About Me

Malikhah; seorang ibu rumah tangga yang juga ASN dan aktif mengajar di SMPN 1 Singorojo. Lahir pada tanggal 28 Oktober 1991, dengan semangat sumpah pemuda semangat menulis untuk meninggalkan jejak digital yang bisa bermanfaat untuk semua.

Presiden dan Toleransi Beragama


oleh, Malikhah
Isu keberagamaan merupakan isu hangat yang kini tengah diperbincangkan. Dalam Undang-undang Dasar (UUD) 1945 kemerdekaan memeluk dan beribadat sesuai agama dan kepercayaan masing-masing dijamin oleh negara. Peraturan yang termaktub dalam UUD 1945 pasal 29 ini bukan sekedar menjadi pajangan semata. Implementasi dalam kehidupan nyata harus diwujudkan sebagaimana terangkum dalam peraturan yang disepakati. Sayangnya, isu yang berkembang di Indonesia persoalan agama justru tidak mendapat perhatian lebih dari pemerintah. Negara menjamin kebebasan beragama, namun negara tidak mampu menuntaskan kasus terkait konflik antar umat beragama.
Persoalan ekonomi, pembangunan sarana dan pra sarana (sarpras), pendidikan, bahkan isu kesehatan lumrah dibahas pada tahun-tahun politik saat ini. Sayangnya, calon Presiden yang maju tidak sedikitpun menjamah isu-isu keberagamaan di Indonesia. Dalam banyak kasus di Indonesia, toleransi diantara pemeluk agama sangat rendah. Agama yang suci ternyata bisa memicu rasa benci yang melahirkan kekerasan. Kita tidak ingin kata-kata filsuf dan pakar-pakar psikologi agama William James (1842-1910) bahwa kesalehan menjadi sebuah topeng dan kekuatan batin merupakan naluri primitif menjadi kenyataan di negeri ini.
Maraknya konflik antar umat beragama, menunjukkan miskinnya sikap toleransi umat. Sejarah telah mencatat ragam konflik umat beragama di Indonesia. Lembar sejarah yang membahas persoalan konflik keagamaan mayoritas telah ditutup rapat. Namun, korban akibat konflik tersebut masih saja merasakan derita akibat konflik.
Ibnu Khaldun mengatakan bahwa peranan agama sangat besar dalam mendirikan negara yang besar. Bagaimana bangsa Indonesia akan menjadi bangsa besar jika persoalan agama tidak mampu diatasi. Sikap intoleransi merebak keberbagai daerah, imbasnya konflik antar umat beragama semakin menjamur.
Calon presiden patut memberikan daya tawar untuk memberi perhatian lebih terhadap penyelesaian konflik antar umat beragama. Pemilihan presiden yang akan dilaksanakan kelak, semoga mampu memunculkan sosok presiden yang memiliki toleransi besar terhadap keberagamaan. Disamping itu, tindakan sigap dan cakap dalam mengatasi konflik antar umat beragama bisa diimplementasikan dengan baik. Sehingga, konflik yang terjadi tidak lagi mengendap bahkan layaknya hilang ditelan bumi, sedang para korban masih saja menahan derita air mata akibat konflik antar umat beragama.



Keindahan Kuliah Nyata

Oleh, Malikhah
Kuliah Kerja Nyata (KKN) adalah kegiatan kampus yang sangat menyenangkan. Perkenalkan, namaku Malikhah. Kawan-kawan biasa memanggilku Icha’. KKN di tengah perkotaan tepatnya di keluahan Genuk, kecamatan Ungaran Barat, kabupaten Semarang menjadikan tantangan tersendiri. Atmosfer perkotaan menjadi bagian hidupku saat KKN. Betapa tidak, orang desa sepertiku melaksanakan KKN di perkotaan. Tidak ada masalah buatku, justru dengan ini aku bisa belajar banyak dari masyarakat kota di Genuk.
Kegiatanku sehari-hari di posko beraneka ragam. Terkadang, mengikuti arisan ibu-ibu PKK. Bukan hanya ngegosip yang dilakukan ibu-ibu PKK. Sebab, ibu-ibu PKK disini sudah sangat maju, baik dalam pemikiran maupun tindakan. Hal ini terbukti keikutsertaan ibu-ibu PKK dalam ajang PHBS tingkat provinsi mewakili kabupaten Semarang.
Mengikuti kegiatan ibu-ibu PKK membuat ilmu kami menjadi lebih banyak. Di Genuk, sudah banyak dikembangkan pemanfaatan tanaman obat keluarga (Toga), sosialisasi lingkungan bersih, pengembangan koperasi, bahkan pemanfaatan plastic bekas untuk membuat tikar, perlak, dsb.
Selain mengikuti kegiatan ibu-ibu PKK, juga mengajar di TPQ Baitusy Syukur. Di TPQ ini memang minim guru yang mengajar. Dua orang guru yang aktif mengajar setiap sore dengan jumlah anak yang banyak yang harus ditangani. Sebagian besar anak-anak yang aktif mengaji di Baitusy Syukur sangat pandai dalam membaca al-Qur’an.
Hari Senin dan Rabu, biasanya posko 19 membuka rumah belajar yang dikemar layaknya bimbel untuk anak-anak Genuk yang ingin belajar. Selain belajar, terkadang hari libur anak-anak Genuk diisi dengan latihan senam anak dan senam aerobic juga. Ini dimaksudkan agar kesehatan anak tetap terjaga dengan adanya olah raga rutin.
Disela-sela libur tanggal merah, posko 19 menyempatkan diri untuk melakukan expedisi muncak ke gunung Ungaran. Hal ini dimaksudkan untuk mempererat kesolidan dan kekompakan posko 19. Dengan penuh semangat dan gegap gempita, tim posko 19 mampu mencapai puncak promesan dengan menempuh perjalanan selama dua jam. Tawa riang dan sumringah terlihat dengan jelas.

