About Me

Malikhah; seorang ibu rumah tangga yang juga ASN dan aktif mengajar di SMPN 1 Singorojo. Lahir pada tanggal 28 Oktober 1991, dengan semangat sumpah pemuda semangat menulis untuk meninggalkan jejak digital yang bisa bermanfaat untuk semua.

“Pendidikan Inklusif dari Perspektif Aliran Kepercayaan di Semarang”


Indonesia memiliki semboyan yang patut dijunjung tinggi oleh seluruh masyarakat Indonesia, yakni “Bhineka Tunggal Ika”. Semboyan ini mengandung nilai-nilai filosofis sebagai wujud pengakuan kebhinekaan manusia, baik vertikal maupun horizontal yang mengemban misi tunggal sebagai umat Tuhan di muka bumi. Kebhinekaan vertikal ditandai dengan perbedaan, kecerdasan, fisik, finansial, pangkat, kemampuan, pengendalian diri dsb. Kebhinekaan horizontal diwarnai dengan perbedaan suku bangsa, ras, bahasa, budaya, agama, tempat tinggal, daerah afiliasi politik, dsb.
Dalam hal ini, kebhinekaan horizontal lah yang seringkali menjadi permasalahan di negeri bumi pertiwi ini. Banyak kasus tentang perselisihan antar suku, budaya daerah yang tidak diakui sehingga mendapatkan pengakuan dari negara lain. Perselisihan dengan frame agama juga semakin menambah bumbu sedap dalam permasalahan penyikapan kebhinekaan. Makna luas yang terdapat dalam nilai-nilai kebhinekaan tentunya menjadikan setiap individu memiliki persepsi yang berbeda. Pemahaman yang radikal, justru akan memicu adanya konflik dalam masyarakat. Hal ini berimbas pada sikap yang yang tentunya tidak jauh dari persepsi masing-masing orang atau kelompok. Pemahaman radikal yang konservatif juga mampu meningkatkan intoleransi di masyarakat serta kontradiksi antara konstitusi dan regulasi yang mengancam kebebasan dalam beragama.
Masyarakat Indonesia tentu mendambakan kondisi dan situasi yang damai tanpa adanya perselisihan. Perselisihan yang diakibatkan oleh adanya perbedaan menjadi hal yang harus kita hindari. Kesadaran akan indahnya perbedaan perlu di internalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tentu untuk mewujudkan semua itu, diperlukan adanya pendidikan yang mampu menyikapi perbedaan dengan baik. Sikap eksklusif saat ini menjadi hal yang harus dihindari, sehingga masyarakat mampu menghadapi tantangan jaman dan juga tidak radikal dalam memandang perbedaan. Pendidikan inklusif tentu dapat memberikan efek positif yang mampu membawa seseorang untuk berpikir lebih terbuka. Sehingga setiap orang dapat menerima perbedaan, baik suku, ras, agama, bahasa, tempat tinggal dan sebagainya.
Frame pendidikan inklusif pun terkadang juga mengandung banyak persepsi. Sikap terbuka dalam menyikapi perbedaan yang ada antar kelompok tentu berbeda. Setiap kelompok memiliki proporsi berbeda dalam bersikap inklusif. Oleh sebab itu, dirasa perlu membuka wacana akan pendidikan inklusif yang dilihat dari sudut pandang beberapa aliran keagamaan di Semarang. Dalam hal ini, Jawa Tengah menjadi sebuah daerah dengan keragaman yang sangat banyak. Salah satunya adanya aliran-aliran kepercayaan yang beragam, tentu memiliki standarisasi dalam menyikapi adanya pendidikan inklusif. Oleh sebab itu, tema ‘Pendidikan Inklusif dari Perspektif Aliran Kepercayaan di Semarang’ penting untuk didiskusikan. Mau tau lebih lanjut? Segera tunggu tanggal mainnya, 29 Maret 2013.


