Meski mendapat perlawanan keras, baik dari para orang tua, murid, maupun steakholder lain, namun ujian nasional (UN) tetap dilaksanakan. Bahkan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) berencana menjadikan nilai UN tingkat SMA pada 2012 sebagai salah satu kriteria masuk PTN jika kredibel. Hal tersebut disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005. Meskipun demikian, harusnya kebijakan tersebut perlu dipertimbangkan kembali.
Orientasi pelaksanaan UN dan seleksi masuk perguruan tinggi negeri (SMPTN) berbeda. UN yang dilaksanakan untuk mengevaluasi hasil belajar selama tiga tahun. Sedang SMPTN bertujuan untuk menjaring mahasiswa baru yang cocok dengan perguruan tinggi tersebut, dengan menggunakan tes multiobjektif yang saling menyatu. Apalagi dalam pelaksanaan UN dan SMPTN sering kali ditemukan berbagai kecurangan. Aksi perjokian, jual beli soal sering kali dilakukan untuk mendapatkan nilai maksimal.
Memang pada dasarnya, belajar merupakan pekerjaan yang cukup berat yang menuntut sikap kritis-sistematik (systematic critical attitude). Akan tetapi, esensi belajar tersebut akan semakin luntur jika nantinya evaluasi yang dilakukan hanya memprioritaskan pada aspek nilai. Belajar sudah tidak menjadi sebuah kebutuhan, tapi tuntutan. Siswa akan melakukan apapun untuk mendapatkan nilai yang terbaik.
Vonis negara terhadap siswa yang menuntut untuk mendapatkan nilai sesuai standar kelulusan membuat anak tertekan bahkan mengalami depresi. Seharusnya pendidikan berbasis kebutuhan anak dengan berpijak pada local living conteks (konteks kehidupan lokal) akan membuat anak bebas dalam belajar sesuai dengan kebutuhan anak. Merefensikan juga konsep pendidikan yang digagas oleh Paulo Freire dengan pijakan liberated humanity (manusia yang terbebaskan) menjadi hal yang memang ideal untuk diterapkan dalam pendidikan di Indonesia. Sehingga pendidikan di Indonesia tidak menjadi tekanan untuk siswa, dan mengakibatkan trauma mendalam yang disebabkan ketidaklulusan siswa. Karena ketakutan siswa dalam menghadapi UN sangat tinggi, bahkan banyak terjadi kasus bunuh diri karena frustasi menghadapi UN. Jika tujuan awal dari pendidikan nasional adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, seharusnya Indonesia tidak boleh menvonis siswa dengan tuntutan nilai yang dijadikan patokan. Apalagi mengharuskan siswa mencapai standar kelulusan, sehingga akan berdampak negatif terhadap psikologi anak.
A SIMPLE BLOG OF AN ORDINARY GIRL WHICH HAPPEN AROUND YOU
UN, Pendidikan Tidak Membebaskan
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
LABEL BLOG
TULISAN TERLARIS
-
Oleh, Malikhah Panorama indah air terjun diiringi gemercik air mampu membius wisatawan. Curug sewu, agro wisata yang menyuguhkan kein...
-
Oleh, Dhek Cha_Cha Sayangnya, air matamu enggan kau cucurkan untuk malapetaka ini Hingga kini, entah kau letakkan hatimu dimana Enta...
-
Hey guys, lama banget aku tidak post tulisan rubric apapun. Bukan karena sibuk ngurus anak, ngurus sumi, atau sibuk kerja, emang akuny...
-
SUKSES DARI SEGALA ASPEK Sukses adalah sebuah perjalanan, dan bukanlah tujuan akhir dari proses perjuangan hidup. Hal itulah yang patut kit...
-
Upacara wisuda menjadi agenda tiap tahun yang dilaksanakan oleh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Agenda ...
-
MENGGUGAT MAKNA PUASA Bulan yang penuh keberkahan, bulan spesial yang hanya datang satu kali dalam setahun sebentar lagi akan tiba. Semua ...
-
Oleh, Cha Inilah wanita dari dua ribu malam Wanita yang terlahir dari seperempat kandungan ibu Wanita yang hidup dalam dua pu...
-
Semarang-(9/3) Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (BEM FP MIPA) mengunjungi Badan Ekseku...
-
Oleh, Malikhah* Menjadi keluarga bahagia dan sejahtera tentu menjadi dambaan setiap keluarga Indonesia. Bahagia dan sejahtera akan ...
© 2020 - MALIKHAH SAN



0 komentar:
Post a Comment