Hari-hari terakhir di posko 19, kami menggunakan sisa-sisa waktu untuk mempersiapkan kegiatan perpisahan. Kegiatannya kami isi dengan acara lomba menggambar, mewarnai, dan adzan. Ditutup dengan pembagian hadiah dan pengajian sederhana untuk anak-anak menjadikan romantic acara perpisahan kami. Semoga, apa yang kami dapatkan di tanah Genuk ini bermanfaat untuk kami. Amin.  

Hegemoni Agama Atas Kekuasaan Negara


Oleh, Malikhah
Negara agama atau pemerintah agama mungkin tidak asing disebut untuk sebuah negara. Definisi umum sebuah negara agama biasanya menfokuskan pada beberapa karakteristik dan fungsi yang digariskan oleh model sistem politik. Hal ini biasanya dihubungkan dengan karakteristik individual, seperti seorang gubernur mesti berasal dari agama atau kelas tertentu. Orang juga bisa mendefinisikan pemerintahan agama berdasarkan keberpihakan pada sebuah agama tertentu.  Konsekuensinya, sebuah negara agama akan menggunakan kekuatan militer, politik, dan ekonominya untuk mempromosikan dan memperkuat posisi para pengikut agama tersebut.[1] Negara agama ataupun pemerintah agama pada hakekatnya bermuara pada satu tujuan, yakni sebuah kekuasaan.
Membincang persoalan kekuasaan di sebuah negara, tidak akan terlepas dari penguasa sebuah negara. Penguasa negara atau sering dikenal dengan kata pemimpin negara, presiden, menjadi pusat perhatian masyarakat luas karena pengaruhnya yang besar bagi negara. Berakar dari politik sebagai alat untuk mencapai kekuasaan, penguasa mampu menduduki jabatan tertentu. Seorang penguasa tentu memiliki misi tertentu yang menjadi tujuan. Latar belakang seorang penguasa sebuah negara sangat mempengaruhi potensi kekuasaan tersebut. Lebih spesifik, ideologi bahkan agama menjadi dua faktor yang memiliki kekuatan maha dahsyat bagi sang penguasa.
Ahli politik zaman klasik seperti Aristoteles dan Plato pada abad ke-18 dan 19 melihat prestasi politik diukur dari sudut moral. Sedangkan pada masa modern sekarang ahli politik melihatnya dari tingkat prestasi (performance level) yaitu seberapa besar pengaruh lingkungan dalam masyarakat, lingkungan luar masyarakat dan lingkungan internasional. Pengaruh besar dalam lingkungan masyarakat meliputi berbagai hal, diantaranya agama, ideologi, sosok, dan kekuasaan yang dimiliki.
Dale F. Eickleman said:
Islam is one of the basic bricks in Ernest Gellner’s political thought, along with segmentation, psychoanalysis, nationalism, Marxism, and the transition to the Enlightenment. In Gellner’s words, any structure, any theory will do not because it’s true but because it makes you notice that evidence goes against it or for it.[2]
Agama, pemimpin, dan kekuasaan menjadi satu kesatuan yang menjadi bahan perbincangan, termasuk pada tahun-tahun politik. Ketiganya akan selalu terkait dalam perbincangan politik. Agama agaknya menjadi isu sensitif saat diperbincangkan dalam hal politik. Pasalnya, ini merupakan sebuah keyakinan seseorang yang disadari atau tidak, saat ini tengah banyak dimanfaatkan sebagian orang sebagai salah satu alat untuk mencapai sebuah kekuasaan.
Menurut orang Jawa agama adalah ageing ati atau dalam bahasa Indonesia berarti agama itu pakaian hati. Artinya letak agama itu didalam hati. Menurut P. Bourdeau, agama merupakan suatu sistem simbol yang dibentuk dan membentuk suatu sistem simbol yang dibentuk dan membentuk suatu persetujuan bersama (consensus) bagi makna lambang-lambang  dan makna dunia ini.[3]
Dalam hal ini, agama menjadi sebuah keyakinan yang dimiliki seseorang. Bukan tanpa alasan untuk menjadikan sebuah agama menjadi keyakinan, tujuan akhir dalam kehidupan menjadi harapan setiap orang. JB. Sudarmanto, dalam bukunya Agama dan Ideologi mengungkapkan orang beragama mengharapkan dari religi suatu alasan yang membenarkan keberadaannya atau eksistensinya, termasuk saat memegang kekuasaan tertentu.
Max Weber mengatakan, agama memberikan legitimasi kekuasaan bagi kelompok penguasa dan orang yang dia kuasai. Ia, memberi dimensi rohani/ adikodrati kepada lembaga-lembaga yang ada dan memberi makna kepada tuntutan-tuntutan yang berubah-ubah.[4] Ruh agama yang mampu memberikan kekuatan bagi adanya kekuasaan, menjadikan agama seringkali dijadikan sebagai alat untuk melanggengkan kekuasaan. Kekuasaan yang berwujud politik itulah yang kini menghiasi berbagai sudut masyarakat, terutama di Indonesia.