Indonesia memiliki semboyan yang patut dijunjung tinggi oleh seluruh masyarakat Indonesia, yakni “Bhineka Tunggal Ika”. Semboyan ini mengandung nilai-nilai filosofis sebagai wujud pengakuan kebhinekaan manusia, baik vertikal maupun horizontal yang mengemban misi tunggal sebagai umat Tuhan di muka bumi. Kebhinekaan vertikal ditandai dengan perbedaan, kecerdasan, fisik, finansial, pangkat, kemampuan, pengendalian diri dsb. Kebhinekaan horizontal diwarnai dengan perbedaan suku bangsa, ras, bahasa, budaya, agama, tempat tinggal, daerah afiliasi politik, dsb.
Dalam hal ini, kebhinekaan horizontal lah yang seringkali menjadi permasalahan di negeri bumi pertiwi ini. Banyak kasus tentang perselisihan antar suku, budaya daerah yang tidak diakui sehingga mendapatkan pengakuan dari negara lain. Perselisihan dengan frame agama juga semakin menambah bumbu sedap dalam permasalahan penyikapan kebhinekaan. Makna luas yang terdapat dalam nilai-nilai kebhinekaan tentunya menjadikan setiap individu memiliki persepsi yang berbeda. Pemahaman yang radikal, justru akan memicu adanya konflik dalam masyarakat. Hal ini berimbas pada sikap yang yang tentunya tidak jauh dari persepsi masing-masing orang atau kelompok. Pemahaman radikal yang konservatif juga mampu meningkatkan intoleransi di masyarakat serta kontradiksi antara konstitusi dan regulasi yang mengancam kebebasan dalam beragama.
Masyarakat Indonesia tentu mendambakan kondisi dan situasi yang damai tanpa adanya perselisihan. Perselisihan yang diakibatkan oleh adanya perbedaan menjadi hal yang harus kita hindari. Kesadaran akan indahnya perbedaan perlu di internalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tentu untuk mewujudkan semua itu, diperlukan adanya pendidikan yang mampu menyikapi perbedaan dengan baik. Sikap eksklusif saat ini menjadi hal yang harus dihindari, sehingga masyarakat mampu menghadapi tantangan jaman dan juga tidak radikal dalam memandang perbedaan. Pendidikan inklusif tentu dapat memberikan efek positif yang mampu membawa seseorang untuk berpikir lebih terbuka. Sehingga setiap orang dapat menerima perbedaan, baik suku, ras, agama, bahasa, tempat tinggal dan sebagainya.
Frame pendidikan inklusif pun terkadang juga mengandung banyak persepsi. Sikap terbuka dalam menyikapi perbedaan yang ada antar kelompok tentu berbeda. Setiap kelompok memiliki proporsi berbeda dalam bersikap inklusif. Oleh sebab itu, dirasa perlu membuka wacana akan pendidikan inklusif yang dilihat dari sudut pandang beberapa aliran keagamaan di Semarang. Dalam hal ini, Jawa Tengah menjadi sebuah daerah dengan keragaman yang sangat banyak. Salah satunya adanya aliran-aliran kepercayaan yang beragam, tentu memiliki standarisasi dalam menyikapi adanya pendidikan inklusif. Oleh sebab itu, tema ‘Pendidikan Inklusif dari Perspektif Aliran Kepercayaan di Semarang’ penting untuk didiskusikan. Mau tau lebih lanjut? Segera tunggu tanggal mainnya, 29 Maret 2013.


                                                                                   By: Malikhah San

Seharusnya

       Kebahagiaan itu, entah dari mana datangnya ia akan selalu membuat hati tenang. Ketenangan itulah yang sering dicari oleh banyak orang.
      Sore ini, entah berapa detik ku habiskan tuk sekedar menikmati indahnya hidup ini, dan kebahagiaan itu terasa begitu indah, seharusnya. 
      Untuk sebuah pengorbanan, tentu tak ada yang sia-sia. Hingga ketika kekecewaan itu datang, tak perlu ada kata sesal. 
    Sejauh kita melangkah, tak kan pernah kita tahu kuasa Tuhan untuk kita. Detik berlalu, rencana itu semakin menghantui, tak kala kita tak menghendaki. Apapun sebabnya, kalaupun tak sesuai hati nurani kan terasa hambar meski untuk sekedar mengingat. 

