kebahagiaan itu terasa begitu indah, seharusnya. 
      Untuk sebuah pengorbanan, tentu tak ada yang sia-sia. Hingga ketika kekecewaan itu datang, tak perlu ada kata sesal. 
    Sejauh kita melangkah, tak kan pernah kita tahu kuasa Tuhan untuk kita. Detik berlalu, rencana itu semakin menghantui, tak kala kita tak menghendaki. Apapun sebabnya, kalaupun tak sesuai hati nurani kan terasa hambar meski untuk sekedar mengingat. 

Ejaan Bersama

Mengeja hidup bersamamu

           Disaksikan laut biru, seolah memberi senyuman dengan gelombangnya

Hembusan angin pun, turut mengisi keindahan dalam hati

          Rintik hujan pun, turut mengamini setiap doa yang qta panjatkan

Mentari pun turut mengiringi langkah qta tuk bersama

         Semesta tersenyum nan indah, tat kala dua pasang bola mata berjalan mengiringi alunan nada indah

Ketulusan menjadi kunci tuk qta bergandeng tangan bersama, selamanya .....

Peningkatan Produktifitas, Lewat Website



Website Edukasi merupakan salah satu sarana menulis bagi seluruh anggota Edukasi maupun mahasiswa. Pembekalan untuk launching website Edukasi tengah dilaksanakan di Hall Edukasi. Acara perdana (6/3) yang digelar oleh LPM Edukasi ini dihadiri oleh seluruh anggota Edukasi. M. Andy Hakim selaku Pimpinan Umum LPM Edukasi mengatakan, “website Edukasi ini menjadi sarana untuk meningkatkan produktifitas bagi seluruh anggota Edukasi”. Andy yang hadir disela-sela kesibukan PPL nya, menuturkan bahwa banyak mahasiswa yang mengeluhkan minimnya sarana informasi yang diberikan dari Edukasi. Lewat website inilah, selain sebagai ajang penyajian informasi, juga sebagai ajang untuk terus berkarya, sehingga anggota Edukasi mampu lebih produktif.
Dalam acara ini turut hadir pula senior Edukasi angkatan 2001, yang juga aktif menulis diberbagai media, M. Rikza Chamami. Dia menuturkan bahwa website ini merupakan salah satu bentuk perkembangan LPM Edukasi yang sangat baik. “Saat jaman saya, media online belum begitu populer, sehingga akses informasi masih tergolong sulit”, tuturnya. Namun hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk terus menulis sehingga berbagai tulisan buah karya nya mampu menjamah seluruh media massa yang ada, baik dikoran lokal maupun nasional.
Rikza, begitu sapaan akrabnya, mengatakan bahwa media online harus selalu up to date. Ada beberapa prinsip jurnalistik online yang patut dijaga oleh anggota Edukasi. “Seorang jurnalis online harus memegang prinsip, keringkasan, kemampuan beradaptasi, dapat dipindai, interaktifitas, dan komunitas percakapan”, tegasnya.
Media online sangat terkenal dengan beritanya yang selalu up to date. Rikza menekankan pentingnya tulisan yang disajikan adalah tulisan ringkas, namun isinya mengena. “Tulisan yang terlalu panjang akan menjadikan pembaca bosan, tulislah dengan ringkas dan simple”, jelas Rikza yang juga pengelola website Lab. Pendidikan. Rikza juga menyampaikan bahwa seorang jurnalis jangan terlalu sering berdiskusi, namun perlu untuk terus mengasah kemampuan menulisnya”, pungkasnya.

Babat Habis Krisis Ekonomi



Mata uang menjadi salah satu bentuk kedaulatan yang dimiliki oleh sebuah bangsa. Mata uang memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan ekonomi suatu negara. Indonesia memiliki rupiah sebagai mata uang yang dapat digunakan untuk beragam transaksi. Perubahan bentuk maupun nilai mata uang di Indonesia sudah sering terjadi. Dahulu, di Indonesia beredar uang sebesar Rp. 5, 00, Rp. 25, 00, dan sebagainya. Namun saat ini uang senilai itu sudah tidak beredar lagi. Perubahan peredaran keuangan di Indonesia seringkali tidak disadari oleh masyarakat. Setelah mata uang dengan nilai tertentu menghilang dan tidak lagi muncul dalam peredaran, barulah masyarakat menyadari apabila peredarannya sudah dihentikan.
Saat ini isu redenominasi santer terdengar dikalangan masyarakat Indonesia. Redenominasi rupiah merupakan penyederhanaan rupiah tanpa mengurangi nilai mata uang tersebut. Penyederhanaan yang dimaksud adalah penyederhanaan mata uang yang memiliki nominal besar berubah menjadi nominal kecil. Kongkretnya, semisal uang dengan nilai Rp. 1.000, 00 akan diringkas dengan uang Rp. 1, 00, uang sebesar Rp. 10.000, 00 berubah menjadi Rp. 10, 00, dan lain-lain.
Pro kontra tentang redenominasi ini semakin menarik untuk diperbincangkan. Redenominasi menjadi sebuah perubahan yang mampu memberikan dampak signifikan bagi masyarakat. Hal itu akan memberikan dampak bagi perkembangan ekonomi bangsa Indonesia. Dampak yang paling terasa dalam bidang ekonomi antara lain adanya lonjakan harga barang dagangan akibat pembulatan mata uang setelah adanya redenominasi. Sehingga momentum perubahan penyederhanaan rupiah ini bisa jadi dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.
Untuk melakukan redenominasi tentunya melalui proses yang panjang, dan harus melewati persyaratan yang telah ditentukan. Banyak syarat yang mesti dipenuhi salah satunya inflasi mata uang yang ada di sebuah negara, dalam hal ini adalah inflasi mata uang di Indonesia. Besaran inflasi di negara yang akan melakukan redenominasi tersebut harusnya kecil dan cenderung stabil. Jika kita umpamakan, harga gula 10 tahun yang lalu Rp.1.000 per kg, namun harga gula sekarang hampir 10 kali lipat. Maka dapat kita ketahui telah terjadi inflasi terhadap harga gula sebesar 10 kali lipat dari harga gula pada saat 10 tahun yang lalu. Tingginya inflasi tentu akan berdampak pada psikologi masyarakat yakni ketidaksiapan masyarakat dalam menghadapi perubahan kebijakan ini.
Jika permasalahan ekonomi seperti ini belum mampu dipecahkan oleh pemerintah, tentunya redenominasi yang digagas pemerintah tidak perlu dilakukan. Pemerintah belum sepenuhnya siap dengan perubahan yang akan dilakukan. Permasalahan kemiskinan akibat ekonomi pun masih menjamur. Alangkah baiknya jika pemerintah mampu membabat habis permasalahan krisis ekonomi yang terjadi, bukan menambah persoalan yang memberikan dampak buruk bagi masyarakat.