Lebih ekstreem, pengertian agama yang ditawarkan oleh Karl Marx. Menurut Marx the religion is the of opium of the people. Marxis Radikal seperti Lenin menafsirkan agama sepenuhnya bersifat negatif. Agama meninabobokkan, meracuni, dan melenakkan rakyat. Itu sebabnya Lenin menghendaki penghancuran semua doktrin dan lembaga-lembaga keagamaan ketika ia berkuasa di negaranya.
Kata-kata Marx apapun interpretasinya adalah kritiknya terhadap agama. Menurut Marx, agama tidak menjadikan manusia menjadi dirinya sendiri, melainkan menjadikan sesuatu yang berada diluar dirinya inilah yang menyebabkan manusia dengan agama itu menjadi makhluk yang terasing (alienated) dari dirinya sendiri, agama adalah sumber keterasingan manusia, kata Mark. Begitu ekstreem-nya pandangan Marx akan sebuah agama pun tidak terlepas dari kondisi disekelilingnya.
Menurut Murtadho Mutahhari, dalam “Masyarakat dan Sejarah Kritik Islam atas Marksime dan Teori Lainnya (1787)”, Marx berpendapat bahwa agama adalah perangkap yang dipasang kelas penguasa untuk menjerat kelas proletar yang tertindas. Bila perbedaan kelas itu hilang, maka agama dengan sendirinya akan lenyap, sebab pada saat itu perangkap (agama) itu tidak dibutuhkan lagi. Pemikiran tentang agama oleh kelompok Marxis radikal ini memang memandang agama dengan negatif. Namun, yang hendak disampaikan disini, bahwa seorang penguasa mampu menghegemoni masyarakat dengan kebijakannya.
Menurut Aristoteles, politik merupakan upaya yang ditempuh oleh warga negara dalam mewujudkan kebaikan bersama. Bersamaan dengan ini, terdapat berbagai jenis politik yang muncul, termasuk di Indonesia. Politik identitas tiba-tiba meruak pascareformasi. Persoalannya, politik identitas tidak dibangun untuk memperkokoh ikatan komunal, tetapi memunculkan fanatisme kelompok. Etnik dan agama pun menjadi sangat rentan. Kekerasan atas nama agama, baik intraagama maupun antaragama, menjadi pemandangan yang menyesakkan dada.
Dalam banyak kasus, toleransi diantara pemeluk agama sangat rendah. Agama yang suci ternyata bisa memicu rasa benci yang melahirkan kekerasan. Kita tidak ingin kata-kata filsuf dan pakar-pakar psikologi agama William James (1842-1910) bahwa kesalehan menjadi sebuah topeng dan kekuatan batin merupakan naluri primitif menjadi kenyataan di negeri ini.
Politik dominasi dalam dikhotomi mayoritas-minoritas menjadi "kekuasaan agama" yang hegemonik. Bukan hanya tindakan intoleransi massa yang menonjol, kekerasan oleh negara juga sulit dicegah. Padahal, seharusnya negara memproteksi semua elemen bangsa sesuai dengan amanat konstitusi. Lagi-lagi agama membawa pengaruh maha dahsyat dalam menciptakan sebuah kekuasaan yang diidam-idamkan.
Penguasa dan Kekuasaan
Richard Friedman berpendapat bahwa jenis kekuasaan yang berasal dari penguasaan ilmu pengetahuan yang tinggi pada dasarnya berbeda total dari jenis kekuasaan yang diperoleh karena menduduki satu jabatan politis tertentu.
Dalam buku April Carter Otoritas dan Demokrasi, terj. Sahat Simamora kekuasaan ilmu pengetahuan didasarkan pada tradisi, kekuasaan jabatan didasarkan pada pengakuan diperlakukannya kehadiran pemangku jabatan dan diterimanya aturan main serta ketentuan memiliki seseorang untuk suatu jabatan.[5] Pengetahuan juga memiliki aspek penting dalam mencapai sebuah kekuasaan. Begitu pula dengan ideologi, kekuatan besar dalam menggalang sebuah dukungan.
Ideologi merupakan salah satu sarana paling ampuh dalam menimbulkan diffuse support karena masyarakat yakin bahwa penguasa menganut ideologi yang sama dengan mereka dan penguasa bertindak sesuai dengan ideologi itu maka kepatuhan dapat dengan mudah ditimbulkan.
Konsep civil religion yang dikemukakan oleh Jean Jacques Rousseau (1712-1778) dalam bukunya "The Contract Sosial" mengungkapkan
Civil Religion is a profession of faith which is purely civil and of which it is the soveriegn's function to determine the articles, not strictly as religious dogma, but as sentiments of sociability. Whithout which it is imposible to be either a good citizen or a loyal subject".
Masalah yang dilihat Rousseau diatas, bahwa perlu ada sesuatu yang menjadikan semua rakyat bersatu dan mempunyai kepercayaan terhadap penguasa politik (soveriegn). Sesuatu itu disamakan dengan ideologi. Rousseau berpendapat bahwa civil religion dapat menimbulkan kepatuhan yang kokoh dikalangan rakyat terhadap penguasa politik. Civil religion telah hadir tanpa adanya paksaan layaknya dogma-dogma terdahulu, inilah yang mampu menjadikan masyarakat menyematkan kepercayaan akan penguasa.