Ejaan Bersama

Mengeja hidup bersamamu

           Disaksikan laut biru, seolah memberi senyuman dengan gelombangnya

Hembusan angin pun, turut mengisi keindahan dalam hati

          Rintik hujan pun, turut mengamini setiap doa yang qta panjatkan

Mentari pun turut mengiringi langkah qta tuk bersama

         Semesta tersenyum nan indah, tat kala dua pasang bola mata berjalan mengiringi alunan nada indah

Ketulusan menjadi kunci tuk qta bergandeng tangan bersama, selamanya .....

Peningkatan Produktifitas, Lewat Website



Website Edukasi merupakan salah satu sarana menulis bagi seluruh anggota Edukasi maupun mahasiswa. Pembekalan untuk launching website Edukasi tengah dilaksanakan di Hall Edukasi. Acara perdana (6/3) yang digelar oleh LPM Edukasi ini dihadiri oleh seluruh anggota Edukasi. M. Andy Hakim selaku Pimpinan Umum LPM Edukasi mengatakan, “website Edukasi ini menjadi sarana untuk meningkatkan produktifitas bagi seluruh anggota Edukasi”. Andy yang hadir disela-sela kesibukan PPL nya, menuturkan bahwa banyak mahasiswa yang mengeluhkan minimnya sarana informasi yang diberikan dari Edukasi. Lewat website inilah, selain sebagai ajang penyajian informasi, juga sebagai ajang untuk terus berkarya, sehingga anggota Edukasi mampu lebih produktif.
Dalam acara ini turut hadir pula senior Edukasi angkatan 2001, yang juga aktif menulis diberbagai media, M. Rikza Chamami. Dia menuturkan bahwa website ini merupakan salah satu bentuk perkembangan LPM Edukasi yang sangat baik. “Saat jaman saya, media online belum begitu populer, sehingga akses informasi masih tergolong sulit”, tuturnya. Namun hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk terus menulis sehingga berbagai tulisan buah karya nya mampu menjamah seluruh media massa yang ada, baik dikoran lokal maupun nasional.
Rikza, begitu sapaan akrabnya, mengatakan bahwa media online harus selalu up to date. Ada beberapa prinsip jurnalistik online yang patut dijaga oleh anggota Edukasi. “Seorang jurnalis online harus memegang prinsip, keringkasan, kemampuan beradaptasi, dapat dipindai, interaktifitas, dan komunitas percakapan”, tegasnya.
Media online sangat terkenal dengan beritanya yang selalu up to date. Rikza menekankan pentingnya tulisan yang disajikan adalah tulisan ringkas, namun isinya mengena. “Tulisan yang terlalu panjang akan menjadikan pembaca bosan, tulislah dengan ringkas dan simple”, jelas Rikza yang juga pengelola website Lab. Pendidikan. Rikza juga menyampaikan bahwa seorang jurnalis jangan terlalu sering berdiskusi, namun perlu untuk terus mengasah kemampuan menulisnya”, pungkasnya.