Fasilitas Terbatas, Nyawa Tandas



Kesehatan menjadi sebuah harta paling berharga dalam kehidupan seseorang. Kasus meninggalnya Dera, seorang bayi kembar yang terlahir prematur sangat ironis. Kasus yang memanas minggu ini membuat publik tercengang, hingga ramai dibicarakan. Media massa yang menjadi penggiring isu semakin gencar memberitakan kasus ini. Sehingga permasalahan ini menjadi semakin meluas, hingga menjadi pelanggaran hak anak. Kasus yang dialami oleh Dera ini menjadi keprihatinan bersama bagi masyarakat Indonesia.
Ironisnya kasus Dera ini banyak menuai kontroversi akan kebenaran yang terjadi di lapangan. Kebenaran akan penolakan terhadap Dera dari berbagai rumah sakit (RS) inilah yang menjadi titik poin pengembangan isu ini. Penolakan Dera di beberapa RS dinilai banyak pihak terlalu kejam. Namun, kita juga tidak bisa mengeneralisir persoalan begitu saja. Perlu kita cermati akar permasalahan yang sebenarnya terjadi. Jika memang Dera ditolak akibat tiadanya biaya pengobatan, tentunya kasus ini perlu ditindak lanjuti. Namun, jika tidak demikian, tentunya tidak bisa salah satu pihak disalahkan begitu saja. Karena hanya akan merugikan salah satu pihak yang notabene tidak dapat disalahkan.
Jika dicermati dari berbagai media massa, kasus Dera ini bukan menjadi kesalahan salah satu pihak. Pasalnya, baik pihak keluarga Dera maupun pihak RS tentunya sudah berjuang untuk kesembuhan Dera. Pihak RS yang terkesan ‘menolak’ pasien, tentunya bukan tanpa alasan. Fasilitas Neonatal Intensive Care Unit (NICU) yang dibutuhkan Dera untuk perawatan kesehatannya memang sangat minim. Ditambah lagi dengan pengguna NICU yang sangat banyak, sehingga fasilitas tersebut tengah penuh. Dalam hal ini, tentu saja pihak RS tidak bisa disalahkan juga, karena tidak mungkin mengusir pasien yang tengah dirawat di ruang NICU. Keputusan pihak RS yang menolak ini tentunya tidak dapat disalahkan juga. Kesan yang menganggap bahwa RS tidak mampu melayani masyarakat dengan baik, terutama masyarakat miskin tentunya perlu ditelaah terlebih dahulu. Meskipun banyak RS yang melakukan tindakan semena-mena terhadap pasien yang kurang mampu, namun optimis masih ada RS yang peduli dan mmapu meberikan pelayanan baik dalam masyarakat.
Permasalahan akses kesehatan di Indonesia selama ini masih jauh dari kata sempurna, namun menilik permasalahan ini perlu disikapi dengan bijak. Minimnya fasilitas kesehatan yang dimiliki RS di Indonesia bukanlah hal yang baru. Keterbatasan fasilitas ini berbanding terbalik dengan adanya pengguna fasilitas kesehatan. Imbasnya, akses kesehatan di Indonesia kurang maksimal. Sebagai pengguna layanan kesehatan, baik masyarakat maupun pemerintah harusnya saling memahami. Artinya, pemerintah sebagai pelayan masyarakat, harus menyediakan penambahan fasilitas kesehatan setiap tahun. Begitu juga masyarakat yang harus menggunakan fasilitas dari pemerintah dengan baik. Rumah sakit sebagai media pengobatan masyarakat juga wajib memberikan pelayanan sebaik mungkin.
Melihat kasus tentang persoalan akses kesehatan di Indonesia, tentunya pemerintah perlu mengambil langkah bijak, tepat, dan cepat. Sistem regulasi informasi tentang adanya fasilitas RS perlu ditata kembali. Informasi terpadu disetiap masing-masing rumah sakit perlu ditingkatkan, agar masyarakat dapat mengakses informasi lebih jelas. Sehingga, ada kerja sama yang baik antar rumah sakit. Fasilitas kesehatan yang masih kurang juga perlu segera ditambahkan, jangan menunggu kasus-kasus seperti ini bergulir terlebih dahulu. Jika masalah fasilitas kesehatan dianggap remeh, maka hanya akan terjadi banyak nyawa tandas akibat fasilitas terbatas. 

 
MALIKHAH SAN © 2012 | Edited Designed by Kurungan Celotehan