Agama dan Politik
Menurut Houtatrt, ada dua jembatan yang menghubungkan agama dan politik yaitu ideologi yang menggambarkan keadaan masyarakat yang ada (dapat dengan simbol yang bersifat religious), dan lembaga agama yang membenarkan adanya berbagai sistem dalam masyarakat sehingga dapat menciptakan ketertutupan dalam sistem itu.[6] Agama memproyeksikan hubungan-hubungan kekuasaan yang ada ke dalam kekuatan-kekuatan adikodrati atau dengan kata lain agama mensucikan hubungan kekuasaan itu.[7]
Agama dapat memutlakkan sistem kekuasaan yang relatif dengan sakralisasinya dan dengan membenarkan pilihan-pilihan politiknya dalam tatanan sosial. Hal tersebut menggambarkan adanya paksaan yang dapat dimasukkan oleh sistem religi dalam sistem politik yang berwujud suatu etika. Disitulah letak hubungan antar religi dan politik.[8] Lantas, ketika sebuah agama telah menjadi sebuah kekuatan dalam kekuasaan, ini menunjukkan bahwa agama telah memiliki kekuasaan dalam kekuasaan sebuah negara.
Dalam pengantar yang disampaikan Prof. John A. Titaley, Th. D dalam bukunya Tedi Kholiludin “Kuasa Negara atas Agama” menyatakan bahwa politisasi agama merupakan upaya mempergunakan agama sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan politik tertentu, baik dilakukan oleh orang perorangan/ kelompok maupun institusi pendidikan tertentu. Ketika muncul orang-orang dengan klaim kebenaran kehidupan, termasuk jawaban atas kerawanan kehidupan manusia, maka dari situlah muncul peran agama dalam kehidupan manusia. Karena itu, dapat dipahami kalau agama adalah sarana yang paling ampuh untuk menguasai dan mengendalikan manusia, termasu untuk kepentingan tujuan politik.[9]
Ibnu Khaldun mengatakan bahwa peranan agama sangat besar dalam mendirikan negara yang besar. Menurutnya, setiap negara yang luas daerah kekuasaannya, pasti didasari oleh agama yang baik yang disiarkan oleh nabi (nubuwah) atau seruan kebenaran (da’watu haqq).[10]
Machiavellian berpendapat bahwa penguasa dapat saja membawa agama dan simbol-simbolnya ke ranah kekuasaan, namun agama tidak dilihat sebagai sistem nilai dan moral, atau meminjam istilah Berger semacam sacred canopy untuk meneguhan integritas individu maupun komunal, melainkan lebih sebagai sebuah instrument penopang kekuasaan.[11]
Dalam buku "Islam and The Foundation of Goverment (Al Islam wa Usul a-Hukm)”, Syeikh Ali Abdul al Raziq (1888-1966 M) berusaha untuk membenarkan pemisahan agama dari otoritas politik berdasarkan bukti-bukti agama. Dia berpendapat bahwa Muhammad tidak bermaksud mendirikan sebuah negara politik di Madinah dan bahwa Islam tidak mendukung timbulnya suatu sistem sosial tertentu.
Banyak pemikir Barat seperti Anthony Black, mendukung pendapat yang mengatakan bahwa tujuan-tujuan Nabi bukan hanya untuk membentuk identitas baru dengan menggantikan adat istiadat kesukuan kuno. Beliau melaksanakan kekuasaan politik dan juga otoritas spiritual dan kebudayaan.
Peranan agama dalam bidang politik memang saat ini telah diakui oleh pemerintah. Agama merupakan sumber motivasi dan inspirasi bagi para penganutnya masing-masing sebagai warga negara yang bertanggungjawab menjatuhkan pilihannya kepada kekuatan politik yang ada, yang semuanya telah menggunakan pancasila sebagai satu-satunya asas.[12] Kekuatan politik yang berasal dari rakyatlah yang memiliki peranan utama. Seperti dalam definisi Roma, otoritas politik berbeda dengan kekuatan politik. Ungkapan Cicero disebut bahwa ‘Quum potestas inpopulo, auctoritas in senatu sit’ (kekuatan berada ditangan rakyat, sedang otoritas terletak pada senat).[13]
Meski secara tersirat agama memiliki pengaruh besar, masyarakat selayaknya lebih jeli dalam memilah-milah sosok pemimpin. Bisa saja keyakinan atau kepercayaan yang sama akan agama tertentu merupakan dasar pokok yang untuk memilih sosok pemimpin ideal, namun tetap selektif. Hal ini pula yang harus didukung dengan para calon penguasa, yang tidak lantas menggunakan agama sebagai alat dalam mencapai kekuasaan.
Sama halnya yang disampaikan Plato dalam bukunya Republic bahwa yang layak menjadi pemegang kekuasaan ialah orang pilihan yang dianggap terbaik dan yang paling unggul diantara semua orang pilihan, yakni orang yang memiliki pengetahuan dan kebajikan yang sempurna.






























DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Vaezi. 2006. Agama Politik: Nalar Politik Islam. Jakarta: Citra
Budiono, Kabul. -. Teori dan Filsafat Ilmu Politik. Bandung: Alfabeta
Hall, John A. 1998. The State of the Nation, Ernest Gellner and The Theory of Nationalism. Belanda: Cambridge University Press
Kholiludin, Tedi. 2009. Kuasa Negara Atas Agama. Semarang: RaSAIL
Simamora, terj. Sahat. 1985. "April Carter" Otoritas dan Demokrasi. Jakarta: CV. Rajawali
Sudarmanto, JB.  1987. Agama dan Ideologi. Yogyakarta: Kanisius
Utama Maliki, Zainuddin. 2004. Agama Priyayi, Makna Agama Ditangan Penguasa. Yogyakarta: Pustaka Marwa
Zainudin, A. Rahman. -. Kekuasaan Politik Ibnu Khaldun. Jakarta: PT. Pustaka
















Malikhah- Lahir di Kendal, 28 Oktober 1991 bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda. Jenjang Pendidikan: SD N 01 Sukorejo (1998-2004), SMP N 01 Sukorejo (2004-2007), SMK N 02 Temanggung (2007-2010) dan S1 di IAIN Walisongo Semarang jurusan Pendidikan Agama Islam angkatan tahun 2010. Aktif di LPM Edukasi sebagai Pimpinan Umum LPM Edukasi periode 2013-2014 sekaligus penulis di Jurnal LPM Edukasi. Mentri Dalam Negeri BEMF Tarbiyah (2012-2013), Direktur SRIKANDI, dan Direktur Lembaga Kajian dan Penerbitan (LKaP) PMII Rayon Tarbiyah Komisariat Walisongo Semarang periode 2012-2013.



[1] Ahmad Vaezi, Agama Politik: Nalar Politik Islam, (Jakarta: Citra, 2006), hlm. 7-9
[2] John A. Hall, The State of the Nation, Ernest Gellner and The Theory of Nationalism, (Belanda: Cambridge University Press, 1998), hlm. 258
[3] JB. Sudarmanto, Agama dan Ideologi, (Yogyakarta: Kanisius, 1987), hlm. 15
[4] JB. Sudarmanto, hlm. 18
[5] "April Carter" Otoritas dan Demokrasi, terj. Sahat Simamora, (Jakarta: 1985, CV. Rajawali), hlm. XVIII-XIX
[6] JB. Sudarmanto, hlm. 21
[7] JB. Sudarmanto, hlm. 27
[8] JB. Sudarmanto, hlm. 27-28
[9] Tedi Kholiludin, Kuasa Negara Atas Agama, (Semarang: RaSAIL, 2009), hlm. XI-XII
[10] A. Rahman Zainudin, Kekuasaan Politik Ibnu Khaldun, (Jakarta: PT. Pustaka Utama,-), hlm. 164-165
[11] Zainuddin Maliki, Agama Priyayi, Makna Agama Ditangan Penguasa, (Yogyakarta: Pustaka Marwa, 2004), hlm. 39
[12] JB. Sudarmanto, hlm. 56
[13] Kabul Budiono, Teori dan Filsafat Ilmu Politik, (Bandung: Alfabeta, -), hlm. 150-152

Tentukan Sikap, Optimis Akan Masa Depan


            Zaman jahiliyah bisa jadi kembali lagi hadir di era globalisasi ini. Jahiliyah yang dalam bahasa Arab: جاهلية, (jahiliyyah) adalah konsep dalam agama Islam yang berarti "ketidaktahuan akan petunjuk ilahi" atau "kondisi ketidaktahuan akan petunjuk dari Tuhan". Meskipun petunjuk yang diberikan oleh Allah SWT telah ada, namun banyak orang yang melalaikan bahkan melupakan. Imbasnya, tindakan yang dilakukan tidak didasari atas pemahamannya akan agama.
            Mencuatnya berbagai aksi pemerkosaan, pencabulan, bahkan sodomi menjadi salah satu indikasi merebaknya tindakan jahiliyah. Betapa tidak, generasi muda yang seharusnya menjadi tumpuan bangsa, yang seharusnya menjadi harapan masa depan justru digerogoti masa depannya.
Banyaknya kasus tindakan asusila yang muncul akhir-akhir ini menjadi sebuah keprihatinan yang dalam bagi bangsa. Terlebih korban dari tindakan tersebut adalah anak-anak yang masih dibawah umur. Secara psikologis tentu akan menimbulkan dampak yang maha dahsyat saat mereka tumbuh besar kelak. Peristiwa asusila yang dialami oleh anak, telah merenggut seluruh kebebasan dan keindahan masa kanak-kanak.
           Dampak psikologis merupakan salah satu dampak yang dialami anak korban asusila. Sedangkan dampak bagi kesehatan anak juga sangat penting untuk tumbuh kembang anak. Penyakit kelamin yang diderita pelaku asusila bisa jadi ditularkan melalui tindakan asusila. Bahkan, bisa jadi anak-anak korban asusila menderita HIV AIDS akibat tertular dari pelaku asusila. Dampak lain semisal dikucilkan dari lingkungan sekitar tentu saja mempengaruhi kondisi anak.
Ironis dengan kondisi bangsa saat ini.
            Ditengah-tengah derasnya arus globalisasi, seharusnya masyarakat Indonesia akan senantiasa siap menghadapi perkembangan informasi dan tekhnologi, namun justru sebaliknya. Kemudahan akan akses informasi dan kemajuan tekhnologi justru disalahgunakan. Banyak masyarakat kita menggunakan internet hanya untuk membuka situs porno. Ada juga yang menggunakan jejaring sosial sebagai alat untuk melancarkan tindakan penculikan dan asusila.