Babat Habis Krisis Ekonomi



Mata uang menjadi salah satu bentuk kedaulatan yang dimiliki oleh sebuah bangsa. Mata uang memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan ekonomi suatu negara. Indonesia memiliki rupiah sebagai mata uang yang dapat digunakan untuk beragam transaksi. Perubahan bentuk maupun nilai mata uang di Indonesia sudah sering terjadi. Dahulu, di Indonesia beredar uang sebesar Rp. 5, 00, Rp. 25, 00, dan sebagainya. Namun saat ini uang senilai itu sudah tidak beredar lagi. Perubahan peredaran keuangan di Indonesia seringkali tidak disadari oleh masyarakat. Setelah mata uang dengan nilai tertentu menghilang dan tidak lagi muncul dalam peredaran, barulah masyarakat menyadari apabila peredarannya sudah dihentikan.
Saat ini isu redenominasi santer terdengar dikalangan masyarakat Indonesia. Redenominasi rupiah merupakan penyederhanaan rupiah tanpa mengurangi nilai mata uang tersebut. Penyederhanaan yang dimaksud adalah penyederhanaan mata uang yang memiliki nominal besar berubah menjadi nominal kecil. Kongkretnya, semisal uang dengan nilai Rp. 1.000, 00 akan diringkas dengan uang Rp. 1, 00, uang sebesar Rp. 10.000, 00 berubah menjadi Rp. 10, 00, dan lain-lain.
Pro kontra tentang redenominasi ini semakin menarik untuk diperbincangkan. Redenominasi menjadi sebuah perubahan yang mampu memberikan dampak signifikan bagi masyarakat. Hal itu akan memberikan dampak bagi perkembangan ekonomi bangsa Indonesia. Dampak yang paling terasa dalam bidang ekonomi antara lain adanya lonjakan harga barang dagangan akibat pembulatan mata uang setelah adanya redenominasi. Sehingga momentum perubahan penyederhanaan rupiah ini bisa jadi dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.
Untuk melakukan redenominasi tentunya melalui proses yang panjang, dan harus melewati persyaratan yang telah ditentukan. Banyak syarat yang mesti dipenuhi salah satunya inflasi mata uang yang ada di sebuah negara, dalam hal ini adalah inflasi mata uang di Indonesia. Besaran inflasi di negara yang akan melakukan redenominasi tersebut harusnya kecil dan cenderung stabil. Jika kita umpamakan, harga gula 10 tahun yang lalu Rp.1.000 per kg, namun harga gula sekarang hampir 10 kali lipat. Maka dapat kita ketahui telah terjadi inflasi terhadap harga gula sebesar 10 kali lipat dari harga gula pada saat 10 tahun yang lalu. Tingginya inflasi tentu akan berdampak pada psikologi masyarakat yakni ketidaksiapan masyarakat dalam menghadapi perubahan kebijakan ini.
Jika permasalahan ekonomi seperti ini belum mampu dipecahkan oleh pemerintah, tentunya redenominasi yang digagas pemerintah tidak perlu dilakukan. Pemerintah belum sepenuhnya siap dengan perubahan yang akan dilakukan. Permasalahan kemiskinan akibat ekonomi pun masih menjamur. Alangkah baiknya jika pemerintah mampu membabat habis permasalahan krisis ekonomi yang terjadi, bukan menambah persoalan yang memberikan dampak buruk bagi masyarakat.

Fasilitas Terbatas, Nyawa Tandas



Kesehatan menjadi sebuah harta paling berharga dalam kehidupan seseorang. Kasus meninggalnya Dera, seorang bayi kembar yang terlahir prematur sangat ironis. Kasus yang memanas minggu ini membuat publik tercengang, hingga ramai dibicarakan. Media massa yang menjadi penggiring isu semakin gencar memberitakan kasus ini. Sehingga permasalahan ini menjadi semakin meluas, hingga menjadi pelanggaran hak anak. Kasus yang dialami oleh Dera ini menjadi keprihatinan bersama bagi masyarakat Indonesia.
Ironisnya kasus Dera ini banyak menuai kontroversi akan kebenaran yang terjadi di lapangan. Kebenaran akan penolakan terhadap Dera dari berbagai rumah sakit (RS) inilah yang menjadi titik poin pengembangan isu ini. Penolakan Dera di beberapa RS dinilai banyak pihak terlalu kejam. Namun, kita juga tidak bisa mengeneralisir persoalan begitu saja. Perlu kita cermati akar permasalahan yang sebenarnya terjadi. Jika memang Dera ditolak akibat tiadanya biaya pengobatan, tentunya kasus ini perlu ditindak lanjuti. Namun, jika tidak demikian, tentunya tidak bisa salah satu pihak disalahkan begitu saja. Karena hanya akan merugikan salah satu pihak yang notabene tidak dapat disalahkan.
Jika dicermati dari berbagai media massa, kasus Dera ini bukan menjadi kesalahan salah satu pihak. Pasalnya, baik pihak keluarga Dera maupun pihak RS tentunya sudah berjuang untuk kesembuhan Dera. Pihak RS yang terkesan ‘menolak’ pasien, tentunya bukan tanpa alasan. Fasilitas Neonatal Intensive Care Unit (NICU) yang dibutuhkan Dera untuk perawatan kesehatannya memang sangat minim. Ditambah lagi dengan pengguna NICU yang sangat banyak, sehingga fasilitas tersebut tengah penuh. Dalam hal ini, tentu saja pihak RS tidak bisa disalahkan juga, karena tidak mungkin mengusir pasien yang tengah dirawat di ruang NICU. Keputusan pihak RS yang menolak ini tentunya tidak dapat disalahkan juga. Kesan yang menganggap bahwa RS tidak mampu melayani masyarakat dengan baik, terutama masyarakat miskin tentunya perlu ditelaah terlebih dahulu. Meskipun banyak RS yang melakukan tindakan semena-mena terhadap pasien yang kurang mampu, namun optimis masih ada RS yang peduli dan mmapu meberikan pelayanan baik dalam masyarakat.
Permasalahan akses kesehatan di Indonesia selama ini masih jauh dari kata sempurna, namun menilik permasalahan ini perlu disikapi dengan bijak. Minimnya fasilitas kesehatan yang dimiliki RS di Indonesia bukanlah hal yang baru. Keterbatasan fasilitas ini berbanding terbalik dengan adanya pengguna fasilitas kesehatan. Imbasnya, akses kesehatan di Indonesia kurang maksimal. Sebagai pengguna layanan kesehatan, baik masyarakat maupun pemerintah harusnya saling memahami. Artinya, pemerintah sebagai pelayan masyarakat, harus menyediakan penambahan fasilitas kesehatan setiap tahun. Begitu juga masyarakat yang harus menggunakan fasilitas dari pemerintah dengan baik. Rumah sakit sebagai media pengobatan masyarakat juga wajib memberikan pelayanan sebaik mungkin.