Saatnya Berbenah

           Masyarakat era globalisasi ini memang penuh tantangan. Mereka harus siap dengan segala perubahan yang terjadi setiap saat. Isu-isu tentang kapitalisme, hedonism, pragmatism saat ini sudah tidak sekedar isu belaka. Lebih dari itu, tanpa disadari seperti hedonism, pragmatism telah mengakar dikalangan masyarakat Indonesia.
          Lawan masyarakat Indonesia saat ini tidak hanya persoalan cerdas mempergunakan teknologi ataupun cerdas dalam mengakses informasi semata. Cerdas dalam memilih dan menentukan sikap merupakan salah satu langkah yang juga harus diperhatikan. Gaya hidup ala era globalisasi saat ini patut diwaspadai.
Disisi lain, tindakan waspada terhadap tiga lingkaran setan juga patut diantisipasi. Tiga lingkaran setan yang kapanpun bisa menjerat rakyat Indonesia sangat berbahaya. Seksualitas, NAPZA (Narkotika, psikotropika, dan zan adiktif lainnya), dan HIV/AIDS menjadi tiga lingkaran setan yang siapa saja bisa masuk jika tidak mampu mengendalikannya. Tindakan asusila yang kian marak ini, merupakan dampak seksualitas. Minimnya pengetahuan akan seks, menimbulkan sikap dan perilaku seks yang menyimpang.
           Hari kebangkitan Nasional ini harus menjadikan generasi muda bangkit dari segala macam kemanjaan yang ditawarkan oleh era globalisasi. Sikap waspada terhadap segala perubahan harus dipegang kukuh agar tidak terjerumus dalam lembah neraka dunia tentu saja diiringi dengan pemahaman agama yang kukuh. Terhadap anak-anak yang menjadi korban asusila, selayaknya kita memberikan dukungan, semangat, dan motivasi agar bangkit kembali menjadi generasi yang berkualitas. Segala keburukan dan kebobrokan bangsa Indonesia, hapus dengan sikap optimis kaum muda. Songsong hari esok untuk lebih baik, lebih berkualitas, dan lebih bermanfaat.

Selamat Hari Kebangkitan Nasional, Bangkit Terus Generasi Muda!!!!!