Melihat kasus tentang persoalan akses kesehatan di Indonesia, tentunya pemerintah perlu mengambil langkah bijak, tepat, dan cepat. Sistem regulasi informasi tentang adanya fasilitas RS perlu ditata kembali. Informasi terpadu disetiap masing-masing rumah sakit perlu ditingkatkan, agar masyarakat dapat mengakses informasi lebih jelas. Sehingga, ada kerja sama yang baik antar rumah sakit. Fasilitas kesehatan yang masih kurang juga perlu segera ditambahkan, jangan menunggu kasus-kasus seperti ini bergulir terlebih dahulu. Jika masalah fasilitas kesehatan dianggap remeh, maka hanya akan terjadi banyak nyawa tandas akibat fasilitas terbatas. 

WBL, Mengguncang PAI 5 C



Liburan akhir semester ini diisi dengan agenda wisata bersama anak-anak PAI 5 C. Acara yang dilaksanakan pada 27 Januari 2013 ini diikuti oleh 31 personil. Liburan yang telah lama ditunggu PAI C selama satu tahun ini berlangsung sangat meriah. Wisata ini memilih WBL atau yang lebih sering dikenal dengan nama Wisata Bahari Lamongan menjadi tujuan utama pada special moment ini.
Pemberangkatan yang dilaksanakan pada Minggu malam, 27/1/13 ini berlangsung dramatis. Pasalnya, bus yang dipesan oleh bendahara utama dalam pelaksanaan ini ini tak kunjung datang. Alih-alih, anak-anak PAI 5 C semakin manyun. “Kami sudah memesan bus dari Pati jauh-jauh hari, malahan yang punya bus lupa dengan jadwal wisata kita”, ungkap Iin Setyani selaku bendahara utama.
Bus yang harusnya dijadwalkan berangkat pukul 18.30 ini berangkat dari Pati menuju Semarang. Memang yang dipilih adalah bus langganan dari Pati, selain sopir dan kernetnya ramah, harganya pun sangat sesuai dengan kantong kelas PAI 5 C. Iin begitu sapaan akrabnya kembali mengatakan bahwa meskipun busnya kita pesan dari pati, namun masalah harga bus tidak berpengaruh secara signifikan. “Sehingga kami memilih bus yang benar-benar nyaman untuk PAI 5 C”, tandasnya.
Paska penantian selama dua jam lamanya, akhirnya bus yang ditunggu-tunggu datang juga. Wajah sumringah atau gembira ditampakkan oleh wajah-wajah anak-anak PAI C. Meski perjalanan ditunda selama dua jam, namun tak menyurutkan langkah anak-anak untuk tetap menyapa negeri sebrang. Mahfud Sebastyan Taat Beribadah selaku komting pun menjelaskan, “saya sangat lega dengan kedatangan bus, saya kira bus nya tidak jadi datang karena kami telah lama menunggu”.
Kunjungan pertama dilaksanakan di makam Kadilangu, yang kemudian perjalanan dilanjut menuju kediaman Ophie MGFC. Memang rencana dari awal penginapan dialokasikan di rumah Ophie yang bertempat tinggal di Tambakboyo Tuban Jawa Timur. Perjalanan yang memakan waktu selama 5 jam ini akhirnya tiba di rumah Ophie pada pukul 01.00.
Senin pagi, perjalanan dilanjut menuju makam sunan Bonang di Tuban. Setelah itu, tujuan utama PAI 5 C yakni WBL. Aneka permainan yang di WBL semua dijelajahi oleh PAI 5 C. Sampai-sampai banyak anak PAI 5 C yang mabok karena terlalu banyak menikmati wahana ekstrim yang ada di WBL. Huda, Fahry, Mahfud menjadi aktor-aktor utama yang “hoek-hoek” dalam agenda tersebut.
Akhirnya, setelah melalang buana selama satu hari penuh di WBL, PAI 5 C akhirnya kembali menuju Semarang untuk melanjutkan aktifitas dan kehidupan di Ngaliyan city.