KKN Cihuiiiyyyy

oleh, Malikhah
            Genuk sebagai salah satu kelurahan yang ada di kecamatan Ungaran Barat menjadi tempat bernaungku selama 45 untuk melaksanakan tugas KKN (Kuliah Kerja Nyata). Yah, posko 19 menjadi posko aku dan kawan-kawan. Pertama kali survey ke kelurahan Genuk, sepintas terasa biasa saja, tidak ada yang istimewa.
            Panorama indah pengununganlah yang nampah wow kala itu. Genuk merupakan salah satu wilayah yang berada di kaki gunung Ungaran. Pantas saja keindahan gunung Ungaran juga bisa dinikmati dari posko kami. Masyarakat setempat mayoritas bermata pencaharian sebagai petani dan juga buruh pabrik.
            Masyarakat setempet tergolong telah maju dengan program berbagai pengembangan desa. Bahkan lebih maju dibandingkan dengan desa tempat aku lahir. Diakui atau tidak, Genuk yang terletak di samping kantor DPRD Jawa Tengah, termasuk desa metropolis. Dekat dengan beragam pabrik, kantor pemerintan, akses utama jalan menuju Solo Jogja.
            Tidak bermaksud membandingkan dengan desaku, karna aku rasa masing-masing desa memiliki keunikan dan keunggulan tersendiri. Hanya saja, aku pikir KKN di wilayah Genuk ini terasa amat sangat kurang maksimal. Masih banyak desa yang seharusnya dijamah untuk di KKN-i, KKN di Genuk terasa dipaksakan wilayahnya.
            Tak boleh berhenti dan pasrah dengan keadaan dong ya…
            Genuk termasuk desa yang mendapatkan kesempatan mengikuti lomba PHBS (Perlombaan Hari Bersih dan Sehat) tingkat provinsi. Ini jelas menunjukkan kalau Genuk memiliki potensi yang luar biasa. Beberapa potensi yang dimiliki diantaranya, masyarakat setempat di salah satu RW memanfaatkan plastic bekas untuk bahan ketrampilan. Di RW yang lain misalnya, para anggota keluarga membiasakan untuk budidaya tanaman obat keluarga (toga). Ada pula yang di RW nya mengembangkan usaha koperasi warga dan juga pengelolaan posyandu.
            Progresivitas masyarakat terlihat sangat bagus. Ibu-ibu dengan potensinya masing-masing berusaha menghidupkan potensi daerah Genuk, begitu pula dengan bapak-bapak di Genuk. Keberagaman dalam urusan keyakinan di Genuk juga patut diapresiasi. Masyarakat Genuk yang terdiri dari berbagai keyakinan, mampu hidup rukun dan saling bekerja sama.
            Sayangnya generasi muda di wilayah Genuk tidak menunjukkan progresivitas yang mumpuni. Meski terlihat kompak dibeberapa acara, namun kegiatannya masih kurang progress. Meski demikian, kekompakan remaja Genuk sangatlah erat.
            Tahu jika masyarakat Genuk telah maju dengan berbagai potensi, ini memberikan kesempatan emas untuk belajar banyak di desa Genuk.
            Inilah Poskoku
            Setiap kehidupan tentu memiliki cerita suka dan duka. Cerita suka sih banyak, dengan 15 orang dengan 15 karakter yang beragam dalam satu tim menjadikan posko semakin berwarna dan seru.
            Kordesnya tu Sukardiyanto, anak Ushuluddin, karna dia satu-satunya anak Ushuludin, akhirnya dia di bully dan dipaksa untuk jadi kordes (begitu cerita tragisnya)..hikhik… Lanjut… Sekdes alias sekretaris desanya aku dong ya.. Malikhah San.. Karna aku nggemesin jadinya aku juga ikut dibully dan dipaksa untuk jadi Sekdes. Karna aku dibully dan dipaksa, aku jarang banget ngerjain tugas-tugasku sebagai sekdes. Akhirnya aku dibantu oleh Malihatun Nisa. Dia ini selirnya sekdes nomor satu..wwkwkwk.. dia dari jurusan Bahasa Arab, orangnya pinter lo ya bahasa Arabnya.
            Lanjut, ada si Lulu yang hobi dibully sama temen-temennya. Dia ini selirnya pak kordes nomor dua. Saking seringnya dibully, dia jadi kayak bully pimpong…upzz,… orangnya cerewet sumpeh… gak pernah bisa diam, tidur pun masih bisa ngomong…wkwkwk
            Si kecil-kecil cabe rawit juga ada di posko 19. Dia selir pak Kordes nomor 3. Anaknya kecil, lucu, imut-imut.. tiap harinya ngajar anak SD, kalo liat orangnya lagi ngajaar, kamu gak bakalan bisa bedain mana gurunya mana muridnya..hewhewhew… ada juga Fidin yang jadi selirnya kordes no. 4. Fidin ini paling rajin kalo ngajara anak-anak TK. Suka nyanyi-nyanyi lagu-lagu anak TK gituh.. wawawa
            Poskoku ada Maliha lagi.. yah, dia selirnya kordes no. 5. Anaknya kecil tapi pinter dan pendiem. Kalo di kamar mandi, ya ambruk .. lamanya book… sampe sering tak dobrak-dobrak tu kamar mandi. Jahatnya aku ya..wkwkwkw…. ada juga Firoh yang biasa dipanggil teteh.. dia selirnya kordes no. 6.. kalo masak.. hot jreng jreng.. uenak .. hobinya di posko adalah PKK-nan sama ibu-ibu…hihihi
            Ada juga Ummu, selir kordes no. 7. Teh Ummu ini anak bahasa Inggris, pendiem, lucu, kalo malam pasti minum susu putih… katanya biar tulangnya kuat kayak baja.. hwhahahwhwa.. ngeweh… ada juga mbak Lala.. selir kordes no. 8 “buset.. kordes selirnya delapan bro”. Dia ini paling hobi liatin HP sama telpon-telponan.. biar hujan badai menerjang, dia tak kan peduli.. yang penting telpon dan liatin HP.. wkwkw..pisss
            Eh ada juga cowok-cowok kece lo ya. Sam … cowok yang bergaya ala korea (karna matanya sipit doing si jadi kayak orang korea).. cowok ini selalu dikejar-kejar adek-adek TPQ,, kalau Sam ngajar, mesti cewek2 pada histeris.. neriakin biar kak Sam cepet pulang..wkwkwk… ada Taja juga yang hobinya nongkrong.. nongkrong di WC maksudnya.. hexexexe.. dia cowok paling usil dan hobi nggombalin cewek-cewek posko.. makanya aku tiap hari bawa clurit-cluritan.. antisipasi kalo Taja nyebarin virus-virus cinta, biar aku pangkas pke clurit..ckckck
            Ada juga Jimmy, cowok sok cool dan seksi ini paling hobi ninggalin posko… maklum lah, diusianya yang semakin senja dia harus mencari nafkah untuk keluarganya… jadi apapun yang terjadi, pokoe kerjo..hihihi… Juli..anak Pati ini kalo ngomong mesti dan wajib diedit dulu.. kalo enggak, bakalan bikin perut rusak karna gara-gara ketawa terus.. wkwkkw
            Nastain, tetua di posko ini… orangya juga hobi ninggalin posko.. karna usianya juga sudah beranjak senja.. sama deh kayak Jimmy.. harus kerja.. weehehehehe
Program kerja unggulan posko di Genuk menjadi mudah dilakukan, kerena kesemuanya telah ada di Genuk. Misalnya penanaman Toga, perbaikan jalan, donor darah, penyuluhan pola hidup bersih dan sehat. Hanya saja, aku dan kawan-kawan membuat program terobosan yang memang belum ada. Misalnya, kami membuat rumah belajar untuk anak-anak di Genuk, rumah Baca Al Quran, pembuatan ketrampilan dari flannel dan sedotan, serta senam anak sehat setiap akhir pekan.
            Alhamdulillah, meskipun masyarakat Genuk telah maju dengan pemikiran dan program daerahnya, namun masyarakat tidak menutup diri dari kawan-kawan KKN. Masyarakat setempat sangat terbuka untuk saling berbagi pengalaman dan bertukar pikiran.  
            Pengalaman berharga ini menjadi bekal penting untukku dan kawan-kawanku yang lain. Kelak, pasti akan sangat bermanfaat bagiku ketika telah benar-benar terjun di masyarakat tempatku lahir. Dan kelak, akan ku ceritakan kepada anak cucuku bahwa Genuk seisinya telah banyak memberikan ilmu yang bermanfaat bagiku.


                                                                                                            Genuk, 06/05/2014
                                                                                                            01.46 dinihari

Maha Dahsyatnya Pendidikan


Oleh, Malikhah*
Pendidikan. Siapa yang tak mengenalnya. Siapa pula yang tak pernah mengenyamnya. Siapapun orangnya, pasti mengalami proses pendidikan. Pendidikan tidak terbatas ruang dan waktu, begitupun persoalan pelaku. Bayi yang belum lahirpun, sudah mendapatkan pendidikan. Yah, pendidikan prenatal telah dialami bayi saat dalam kandungan. Betapa maha dahsyatnya pendidikan, hingga terkadang kita lupa dan tidak sadar bahwa kita telah mengenyam pendidikan.
Sejatinya pendidikan tidak sebatas sekolah formal seperti yang kita lihat pada umumnya. Jika pendidikan diartikan layaknya sekolah-sekolah formal itu, maka kita telah terjebak dengan adanya simbol-simbol dalam pendidikan. Penulis berpendapat bahwa sekolah formal yang ada di Indonesia itu merupakan salah satu simbol pendidikan. Itupun masih dalam lingkup sangat kecil. Sedangkan pendidikan memiliki ruh dan juga makna yang begitu luas.
Plato mengungkapkan bahwa pendidikan haruslah membuat manusia menjadi good and smart. Artinya, menjadikan manusia sebagai manusia yang baik dan pintar, cerdas menjadi tujuan dalam sebuah pendidikan. Keduanya merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan, manusia tidak cukup menjadi manusia yang baik saja, namun juga smart,begitu sebaliknya. Kedua hal tersebut haruslah beriringan.
Perkembangan Pendidikan
Pendidikan yang kini menjelma menjadi berbagai bentuk, membuat simbol-simbol pendidikan menjadi lebih jelas. Pendidikan formal, informal, maupun pendidikan non formal telah berkembang begitu pesat. Sekolah sebagai salah satu simbol dalam pendidikan, saat ini tidak seperti sekolah dahulu. Sekolah tidak cukup dilakukan disebuah gedung dengan kelas-kelas yang berjajar rapi, lebih dari itu, lingkungan diluar gedung-gedung mampu dijadikan tempat belajar. Yah, kita pasti mengenal Paulo Freire. Tokoh pendidikan pembebasan ini telah menginspirasi berbagai kalangan dengan pemikirannya. Freire yang menawarkan pendidikan yang membebaskan, tidak terikat dengan simbol-simbol seperti ruang, waktu, mata pelajaran, maupun seragam yang digunakan. Freire menunjukkan bahwa pendidikan mencakup berbagai aspek yang sangat luas.
Di Indonesia banyak kita lihat lembaga pendidikan yang terinspirasi dari pemikiran Freire. Pasti kita tidak asing lagi dengan adanya homeschooling Kak Seto ataupun sekolah alam Qorriyah Toyyibah di Salatiga. Lembaga ini tidak terikat dengan sistem yang ada dalam sekolah-sekolah formal pada umumnya.
Meskipun perkembangan pendidikan melalui lembaganya berkembang begitu pesat, kita sebagai pelaku pendidikan jangan sampai terjebak dalam formalitas sebuah pendidikan. Adanya perubahan perilaku seseorang menjadi good and smart merupakan hakekat sebuah pendidikan. Sehingga pendidikan memiliki makna yang sangat luas dan dapat dilakukan dengan beragam cara sehingga menjadikan manusia-manusia yang good and smart.
Kritik pendidikan formal yang tidak membebaskan bagi sebagian anak menjadikan pendidikan formal kita patut berbenah dengan segala sistem yang ditawarkan. Salah satu tawaran dengan adanya pendidikan berbasis kebutuhan anak dengan berpijak pada local living conteks (konteks kehidupan lokal) akan membuat anak bebas dalam belajar sesuai dengan kebutuhan anak. Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan terlebih sesuai dengan kebutuhan anak akan mampu menciptakan pendidikan yang membebaskan.
Dalam peringatan hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada hari Jumat (2/5/2014) ini, sebagai insan pendidikan jelas berharap pendidikan mampu menjadikan setiap orang berubah menjadi lebih baik. Anak bangsa sudah pasti mendapatkan pendidikan setiap harinya, meskipun tidak mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah formal. Pengetahuan akan luasnya makna dan dan implementasi sebuah pendidikan haruslah ditanamkan dalam mindset masyarakat. Sehingga masyarakat tidak terjebak dalam makna dan implementasi pendidikan yang hanya disimbolkan dengan adanya sekolah-sekolah formal.

                                    *Pimpinan Umum LPM Edukasi dan Pasukan SRIKANDI



 
MALIKHAH SAN © 2012 | Edited Designed by Kurungan Celotehan