‘Meneguhkan Kembali Peran Serta Mahasiswa dalam Menjaga Ideologi Pancasila’


Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) IAIN Walisongo Semarang menggelar acara pelantikan pada Rabu, 23 Januari 2013. Dalam acara ini juga digelar dengan acara sarasehan yang mengangkat tema ‘Meneguhkan Kembali Peran Serta Mahasiswa dalam Menjaga Ideologi Pancasila’. Pemahaman serta pengaplikasian nilai-nilai Pancasila semakin terkikis oleh pesatnya arus globalisasi. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat Indonesia.
Acara ini mendatangkan tiga pembicara, yakni Nasrul Umam selaku ketua Komisariat PMII Walisongo, Zuyyinal Laily selaku ketua koordinator cabang PMII Jawa Tengah, serta budayawan Sukirno. Ketiga pembicara ini berbicara tentang ideologi Pancasila dari berbagai perspektif.
Mengawali sarasehan siang itu, Nasrul Umam diberikan kesempatan untuk memaparkan gagasannya tentang tema yang telah diusung oleh DEMA. Menurutnya, gerakan pemuda memiliki pengaruh yang signifikan dalam mengawal ideologi Pancasila. Ideologi suatu negara memberikan dua paradigma yang dapat dimiliki oleh warga negaranya, yakni National State dan Religious State. Saat ini tengah terjadi disorientasi tentang pemahaman ideologi Pancasila. Hal ini terbukti adanya beragam krisis multidimensi yang terjadi di Indonesia, sehingga menimbulkan keresahan bagi warga Indonesia. Konflik antar agama, suku, antar pelajar dan sebagainya memberikan gambaran nyata bahwa ideologi Pancasila sudah tidak lagi dijadikan kerangka dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ideologi Pancasila mengalami semakin mengalami disorientasi paska adanya reformasi. Reformasi ini memberikan dampak yang sangat berpengaruh, antara lain adanya tarik ulur kekuasaan untuk kepentingan golongan dan juga pecahnya ideologi bangsa. Hal ini menjadi sebuah keprihatinan kita, tat kala bangsa kita tengah mengalami krisis yang sangat komprehensif.
Banyak tantangan yang harus dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini, begitu ungkapan yang disampaikan pembicara ke dua, Zuyyinal Laili. Namun, hal itu justru berbanding terbalik dengan geliat para pemuda, khususnya para mahasiswa. Geliat respon mahasiswa dalam membincang gerakan ataupun isu-isu nasional seperti isu tentang tergerusnya nilai-nilai Pancasila sudah semakin jarang diperbincangkan. Asik dengan perbincangan beraroma hedonis menjadi pilihan menu utama yang sangat menarik bagi kaum pemuda.
Disamping itu, disadari atau tidak, sebenarnya kita banyak mengambil ilmu dari Barat. Bangsa Barat seakan menjadi dewanya ilmu pengetahuan, padahal tidak demikian. Jika kita flashback tentang sejarah di Indonesia justru sangat membanggakan. Kita bayangkan jaman dahulu belum ada arsitektur yang merancang adanya pembuatan candi, namun pada kenyataannya banyak candi-candi bersejarah dengan bangunan yang kokoh dan corak yang sangat menarik dibuat. Ini menunjukkan bahwasanya ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh bangsa kita tidak kalah dengan yang ada di luar negeri. Karya-karya fenomenal yang dimiliki bangsa Indonesia inilah yang patut untuk kita jaga dan kita pelihara. Jangan sampai kita terhipnotis dengan bangsa lain, sedang bangsa kita sendiri terlupakan begitu saja.
Memulai dengan pembahasan sejarah, Sukirno seorang budayawan ini menggambarkan mengapa Indonesia dijajah oleh Belanda dalam tempo yang sangat lama. 350 tahun Indonesia dijajah Belanda, hal ini terjadi bukan karena Belanda yang terlalu kuat menjajah bangsa Indonesia, namun begitu rapuhnya bangsa Indonesia. Warga Indonesia sangat kurang dalam menjunjung nilai-nilai persatuan, sehingga dengan mudahnya negara asing menjajah Indonesia yang sebenarnya memiliki potensi yang sangat luar biasa.
Dari sisi lain, kita ingat Sutomo, seorang pendiri Budi Utomo. Dia mendirikan Budi Utomo setelah bertemu dengan Wahidin Sudiro Husodo yang memberikan beasiswa kepada para mahasiswa kedokteran yang kurang mampu. Dari pertemuan inilah kemudian berdiri organisasi Budi Utomo yang kemudian diikuti dengan berdirinya organisasi-organisasi lainnya.
Peran pemuda tidak hanya itu, dalam mencapai kemerdekaan pun mereka memiliki peran yang sangat penting. Prediksi Soekarno pada saat itu untuk memerdekakan bangsa Indonesia ternyata tepat. Kontrak-kontrak jangka panjang perkebunan oleh Belanda habis pada tahun 1945. Meskipun didesak, namun Soekarno belum mau memerdekakan Indonesia tanggal 15 Agustus 1945, pasalnya dia ingin memastikan apakah Belanda sudah menyerah ataukah belum.
Daru paparan sejarah diatas, pemuda memiliki peranan yang penting, namun tidak terlepas dari adanya golongan tua atau generasi pendahulunya untuk mempersatukan bangsa Indonesia.
Dalam hal ini, paska kemerdekaan bangsa Indonesia, Pancasila menjadi satu ideologi bangsa yang wajib dijunjung tinggi oleh masyarakat Indonesia. Dalam lima butir pasalnya, memiliki makna yang sangat mendalam. Pasal pertama, Pancasila tidak menyebut nama Tuhan dari salah satu agama, namun diksi yang dipilih adalah ‘Ke-Tuhan-an’ Yang Maha Esa. Karena memang Indonesia ini bukanlah negara yang dimiliki oleh satu agama saja.
Ke dua, sebagai warga negara Indonesia, perlu adanya intropeksi diri. Saling menghormati, toleransi, dan saling menghargai menjadi sikap yang dijunjung tinggi oleh bangsa Indonesia. Ke tiga, Indonesia merupakan negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan Indonesia. Indonesia bukanlah negara Caufinisme, yakni negara yang selalu ingin menjajah negara lain. Ke empat, Indonesia mengenal adanya sistem demokrasi, namun yang dianut bukanlah sistem demokrasi ala barat. Hal ini terbukti adanya dipilihnya Pancasila tidak melalui voting, namun melalui kesepakatan bersama. Ke lima, Indonesia terdiri dari beragam suku, ras, dan agama, namun tetap menghargai kearifan lokal, saling menghargai kaum minoritas maupun mayoritas.
Oleh karena itu, kita sebagai warga Indonesia wajib bagi kita untuk mengenali jati diri bangsa. Pancasila sebagai jati diri bangsa patut kita jaga dan kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sosialisasi ideologi bangsa merupakan kewajiban bagi pemerintah dan masyarakat Indonesia yang jika tidak dilakukan merupakan kesalahan bersama. Nasionalis berawal dari adanya sifat individualis, kemudian beralih pada kelompok sejenis, dan barulah timbul sikap nasionalis. Mari kita tumbuhkan sikap Nasionalisme dalam diri kita.

;;;MERDEKA;;;

Pejabat DEMA, Resmi Dilantik


             Rabu, 23 Januari 2013 Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) IAIN Walisongo Semarang secara resmi dilantik oleh Rektor Walisongo. Mukhammad Busro Asmuni terpilih sebagai presiden DEMA masa bakti 2013-2014. Pelantikan yang dihadiri beberapa pejabat birokrasi dan mahasiswa IAIN serta tamu undangan ini berlangsung dengan khidmat.
            Busro Asmuni dalam sambutannya mengatakan, “Jabatan ini merupakan satu amanah suci yang membutuhkan komitmen, penanaman semangat bagi pengurus DEMA.” Oleh sebab itu, perlu adanya komitmen yang harus dimiliki masing-masing pengurus DEMA. Rektor IAIN Walisongo Prof. Dr. H. Muhibbin M. Ag juga memberikan petuah kepada pengurus DEMA, khususnya. Dalam sambutannya, dia mengatakan bahwasanya IAIN telah berada dalam zona bebas korupsi. Jadi, menjadi sebuah keharusan sebagai pengurus DEMA untuk tidak melakukan tindakan korupsi. “Dengan menjauhi korupsi, berarti mahasiswa sudah berusaha untuk menjaga amanah yang diberikan oleh seluruh elemen kampus”, ungkapnya. Busro juga menegaskan bahwa orientasi mahasiswa sekarang harus mulai dirubah mulai dari profit oriented menjadi productive oriented.
Dalam acara pelantikan ini, juga diselenggarakan sarasehan dengan tema “Meneguhkan Kembali Peran Serta Mahasiswa dalam Menjaga Ideologi Pancasila”. Masih menurut Busro, “Banyak fenomena yang terjadi di Indonesia yang masih menggambarkan satu bentuk penderitaan rakyat”. Di Indonesia semakin banyak terjadi krisis multidimensi, yang akan berimbas pada krisis nasionalisme, krisis patriotism, dan sebagainya. Tentunya hal ini menjadi tanggung jawab bersama, baik pemerintah, masyarakat, mahasiswa. Pemahaman akan pentingnya menjunjung nilai-nilai Pancasila juga semakin tergerus oleh perkembangan jaman. Oleh karena itu, DEMA mengangkat tema tentang pentingnya pemahaman ideologi Pancasila.
            “Bhineka Tunggal Ika harus dijunjung tinggi untuk membangun persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia”, uangkap Busro paska pelantikan. Semboyan yang mampu merekatkan bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku, ras, dan agama ini mampu menjadi alat pemersatu yang sangat ampuh. Saling menghormati dan menghargai antar sesama manusia, akan menjadi satu kekuatan penting demi terciptanya perdamaian di bumi pertiwi ini.
            De Charles Pany dari Kesbangpol Jateng yang juga memberikan sambutan menuturkan, “Kegiatan yang dilakukan mahasiswa ini merupakan satu langkah tepat sebagai bentuk kepedulian mahasiswa”.  Dia menjelaskan bahwa Negara Indonesia merupakan Negara yang sangat berbeda dengan negara lain. Negara Indonesia senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal, nilai-nilai kebangsaan dalam kerangka ideologi Pancasila. Menurutnya, warga negara yang baik adalah warga negara yang mau terlibat dalam pembangunan persatuan dan kesatuan bangsa, selain itu mampu memasyarakatkan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan kebersamaan. “Hal ini dapat dilakukan dengan menyegarkan kembali wawasan kebangsaan, sehingga tidak terbelenggu dalam konflik suku, ras, dan agama”, pungkasnya.

 
MALIKHAH SAN © 2012 | Edited Designed by Kurungan Celotehan